Senin, 21 Juli 2014

RIWAYAT HIDUP DAN KARYA AUGUST FRIEDERICH ALBERT HARDELAND

RIWAYAT HIDUP DAN KARYA
AUGUST FRIEDERICH  ALBERT  HARDELAND

(Oleh: Dr. A.H. Klokke)


August Friederich  Albert  Hardeland (30 September 1814-27 Juni 1891) atau Hardeland adalah seorang Pekabar Injil (Missionaris) yang diutus oleh Rheinische Missionsgesellschaft  [Lembaga Pekabaran Injil di Jerman] untuk bekerja di Kalimantan sejak tahun 1841 hingga 1856.  Hardeland [bukan Kaderland] sama sekali bukan seorang Antropolog apalagi Sosiolog, serta  ia orang Jerman bukan orang Belanda seperti yang dituding beberapa penulis Indonesia (lihat Yekti Maunati, 2004: 60).  Lahir pada tanggal 30 September 1814 di Hannover-Jerman.  Pada umur 18 tahun masuk ke Sekolah Tehnik.  Karena gelisah secara spritual, sebelum tamat ia keluar sekolah dan belajar filsafat secara otodidak. sendiri dengan membaca buku-buku filsafat.  Ketika masih bekerja sebagai  guru-bantu, ia mengalami pertobatan dan pada tahun 1837 masuk Sekolah Missionaris.

 Sebagaimana tradisi seminari pada waktu itu, August Hardeland dan juga murid-murid lainnya, diharuskan menulis karangan  tentang pertobatan rohaninya.  Sampai sekarang, karangan itu masih tersimpan dalam Arsip United Evangelical Mission di Wuppertal-Jerman  yang bunyi sebagai berikut:
“Saya dilahirkan pada tahun 1814, di satu negara yang untuk sekian waktu  penduduknya hidup tanpa pengenalan akan Kristus yang adalah   satu-satunya  Juruslamat Yang Hidup.  Karena itu, sampai berumur 21 tahun, saya juga hidup tanpa Tuhan dan melakukan bermacam-macam dosa.
Namun Tuhan Yang Maha Pengasih dalam rahmat-Nya telah mengatur segalanya, sehingga saya boleh mengenal Dia serta menyadari keadaan saya yang sangat berdosa  dan kesadaran itu memuramkan hati saya.  Melalui perantaraan seorang  petobat baru dan juga Firman Tuhan serta Roh Kudus, kemudian Tuhan  menyatakan kepada saya bahwa Kristus adalah Juruslamat saya, yang datang untuk mengarahkan saya kepada kearifan, keadilan, kesembuhan dan pembebasan dari dosa.

Tak lama setelah bertobat, saya mulai membaca ceritera-ceritera tentang Pekabaran Injil di negara-negara Timur.  Ceritera-ceritera itu  membuat saya merasa  terpanggil  untuk menyebarkan agama Kristen di negara-negara Timur.  Setengah tahun setelah panggilan itu, saya  memberitahukannya kepada   Perhimpunan Missi di Hannover   dan satu tahun setelah panggilan itu saya juga memberitahukannya kepada Perhimpunan Missi di Barmen.   
Pada waktu Paska 1837, saya datang ke Barmen.  Setelah sementara waktu  bekerja sebagai guru-bantu, pada tanggal 7 Oktober 1837 saya diterima di asrama  Sekolah Missi di Barmen.”

 Maka sejak tahun 1837, Hardeland belajar di Sekolah Misi Barmen dan lulus ujian pada tanggal 11 Juni 1839.  Setelah tamat dari Sekolah Misi Barmen, dengan penuh sukacita ia menulis:

“Sekarang aku bertekad untuk diutus sebagai Pekabar Injil ke daerah orang yang belum percaya.  Aku sadar dan aku percaya dengan sepenuh hati, bahwa Tuhanku akan menyertai aku dan tinggal bersamaku.”

Masih pada tahun 1839, Hardeland berangkat ke Indonesia dengan kapal layar melalui Afrika Selatan.  Setibanya  di Batavia pada bulan Januari 1840, Hardeland harus kecewa karena tidak dapat meneruskan perjalanannya ke Kalimantan karena pemerintah Belanda pada waktu itu tidak memberi izin untuk pergi ke Kalimantan, yang pada waktu itu  masih di luar kekuasaan langsung Pemerintah Belanda.

