Senin, 21 Juli 2014

RIWAYAT HIDUP DAN KARYA AUGUST FRIEDERICH ALBERT HARDELAND

RIWAYAT HIDUP DAN KARYA
AUGUST FRIEDERICH  ALBERT  HARDELAND

(Oleh: Dr. A.H. Klokke)


August Friederich  Albert  Hardeland (30 September 1814-27 Juni 1891) atau Hardeland adalah seorang Pekabar Injil (Missionaris) yang diutus oleh Rheinische Missionsgesellschaft  [Lembaga Pekabaran Injil di Jerman] untuk bekerja di Kalimantan sejak tahun 1841 hingga 1856.  Hardeland [bukan Kaderland] sama sekali bukan seorang Antropolog apalagi Sosiolog, serta  ia orang Jerman bukan orang Belanda seperti yang dituding beberapa penulis Indonesia (lihat Yekti Maunati, 2004: 60).  Lahir pada tanggal 30 September 1814 di Hannover-Jerman.  Pada umur 18 tahun masuk ke Sekolah Tehnik.  Karena gelisah secara spritual, sebelum tamat ia keluar sekolah dan belajar filsafat secara otodidak. sendiri dengan membaca buku-buku filsafat.  Ketika masih bekerja sebagai  guru-bantu, ia mengalami pertobatan dan pada tahun 1837 masuk Sekolah Missionaris.

 Sebagaimana tradisi seminari pada waktu itu, August Hardeland dan juga murid-murid lainnya, diharuskan menulis karangan  tentang pertobatan rohaninya.  Sampai sekarang, karangan itu masih tersimpan dalam Arsip United Evangelical Mission di Wuppertal-Jerman  yang bunyi sebagai berikut:
“Saya dilahirkan pada tahun 1814, di satu negara yang untuk sekian waktu  penduduknya hidup tanpa pengenalan akan Kristus yang adalah   satu-satunya  Juruslamat Yang Hidup.  Karena itu, sampai berumur 21 tahun, saya juga hidup tanpa Tuhan dan melakukan bermacam-macam dosa.
Namun Tuhan Yang Maha Pengasih dalam rahmat-Nya telah mengatur segalanya, sehingga saya boleh mengenal Dia serta menyadari keadaan saya yang sangat berdosa  dan kesadaran itu memuramkan hati saya.  Melalui perantaraan seorang  petobat baru dan juga Firman Tuhan serta Roh Kudus, kemudian Tuhan  menyatakan kepada saya bahwa Kristus adalah Juruslamat saya, yang datang untuk mengarahkan saya kepada kearifan, keadilan, kesembuhan dan pembebasan dari dosa.

Tak lama setelah bertobat, saya mulai membaca ceritera-ceritera tentang Pekabaran Injil di negara-negara Timur.  Ceritera-ceritera itu  membuat saya merasa  terpanggil  untuk menyebarkan agama Kristen di negara-negara Timur.  Setengah tahun setelah panggilan itu, saya  memberitahukannya kepada   Perhimpunan Missi di Hannover   dan satu tahun setelah panggilan itu saya juga memberitahukannya kepada Perhimpunan Missi di Barmen.   
Pada waktu Paska 1837, saya datang ke Barmen.  Setelah sementara waktu  bekerja sebagai guru-bantu, pada tanggal 7 Oktober 1837 saya diterima di asrama  Sekolah Missi di Barmen.”

 Maka sejak tahun 1837, Hardeland belajar di Sekolah Misi Barmen dan lulus ujian pada tanggal 11 Juni 1839.  Setelah tamat dari Sekolah Misi Barmen, dengan penuh sukacita ia menulis:

“Sekarang aku bertekad untuk diutus sebagai Pekabar Injil ke daerah orang yang belum percaya.  Aku sadar dan aku percaya dengan sepenuh hati, bahwa Tuhanku akan menyertai aku dan tinggal bersamaku.”

Masih pada tahun 1839, Hardeland berangkat ke Indonesia dengan kapal layar melalui Afrika Selatan.  Setibanya  di Batavia pada bulan Januari 1840, Hardeland harus kecewa karena tidak dapat meneruskan perjalanannya ke Kalimantan karena pemerintah Belanda pada waktu itu tidak memberi izin untuk pergi ke Kalimantan, yang pada waktu itu  masih di luar kekuasaan langsung Pemerintah Belanda.

Sementara menunggu izin pergi dari Pemerintah Belanda, Hardeland  belajar bahasa Melayu dengan misionaris  Medhurst di Batavia dan Depok.  Di Depok, yang sejak abad 18  sudah ada Jemaat Kristen, Hardeland bertemu dengan Sarah Hulk yang kemudian menjadi istrinya.

Bersama dengan istrinya: Sarah Hulk, pada tahun 1841 Hardeland tiba di Banjarmasin-Kalimantan Selatan.  Satu tahun kemudian, mereka pergi ke daerah pedalaman Kalimantan Tengah.  Untuk sementara waktu mereka ke desa Gohong di daerah sungai Kahayan dan kemudian ke pusat misi di Poelopétak [Pulau Petak di daerah sungai Kapuas Murung] di mana misionaris Becker sudah lama bekerja. 

Di Poelopétak,  Becker telah mengumpulkan kata-kata Dayak Ngaju dan menyusunnya sesuai urutan abjad.  Setelah merasa sudah mampu menguasai bahasa Dayak Ngaju, pada tahun 1844 Becker dan Hardeland serta 3 orang informan Dayak Ngaju yaitu Akoe, Andréas dan Timothéoeus Marat, mulai menterjemahkan Kitab Perjanjian Baru. 

Dalam pekerjaan penterjemahan itu, Becker meneruskan pekerjaannya dalam menyusun Kamus Belanda-Dayak sedangkan Hardeland menyusun Kamus Dayak-Belanda.  Kamus Dayak-Belanda yang disusun oleh Hardeland itu sekarang tersimpan Perpustakaan Universitas Leiden-Belanda. 

Kesehatan Hardeland tidak begitu baik.  Kadang-kadang ia jatuh sakit dan untuk penyembuhan ia  harus cuti sakit  yang dilewatinya di Kaapstad-Afrika Selatan.  Walaupun demikian, ia tidak pernah menghentikan pekerjaanya menterjemah Kitab Perjanjian Baru.  Sebagai hasil kerja di Kaapstad, pada tahun 1846  telah dicetak Kitab Perjanjian Baru dalam bahasa Dayak Ngaju.

Pada tahun 1850, bersama dengan istrinya, Hardeland kembali lagi ke Kalimantan dan ia memilih Palingkau sebagai tempatnya bekerja.  Dalam surat-menyurat dengan Lembaga Alkitab di Belanda yang menjadi lembaga pengutus untuk kedatangannya untuk kali kedua ke Kalimantan, Hardeland dengan penuh kegembiraan melaporkan mengenai meningkatnya jumlah anak-anak sekolah dasar di daerah pedalaman seiring dengan bertambahnya jumlah sekolah.

Pada tahun 1851, pemerintah Belanda di Batavia meminta Hardeland untuk meneruskan pekerjaannya menyusun Kamus Bahasa Dayak Ngaju.  Lembaga Alkitab Belanda yang kini sebagai lembaga pengutusnya yang baru, memberinya izin untuk pekerjaan yang sebetulnya menyimpang dari  tugas utamanya yaitu menterjemahkan Injil yang mana harus menjadi tugasnya terpentingnya. 

Walaupun mendapat peringatan dari Lembaga Alkitab Belanda, Hardeland mengerahkan seluruh tenaganya  untuk menyusun kamus itu.  Dalam korespondensi dengan Lembaga Alkitab Belanda yang sekarang menjadi lembaga pengutusnya, Hardeland banyak bercerita tentang adat-istiadat, keseharian hidup orang Dayak Ngaju, perumahan, pencaharian, cara menanam padi yang begitu teliti dan rinci.  Sedemikian telitinya, sampai nama-nama ikan, burung, dan pepohonan, ia masukkan ke dalam suratnya.  Kendatipun begitu, masih dibantu oleh para informan Dayak Ngaju yang semula, ia tetap bertekad untuk menterjemahkan Kitab Perjanjian Lama.  Sehubungan dengan informan Dayak Ngaju yang menjadi teman sekerjanya, dalam korespondensinya, Hardeland memuji Timothéoeus Marat dengan kata-kata:

Kebenaran ilahi  ternyata mempengaruhi hati Timotheus, sehingga ia dapat membedakan secara rohani sesuatu  yang sifatnya  agamawi.”

Pada tahun 1855, Hardeland selesai menterjemahkan seluruh Kitab Perjanjian Lama. Pada tahun yang sama ia mulai mengumpulkan bahan-bahan mengenai upacara Tiwah dari nyanyian ritual para Balian, yaitu imam-imam dalam agama Dayak Ngaju, dengan judul Augh Olo Balian Hapa Tiwa (Perkataan-perkataan Balian yang dipakai untuk Tiwah). Karangan ini banyak memakai bahasa-bahasa ritual para imam agama Dayak Ngaju, yang dinamai bahasa Sangiang. Karangan ini diterbitan sebagai lampiran buku Tata Bahasa Dayak Ngaju. Suatu pekerjaan yang sukar, yang sebetulnya dikerjakan oleh seorang ahli bahasa (linguist), suatu pendidikan yang tidak pernah ditempuh oleh Hardeland. Buku tata bahasa dan upacara tiwah itu, pada tahun 1858 diterbitkan di Amsterdam dengan judul Versuch einer Grammatik der Dajackschen Sprache.

Patut dicatat bahwa, Hardeland merupakan penterjemah Alkitab pertama yang memperhatikan penjiwaan dalam bahasa-bahasa yang dipakai dalam upacara keagamaan. Bagi Hardeland teks-teks keagamaan yang dipakai dalam upacara Tiwah itu tidak boleh diabaikan seakan-akan tidak mempunyai nilai budaya.

Masalah ketepatan bahasa juga menjadi perhatian utama Hardeland ketika akan merevisi seluruh Alkitab dalam bahasa Dayak Ngaju yang akan diterbitkan pada tahun 1858. Ia melihat bahwa kerja-sama bertahun-tahun dengan para informan Dayak Ngaju, yang telah mendapat pendidikan di sekolah missi dan bergaul rapat dengan pendeta-pendeta Barat, sangatlah tidak menguntungkan. Pengalaman mereka selama sekolah dan bergaul dengan para pendeta Barat membuat struktur bahasa Dayak Ngaju yang mereka miliki berlainan dengan struktur bahasa Dayak Ngaju yang sebenarnya. Kenyataan ini membuat Hardeland sadar dan merintis cara baru untuk menghasilkan satu terjemahan yang tepat, yaitu dengan mencari dan bekerjasama dengan orang-orang Dayak Ngaju yang belum sekolah dan masih menganut agama nenek moyang. Ia memilih 12 orang Dayak Ngaju dari daerah Poelaupetak dan sekitarnya. Kepada mereka dibaca bab demi bab , kalimat demi kalimat dari Alkitab. Berdasarkan pada reaksi yang mereka berikan - jelas tidaknya kata-kata yang dibacakan- Hardeland merevisi seluruh Alkitab (Surat Barasih). Metoda yang dirintis oleh Hardeland itu kemudian hari diikuti oleh penterjemah-penterjemah Alkitab yang lain.

Pada waktu buku Tata Bahasa Dayak Ngaju dan Revisi Alkitab terbit, Hardeland masih berada di Europa.  Pada tahun 1859 terbit  karya agung-nya: Kamus Bahasa Dayak Ngaju-Jerman.  Masih pada tahun 1859, Hardeland  dianugerahi gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) atas jasanya menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Dayak Ngaju yang memungkinkan Pekabaran Injil di pulau Kalimantan.


Penutup
Dalam dunia ilmiah, secara khusus dalam bidang Ilmu Bahasa, Kamus Dayak Ngaju-Jerman yang disusun oleh Hardeland masih tidak ada tandingannya.  Buku ini  bukan sekedar kamus Dayak Ngaju tetapi juga sekaligus merupakan ensiklopedia Dayak Ngaju karena  sarat dengan informasi mengenai adat, agama dan kebudayaan Dayak Ngaju, serta mengenai kata-kata Dayak Ngaju yang sekarang ini telah hilang  dan tidak pernah diucapkan lagi oleh orang Dayak Ngaju sendiri.
           
Sayang sekali, karena mendapat tempat tugas baru di Afrika Selatan, Hardeland tidak pernah lagi kembali ke Kalimantan., sehingga ia tidak dapat menyaksikan secara langsung bagaimana orang Dayak Ngaju mempergunakan Alkitab yang telah ia terjemahkan itu,

Umurnya belum mencapai 77 tahun ketika ia meninggal dunia pada tahun 1891. ***





Ditulis oleh Prof. Dr. A.H. Klokke, mantan dokter misionaris di Kalimantan-Tengah pada tahun 1949-1959, berdasarkan keterangan dari United Evangelical Mission di Wuppertal dan berdasarkan naskah yang ditulis oleh Dr. J.L. Swellengrebel pada tahun 1974.  Dalam mempersiapkan tulisan ini saya dibantu oleh  koreksi-koreksi dan editorial  yang dilakukan oleh Marko Mahin yang sedang belajar di Leiden University.

TEISME KEPARAT


TEISME  KEPARAT

(Oleh : Marko Mahin)

Ada sesuatu yang sangat keji dalam otak kita.  Kita senang melihat orang lain tidak sama dengan kita.  Kita gembira dan merasa diri sangat istimewa ketika orang lain  tidak memiliki sesuatu yang kita miliki.  Kita bahagia dan bangga dengan kepemilikan sekaligus keberbedaan itu. Jahatnya, kita menghendaki orang lain itu sengsara dan tidak bahagia karena berbeda dari kita dan tidak memiliki apa yang kita miliki.

Kita ingin mendominasi sesuatu yang khusus, istimewa dan spesial. Kita merasa diri tidak lagi khusus atau spesial kalau sama dengan orang lain.  Karena itu yang dikejar adalah kekhususan atau keistimewaan, sehingga berbeda sama sekali bahkan bertentangan dengan yang tidak khusus dan tidak istimewa. Dengan demikian,  kita merasa diri lebih, sementara yang lain kurang.

Cara berpikir demikian menggiring seseorang untuk melokalisir diri untuk terpisah dan berbeda dari yang lain. Batas dan jarak  pun dibangun, perbedaan atau ketidaksamaan pun  ditonjolkan. Secara sengaja, bahkan terencana, kita mengasingkan diri untuk tidak sama dan berbeda dari yang lain yaitu dengan   mengutamakan ketidaksamaan, misalnya  dalam  pengucapan salam, bahasa, makanan, busana, tahun baru, bahkan ketidaksamaan nama Tuhan atau Allah yang disembah.

Saat ketidaksamaan dikokohkan agar ada kekhususan, maka terciptalah sang liyan (the others) yaitu orang-orang yang dengan sengaja dilainkan, dieksklusi, dikeluarkan dari keberadaan yang khusus dan istimewa itu. Proses peng-liyan-an (otherizing) itu tidak hanya menghasilkan kelompok lain yang berada di luar kelompok saya (outsiders), tetapi juga melahirkan kelompok lain yang berbeda dan lebih rendah derajatnya dari kelompok saya, yaitu kaum kafir, jahat, sesat, terkutuk, kotor, najis dan menjijikan.


Memenjarakan  Allah

Konsepsi tentang Allah atau Tuhan merupakan salah satu  hal yang dapat memicu kita merasa  istimewa, khusus, atau spesial.  Konsepsi  ini dapat membuat kita merasakan dan membayangkan  bahwa Tuhan itu seagama dengan kita. Ia hanya hadir dalam rumah ibadah kita dan tidak hadir di rumah ibadah agama-agama lain.  Ia hanya milik kita, milik agama kita.  Perasaan itu membuat kita tidak rela  jika Ia juga menjadi milik bersama pihak lain, apalagi milik dan bersama sang liyan.



Karena tidak sudi kalau Allah kita sama dengan allah kamu liyan, maka  kita memonopoli Allah.  Allah disekap dalam kerangkeng agama kita. Sehingga Allah tidak lagi menjadi pusat, jantung, sumber dan tujuan semua agama.  Ia hanya menjadi milik kita, bukan milik agama-agama dan kepercayaan-kepercayaan lain.

Ironisnya dengan menyatakan Allah kita berbeda dari allah kaum liyan, kita  merasa diri kita sangat beriman dan sangat saleh.  Kita menganggap itu adalah tindakan suci yaitu meng-esa-kan Tuhan, tidak men-dua-kan Tuhan, tidak membuat Tuhan cemburu. Kita membayangkan Allah itu tersenyum bahagia atas perbuatan kita itu.  

Akibat dari pandangan itu adalah semua liyan dilihat sebagai kaum kafir tidak ber-Tuhan.  Karena tidak ber-Tuhan maka berarti mereka tidak beragama. Karena tidak beragama maka mereka sah dan boleh menjadi sasaran penyebaran agama. Dengan demikian, agama-agama lain dilihat sebagai musuh,  bukan kawan seperjalanan menuju Tuhan.  Karena tidak memiliki Allah yang sama maka tidak mungkin ada doa bersama.  Bahkan seseorang merasa murtad, sesat dan berkhianat kalau hadir dalam ibadah agama lain atau ikut merayakan hari besar agama lain.

Ada semacam kesenangan sadis dalam sikap beragama kita yaitu diam-diam kita senang  dengan keberadaan kaum liyan yang kita anggap tidak ber-Allah, tidak ber-Tuhan.  Kita riang dan bersorak kalau mereka menderita, tidak bahagia dan binasa karena tidak mempunyai Allah.  Keberadaan mereka mempertegas keberadaan kita yang adalah putih, bersih, suci, murni dan terpilih.  Keberadaan mereka membuat seseorang merasa bahagia, diberkati dan masuk sorga kalau bisa menista, menzalimi, menyakiti, menindas, menganiaya dan menumpas orang-orang yang tidak seagama dengannya.

Inilah pendekatan dikotomis dalam beragama yang melahirkan oposisi biner yaitu dua kutub atau pasangan konsep yang saling berlawanan untuk bertolak-belakang. Dengan pola yang demikian maka relasi antara agama bukanlah relasi damai, tetapi hierarki yang kejam. Dalam pola yang demikian terbangun relasi kekuasaan yang satu mensubordinasi yang lain, atau yang satu dilihat lebih superior dari yang lain. Sehingga terjadilah pemetaan yang semena-mena tentang yang baik dan buruk, hitam dan putih, benar dan tidak benar, yang asli dan yang palsu, yang berasal dari Tuhan dan tidak berasal dari Tuhan. Bahkan ter-peta-kan apakah seseorang itu masuk sorga atau masuk neraka.



Teisme Keparat

Teisme yaitu konsepsi yang dibuat manusia mengenai siapa Allah,  memang dapat menjadi semacam “senjata psikologis” yang sengaja diciptakan bagi upaya-upaya konversi dan proselitasi. Cara kerja teisme keparat ini adalah dengan memonopoli Tuhan yaitu mengurung Tuhan dalam penjara agamanya sendiri. Setelah itu,  memuliakan agama sendiri dan menista agama orang lain sebagai agama palsu dengan allah yang palsu pula. Teisme ini dipakai untuk menghadirkan perasaan inferior, rendah dan  hina-dina pada orang yang beragama lain.  Pada sisi lain, dipakai untuk menanamkan perasaan superior, terkemuka dan mulia untuk internal agama sendiri.

Inilah mesin sosial untuk membuat manusia terasing dan terpisah untuk  kemudian saling bermusuhan satu dengan yang lain. Teisme ini menghasilkan segregasi sosial yaitu pemilahan sosial berdasarkan pada ciri-ciri dasar yang berbeda atau yang dianggap berbeda atau sengaja membuat beda, baik dalam arti fisikal maupun kultural.  Kemudian perbedaan itu, ditempatkan dalam satuan-satuan sosial yang berlawanan dengan satuan sosial lainnya. Corak dari segregasi sosial adalah timbulnya anggapan bahkan pandangan: in group melawan out group; kami melawan mereka; aku melawan dia. Dalam kondisi seperti ini, nilai-nilai dari hubungan kemanusiaan dipersempit menjadi hubungan kepentingan, bahkan hubungan persekongkolan.


Teisme senacam ini biasanya marak dalam ranah perebutan kekuasaan. Ini adalah “politik agama”.  Allah sebagai modal simbolik dimonopoli untuk meningkatkan daya jual-beli politis. Namun tindakan memonopoli Allah merupakan perbuatan nista, karena menjadikan Allah sebagai sumber kebencian dan  kemarahan religius  yang meningkatkan penderitaan umat manusia. Teisme ini melahirkan praktik sosial yang mengkerdilkan kemanusiaan karena membenarkan penaklukan dan kekerasan atas manusia yang beragama dan berkebudayaan lain.


Tindakan meng-esa-kan Tuhan mestinya dengan membiarkan Tuhan sebagai satu-satunya tujuan, pusat, sumber dari semua agama.  Hal itu tercermin dalam tindakan menghormati manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan dan yang senantiasa dicintai Tuhan, bukan dengan menciptakan mahluk ilahi yang kejam pada manusia agama tertentu.  Mestinya kita waspada dan meninggalkan perbuatan nista itu karena telah menjadikan Allah sebagai sumber ketidak-setaraan, propaganda perang dan persemaian bibit kebencian.  Bunuhlah tuhan yang melahirkan penderitaan. Buanglah allah yang membuat kita susah.  [MM].

Catatan: Bahan Diskusi dalam acara SEMINAR REGIONALEksistensi Agama Dalam Berbangsa dan BernegaraHotel Aqurius Palangka Raya, 18 Juli 2014. Diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (STAHN  Tampung Penyang)


Rabu, 02 Juli 2014

SUSTER MARGRIT BEUTLER

SUSTER MARGRIT BEUTLER


Ia masih muda-belia ketika menginjakkan kakinya di Tanah Borneo.  Nona Margrit Beutler, demikian ia dipanggil pada tahun 40-an ketika aktif mengajar Kursus Kepandaian Putri di Tumbang Bunut dan Mandomai. Tugas utamanya  adalah mengadakan  Kursus Kebidanan dan Konsultasi Kehamilan.  Ia dengan tekun mengajarkan para perempuan Dayak bagaimana memelihara bayi, bagaimana hidup sehat, dan kecakapan-kecakapan serta pengetahuan rumah tangga lainnya.


Tidak banyak orang tahu mengenai kerja dan karyanya. Tahun 2002 ketika bertemu,  ia masih fasih dengan bahasa Dayak Ngaju.  Bahasa Dayak Ngaju yang sangat baik sekali dan halus.  Sampai aku sendiri, yang adalah orang Dayak Ngaju, sangat malu dengan bahasa Dayak Ngaju saya yang tergolong “kasar”  atau “pasaran” dibandingkan bahasa Dayak Ngaju beliau.  Kota Basel yang dingin menjadi hangat ketika kami berbicara dalam bahasa Dayak Ngaju.  Dengan sangat jernih ia menuturkan kegiatannya pekerjaannya di Mandomai.  Ia sangat senang mendengar bahwa aku dari Sei Kayu. Ia bercerita bahwa senantiasa melewati kampung kelahiranku itu kalau bepergian naik kelotok ke Kapuas untuk kemudian ke Banjarmasin. 


Aku terkagum mendengar ceritera beliau bagaimana mendidik para perempuan Dayak agar pintar dan harati.  Pada waktu itu ia bercerita tentang beberapa keluarga angkatnya yang masih ada di Puruk Cahu dan bagaimana ia di kemudian hari lebih banyak bekerja di Puruk Cahu.   Aku tidak tahu siapa keluarga angkat beliau ini.  Namun yang aku tahu salah satu murid beliau yang masih hidup dan sekarang berada di Puruk Cahu adalah Indu Sigar  ibunda dari Bupati Perdie M. Yoseph  dan Willy M. Yoseph.  Pekerjaan beliau berdampak hingga kini.  Indu Sigar berhasil mendidik anak-anaknya untuk menjadi orang penting dan pemimpin di Murung Raya dan Kalimantan Tengah. Salah seorang murid beliau adalah Indu Yanson istri dari Pdt. E. Massal.  Ia banyak bercerita tentang muridnya ini. 


Tanggal 22 Juni 2014 di kota Basel-Swiss, Suster Margrit Beutler telah meninggal dalam usia 92 tahun.  Perempuan Swiss yang mahir berbahasa Dayak Ngaju ini telah pergi.  Ia meninggalkan banyak hal bagi perempuan Dayak di Kalimantan Tengah.  Tambi Margrit,  keleh haguet dengan kasanang, manintu lewu salamat te. 

Kamis, 09 Januari 2014

IDENTITAS SOSIAL DAYAK KALIMANTAN TENGAH

Identitas Sosial Dayak Kalimantan Tengah

Oleh:  Marko Mahin




Pada masa kini,  Dayak adalah nama generik penduduk pribumi Kalimantan.  Dayak merupakan identitas dan entitas sosial yang berbeda dari Melayu, Jawa, Banjar, Manado atau Batak. Pada masa lalu, Dayak artinya sama  dengan  orang  buas, liar, primitif, pemenggal kepala, kanibal,  kafir atau  tidak beragama, bodoh, dan berekor seperti monyet. Pada masa lalu, Dayak adalah hinaan dan ejekan. Namun bagaimanakah istilah ini muncul?  Siapa yang memunculkannya? Bagaimana nama ini bisa menjadi identitas suku pribumi Kalimantan?  Sebagai penanda sosial, identitas ini tidaklah jatuh dari langit atau ada begitu saja dengan sendirinya.  Studi ilmiah yang cermat memperlihatkan bahwa identitas Dayak adalah hasil dari proses sosial-budaya dalam rentang sejarah yang panjang.  


Proses Penamaan

Dalam  literatur  yang  terakses,  kata ”Dayak”  pertama kali muncul pada tahun 1757 dalam tulisan  J. A. van Hohendorff   yang berjudul “Radicale Beschrijving van Banjermassing” yang dipakai untuk menyebut “orang-orang liar di pegunungan” (1862: 188). Tampaknya, kata ini dipungutnya begitu saja dari cara orang-orang  Melayu pantai menyebut orang pedalaman.  J. A. Crawfurd dalam bukunya yang berjudul “A Decriptive Dictionary of The Indian Islands and Adjacent Cauntries”(1856: 127) menyatakan bahwa istilah “Dyak” digunakan oleh orang-orang Melayu  untuk menunjukan “ras liar” yang tinggal di Sumatra, Sulawesi dan terutama di Kalimantan. 

Beberapa penulis menyatakan istilah Dayak kemungkinan berasal dari bahasa Melayu “aya” yang artinya penduduk pedalaman (boven beteekent) atau penduduk asli (native) (Adriani 1912: 2, Schärer 1946/1963:1, King 1993:30).  Penamaan ini terus dipakai hingga kini seperti yang dilaporkan oleh   Tania Li (dalam Harwell, 2000: 25) bahwa pada masa kini  dalam administrasi  resmi pemerintahan di Sulawesi tetap menggunakan kata Dayak untuk menyebut suku-suku terasing-terkebelakang yang ada di wilayah pemerintahan mereka.
        

Orang-orang  Melayu pendatang  yang tinggal di wilayah pesisir,  menggunakan istilah Dayak secara general untuk menyebut  penduduk pulau Kalimantan yang tidak beragama Islam.   Hal itu terjadi karena identitas agama dilihat identik dengan identitas suku,  yaitu Melayu adalah Islam dan Islam adalah Melayu.  Pada sisi lain, Dayak diidentikkan dengan inferioritas dan Melayu superioritas.  Akibatnya adalah ketika orang Dayak menganut agama Islam,  diidentikkan dengan berganti etnis yaitu berhenti menjadi Dayak dan menjadi Melayu, sehingga dikenal dengan istilah “tame Malayu”, “masuk Melayu” atau “turun Melayu” (Blume 1843:109; van den Dungen Gronovius  1849: 359; van Hevel 1852: 187, 191).

Karena identitas agama diidentikkan dengan identitas suku, ada banyak orang Dayak yang masuk Islam tidak mau lagi disebut atau menyebut  diri mereka sebagai orang Dayak (Mallinckrodt, 1928: 12; Ukur 1971:83-84, Hudson 1972: 12; 1967: 25-6, Garang 1974: 116, Daud 1997:1, Tsing 1998: 72).   Bahkan tidak mau lagi memakai bahasa Dayak.  Dalam laporan J.J. Ras (1968: 8) dikatakan bahwa mereka telah ”menyingkirkan bahasa asal mereka, menggantinya dengan bahasa tuan-tuan Melayu atau jiran-jiran mereka, keluarga-keluarga Dayak atau keseluruhan perkampungan meninggalkan bahasa asli mereka apabila memeluk Islam”. 