Sementara menunggu izin pergi dari Pemerintah Belanda, Hardeland  belajar bahasa Melayu dengan misionaris  Medhurst di Batavia dan Depok.  Di Depok, yang sejak abad 18  sudah ada Jemaat Kristen, Hardeland bertemu dengan Sarah Hulk yang kemudian menjadi istrinya.

Bersama dengan istrinya: Sarah Hulk, pada tahun 1841 Hardeland tiba di Banjarmasin-Kalimantan Selatan.  Satu tahun kemudian, mereka pergi ke daerah pedalaman Kalimantan Tengah.  Untuk sementara waktu mereka ke desa Gohong di daerah sungai Kahayan dan kemudian ke pusat misi di Poelopétak [Pulau Petak di daerah sungai Kapuas Murung] di mana misionaris Becker sudah lama bekerja. 

Di Poelopétak,  Becker telah mengumpulkan kata-kata Dayak Ngaju dan menyusunnya sesuai urutan abjad.  Setelah merasa sudah mampu menguasai bahasa Dayak Ngaju, pada tahun 1844 Becker dan Hardeland serta 3 orang informan Dayak Ngaju yaitu Akoe, Andréas dan Timothéoeus Marat, mulai menterjemahkan Kitab Perjanjian Baru. 

Dalam pekerjaan penterjemahan itu, Becker meneruskan pekerjaannya dalam menyusun Kamus Belanda-Dayak sedangkan Hardeland menyusun Kamus Dayak-Belanda.  Kamus Dayak-Belanda yang disusun oleh Hardeland itu sekarang tersimpan Perpustakaan Universitas Leiden-Belanda. 

Kesehatan Hardeland tidak begitu baik.  Kadang-kadang ia jatuh sakit dan untuk penyembuhan ia  harus cuti sakit  yang dilewatinya di Kaapstad-Afrika Selatan.  Walaupun demikian, ia tidak pernah menghentikan pekerjaanya menterjemah Kitab Perjanjian Baru.  Sebagai hasil kerja di Kaapstad, pada tahun 1846  telah dicetak Kitab Perjanjian Baru dalam bahasa Dayak Ngaju.

Pada tahun 1850, bersama dengan istrinya, Hardeland kembali lagi ke Kalimantan dan ia memilih Palingkau sebagai tempatnya bekerja.  Dalam surat-menyurat dengan Lembaga Alkitab di Belanda yang menjadi lembaga pengutus untuk kedatangannya untuk kali kedua ke Kalimantan, Hardeland dengan penuh kegembiraan melaporkan mengenai meningkatnya jumlah anak-anak sekolah dasar di daerah pedalaman seiring dengan bertambahnya jumlah sekolah.

Pada tahun 1851, pemerintah Belanda di Batavia meminta Hardeland untuk meneruskan pekerjaannya menyusun Kamus Bahasa Dayak Ngaju.  Lembaga Alkitab Belanda yang kini sebagai lembaga pengutusnya yang baru, memberinya izin untuk pekerjaan yang sebetulnya menyimpang dari  tugas utamanya yaitu menterjemahkan Injil yang mana harus menjadi tugasnya terpentingnya. 

Walaupun mendapat peringatan dari Lembaga Alkitab Belanda, Hardeland mengerahkan seluruh tenaganya  untuk menyusun kamus itu.  Dalam korespondensi dengan Lembaga Alkitab Belanda yang sekarang menjadi lembaga pengutusnya, Hardeland banyak bercerita tentang adat-istiadat, keseharian hidup orang Dayak Ngaju, perumahan, pencaharian, cara menanam padi yang begitu teliti dan rinci.  Sedemikian telitinya, sampai nama-nama ikan, burung, dan pepohonan, ia masukkan ke dalam suratnya.  Kendatipun begitu, masih dibantu oleh para informan Dayak Ngaju yang semula, ia tetap bertekad untuk menterjemahkan Kitab Perjanjian Lama.  Sehubungan dengan informan Dayak Ngaju yang menjadi teman sekerjanya, dalam korespondensinya, Hardeland memuji Timothéoeus Marat dengan kata-kata:

Kebenaran ilahi  ternyata mempengaruhi hati Timotheus, sehingga ia dapat membedakan secara rohani sesuatu  yang sifatnya  agamawi.”