Dikemudian  hari, dikotomi etnis berdasarkan paham  religius yang  berasal  dari orang  Melayu ini dipakai begitu saja oleh pemerintah Kolonial Belanda untuk kepentingan administrasi kependudukan, yaitu  penduduk non muslim (Kristen atau Kaharingan) dikategorikan sebagai suku Dayak dan penduduk Muslim disebutnya sebagai suku Banjar atau Melayu (Mallinckrodt, 1928: I, 9).

Di kalangan masyarakat Dayak sendiri, pada mulanya kata “Dayak” sama sekali  bukanlah  nama etnis. Hardeland dalam kamus Dayak -Jerman (1858) sama sekali  tidak  ada menyebutkan bahwa kata “Dayak” berarti “Suku bangsa di Kalimantan” seperti yang tercantum dalam kamus Dayak -Indonesia pada masa kini (Bingan-Ibrahim, 1996: 56). Ia hanya memakai kata Dayak atau Dajacksch dalam artian nama etnis pada bagian judul saja.   Judul kamusnya yang tersohor itu: Dajacksch-Deutsches Wörterbuch, dikritik oleh Schärer ([1946] 1963:1-2) sebagai tidak  tepat  dan menyesatkan, karena  kamus itu hanya memuat  perbendaharaan kata-kata dari  satu kelompok Dayak  tertentu saja,  yakni Dayak .  Menurut Schärer, kata “Dayak” adalah istilah umum atau nama generik untuk menyebut semua penduduk asli pulau Kalimantan yang beragama Kristen dan Pagan (Kaharingan)  tanpa melihat perbedaan adat-istiadat dan bahasa. Walaupun demikian, menurut Ukur (1971:32), Hardeland adalah orang yang pertama mengintrodusir pemakaian kata “Dayak” dalam artian positif yaitu untuk menandai suku-suku asli yang mendiami pulau Kalimantan, dimana sebelumnya kata “Dayak” dipergunakan sebagai kata ejekan atau hinaan.

Dalam kamus Dayak -Jerman yang disusun oleh August Hardeland  terdapat kata dadayak, hadayak, kadayadayak, baradayak (Hardeland, 1858: 83).  Anak kecil yang berjalan tertatih-tatih, agak limbung dan sempoyongan karena  baru berjalan berjalan disebut  dadayak atau  hadayak.  Orang dewasa yang berpostur tubuh gemuk-pendek,  yang berjalan agak limbung  dan sempoyongan karena tubuh yang kegemukan dan kaki yang pendek, juga disebut dadayak atau  hadayak.  Untuk orang dewasa yang berpostur tubuh tinggi, kalau berjalan agak limbung dan sempoyongan disebut kuhak-kahik yang artinya goyah meliuk-liuk. Seorang dewasa, walapun tidak bertubuh gemuk pendek namun masih berjalan tertatih-tatih seperti anak kecil yang baru belajar berjalan disebut kadaya-dayak. Untuk sekelompok orang  atau banyak orang yang berjalan limbung atau sempoyongan, misalnya karena baru turun dari perahu atau kapal motor,  disebut bara dayak. 

M.T.H. Perelaer  (1870), mencoba  menerangkan bahwa gaya berjalan agak limbung dan sempoyongan itu karena kaki orang Dayak umumnya berbentuk busur (huruf  O) dan karena orang Dayak seumur hidupnya banyak duduk bersila di perahu, karena itu kalau berjalan jadi tertatih-tatih atau limbung.  Namun pendapat Perelaer itu disanggah oleh Maxwell (1983) dengan mengatakan bahwa orang Dayak tidak selama hidupnya duduk bersila di perahu yang kecil, mereka juga mempunyai perahu yang besar yang memungkinkan mereka berdiri dan tidak duduk bersila terus-menerus.  Apa yang dikatakan oleh Perelaer ada benarnya bila mengingat pada zaman dulu orang Dayak bila bepergian ke kampung lain dengan naik perahu dalam waktu yang cukup lama, bisa setengah atau satu harian penuh.  Kaki bisa kesemutan karena duduk terlalu lama, sehingga ketika tiba di tempat  tujuan, untuk sementara waktu berjalan menjadi tidak normal, agak sempoyongan, limbung dan tertatih-tatih seperti anak kecil yang baru belajar berjalan.  Hal itulah yang diamati oleh Perelaer sewaktu menjadi Komandan Benteng Belanda di Kuala Kapuas. Namun menurut Becker, tidak ada dasar atau alasan untuk menyatakan  bahwa kata “Dayak” berasal dari  kata dadayak yang adalah bahasa orang , karena kata Dayak bukanlah berasal dari orang Dayak sendiri tetapi dari orang yang bukan Dayak (1849: 28).



Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemberian nama Dayak sangatlah bersifat eksonem artinya diberi atau penamaan oleh orang luar.  Pertama-tama oleh orang Melayu untuk menyebutkan penduduk asli pulau Kalimantan yang tidak beragama Islam. Kemudian penamaan ini diambil begitu saja oleh pemerintah kolonial Belanda. Karena itu, pada tahap awal orang  tidak menyebut dirinya Dayak, bahkan tidak merasa bahwa dirinya adalah orang Dayak.  Mereka hanya tahu bahwa sebutan itu muncul dari mulut orang luar atau para pendatang yang dipakai untuk merendahkan atau menghina diri mereka.  Bila bertemu dengan orang luar, mereka lebih senang mengidentifikasi  diri  berdasarkan nama sungai-sungai dimana kampung atau tanah kelahiran mereka berada, misalnya oloh Katingan (orang dari daerah aliran sungai Katingan),  oloh Kahayan (orang dari daerah aliran sungai Kahayan),  oloh Kapuas (orang dari daerah aliran sungai Kapuas) atau oloh Barito (orang dari daerah aliran sungai Barito).  


Identitas Generik

Pada awal abad 20, ketika semangat nasionalisme berhembus kuat di kepulauan nusantara yang ditandai dengan kebangkitan rasa kebangsaan.  Kelompok terdidik  Dayak,   tidak luput dari  semangat ini.  Mereka dengan sadar mengadopsi kata Dayak dan membangun kebanggaan menjadi orang Dayak. Istilah Dayak yang pada masa lalu selalu digambarkan sebagai timbunan kekafiran, sarang keprimitifan dan kumpulan orang bodoh, dikibarkan menjadi panji perjuangan. Dayak yang semulanya dipandang hina dan nista, menjadi mulia dan berharga.

Pada tahun 1919,  mereka mendirikan satu organisasi sosial politik berbasis etnis yang bernama Pakat Dayak atau Sarekat Dayak.  Sejak saat itu, nama Dayak dipakai oleh orang Dayak sendiri sebagai nama generik untuk  mempersatukan semua suku-suku di Kalimantan yang bukan Melayu atau Banjar. Identitas Dayak  dipakai untuk memperjuangkan hak-hak sosial-politik, dibawa masuk ke pentas perjuangan politik nasional, sejajar dengan identitas lain.  Sebelum Perang Dunia Kedua, sudah tampak  ada 10 organisasi yang memakai nama Dayak  antara lain Pakat Dayak atau Sarekat Dayak,  Koperasi  Dayak,  Jong Dajak,  Comite Kesedaran Bangsa Dajak, Kaoem Wanita Dayak dan  Kepandoean Bangsa Dajak. Sesudah Perang Dunia Kedua, misalnya Sarikat Kaharingan Dayak Indonesia (SKDI) atau Partai Persatuan Dayak (PPD).

Sebagai identitas generik, identitas Dayak bukanlah identitas agama.  Bagi orang Dayak,  identitas suku tidaklah identik dengan identitas agama. Bagi orang Dayak identitas suku berdampingan harmonis dengan identitas agama. Beragama Islam, Kristen, Hindu atau Budha tidak identik dengan berhenti menjadi Dayak. Bagi orang Dayak, agama tidaklah memisahkan darah dan  tidaklah mengubah etnik seseorang. Dayak tetap Dayak kendatipun ia beragama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, atau Budha.

Dayak sebagai identitas bersama ini meruntuhkan imajinasi orang Melayu pesisir  dan  pemerintah kolonial Belanda yang mencitrakan Dayak sebagai orang-orang non Islam.   Imajinasi keji yang mempertentangkan Dayak dan Islam, haruslah rontok ketika berhadapan dengan Dayak Bakumpai di Kalimantan Tengah dan Selatan, Dayak Tidung di Kalimantan Timur, dan Dayak Embau di Kalimantan Barat, yang adalah masyarakat Dayak yang beragama Islam.




Refleksi Masa Kini

Penelusuran sejarah atas identitas sosial Dayak di Kalimantan Tengah memperlihatkan bahwa secara historis pada mulanya menjadi Dayak itu hina dan ternista. Konstruksi sosial dengan keji memposisikan Dayak sebagai kafir dan inferior.  Namun kemudian orang Dayak sendiri memungut nama ejekan dan hinaan itu sebagai panji perjuangan dan identitas sosial untuk mengangkat harkat dan martabat diri.   

Identitas generik penduduk asli Kalimantan ini bukanlah identitas karbitan  atau diada-adakan sesuka hati, tetapi merupakan  hasil pergumulan sosial sekelompok orang yang dengan sadar, tanpa malu dan tanpa ragu menyebut dirinya “Dayak”, walaupun pada mulanya kata “Dayak” itu merupakan istilah ejekan dan hinaan. .  Dayak akhirnya menjadi identitas generik yang mempersatukan semua orang Dayak tanpa membedakan agama. Identitas generik ini adalah kearifan lokal untuk keluar dari jebakan oposisi biner kolonial yang mempertentangkan Dayak dan Islam. Identitas luhur ini seharusnya dirawat dengan cermat agar tidak tumpas-musnah mengingat pada masa kini  Kalimantan Tengah telah menjadi Bumi Pancasila (MM).

Keterangan: Telah dimuat di Harian Kalteng Pos, Kamis, 9 Januari 2014.