Pada tahun 1855, Hardeland selesai menterjemahkan seluruh Kitab Perjanjian Lama. Pada tahun yang sama ia mulai mengumpulkan bahan-bahan mengenai upacara Tiwah dari nyanyian ritual para Balian, yaitu imam-imam dalam agama Dayak Ngaju, dengan judul Augh Olo Balian Hapa Tiwa (Perkataan-perkataan Balian yang dipakai untuk Tiwah). Karangan ini banyak memakai bahasa-bahasa ritual para imam agama Dayak Ngaju, yang dinamai bahasa Sangiang. Karangan ini diterbitan sebagai lampiran buku Tata Bahasa Dayak Ngaju. Suatu pekerjaan yang sukar, yang sebetulnya dikerjakan oleh seorang ahli bahasa (linguist), suatu pendidikan yang tidak pernah ditempuh oleh Hardeland. Buku tata bahasa dan upacara tiwah itu, pada tahun 1858 diterbitkan di Amsterdam dengan judul Versuch einer Grammatik der Dajackschen Sprache.

Patut dicatat bahwa, Hardeland merupakan penterjemah Alkitab pertama yang memperhatikan penjiwaan dalam bahasa-bahasa yang dipakai dalam upacara keagamaan. Bagi Hardeland teks-teks keagamaan yang dipakai dalam upacara Tiwah itu tidak boleh diabaikan seakan-akan tidak mempunyai nilai budaya.

Masalah ketepatan bahasa juga menjadi perhatian utama Hardeland ketika akan merevisi seluruh Alkitab dalam bahasa Dayak Ngaju yang akan diterbitkan pada tahun 1858. Ia melihat bahwa kerja-sama bertahun-tahun dengan para informan Dayak Ngaju, yang telah mendapat pendidikan di sekolah missi dan bergaul rapat dengan pendeta-pendeta Barat, sangatlah tidak menguntungkan. Pengalaman mereka selama sekolah dan bergaul dengan para pendeta Barat membuat struktur bahasa Dayak Ngaju yang mereka miliki berlainan dengan struktur bahasa Dayak Ngaju yang sebenarnya. Kenyataan ini membuat Hardeland sadar dan merintis cara baru untuk menghasilkan satu terjemahan yang tepat, yaitu dengan mencari dan bekerjasama dengan orang-orang Dayak Ngaju yang belum sekolah dan masih menganut agama nenek moyang. Ia memilih 12 orang Dayak Ngaju dari daerah Poelaupetak dan sekitarnya. Kepada mereka dibaca bab demi bab , kalimat demi kalimat dari Alkitab. Berdasarkan pada reaksi yang mereka berikan - jelas tidaknya kata-kata yang dibacakan- Hardeland merevisi seluruh Alkitab (Surat Barasih). Metoda yang dirintis oleh Hardeland itu kemudian hari diikuti oleh penterjemah-penterjemah Alkitab yang lain.

Pada waktu buku Tata Bahasa Dayak Ngaju dan Revisi Alkitab terbit, Hardeland masih berada di Europa.  Pada tahun 1859 terbit  karya agung-nya: Kamus Bahasa Dayak Ngaju-Jerman.  Masih pada tahun 1859, Hardeland  dianugerahi gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) atas jasanya menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Dayak Ngaju yang memungkinkan Pekabaran Injil di pulau Kalimantan.


Penutup
Dalam dunia ilmiah, secara khusus dalam bidang Ilmu Bahasa, Kamus Dayak Ngaju-Jerman yang disusun oleh Hardeland masih tidak ada tandingannya.  Buku ini  bukan sekedar kamus Dayak Ngaju tetapi juga sekaligus merupakan ensiklopedia Dayak Ngaju karena  sarat dengan informasi mengenai adat, agama dan kebudayaan Dayak Ngaju, serta mengenai kata-kata Dayak Ngaju yang sekarang ini telah hilang  dan tidak pernah diucapkan lagi oleh orang Dayak Ngaju sendiri.
           
Sayang sekali, karena mendapat tempat tugas baru di Afrika Selatan, Hardeland tidak pernah lagi kembali ke Kalimantan., sehingga ia tidak dapat menyaksikan secara langsung bagaimana orang Dayak Ngaju mempergunakan Alkitab yang telah ia terjemahkan itu,

Umurnya belum mencapai 77 tahun ketika ia meninggal dunia pada tahun 1891. ***





Ditulis oleh Prof. Dr. A.H. Klokke, mantan dokter misionaris di Kalimantan-Tengah pada tahun 1949-1959, berdasarkan keterangan dari United Evangelical Mission di Wuppertal dan berdasarkan naskah yang ditulis oleh Dr. J.L. Swellengrebel pada tahun 1974.  Dalam mempersiapkan tulisan ini saya dibantu oleh  koreksi-koreksi dan editorial  yang dilakukan oleh Marko Mahin yang sedang belajar di Leiden University.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar