Rabu, 02 Juli 2014

SUSTER MARGRIT BEUTLER

SUSTER MARGRIT BEUTLER


Ia masih muda-belia ketika menginjakkan kakinya di Tanah Borneo.  Nona Margrit Beutler, demikian ia dipanggil pada tahun 40-an ketika aktif mengajar Kursus Kepandaian Putri di Tumbang Bunut dan Mandomai. Tugas utamanya  adalah mengadakan  Kursus Kebidanan dan Konsultasi Kehamilan.  Ia dengan tekun mengajarkan para perempuan Dayak bagaimana memelihara bayi, bagaimana hidup sehat, dan kecakapan-kecakapan serta pengetahuan rumah tangga lainnya.


Tidak banyak orang tahu mengenai kerja dan karyanya. Tahun 2002 ketika bertemu,  ia masih fasih dengan bahasa Dayak Ngaju.  Bahasa Dayak Ngaju yang sangat baik sekali dan halus.  Sampai aku sendiri, yang adalah orang Dayak Ngaju, sangat malu dengan bahasa Dayak Ngaju saya yang tergolong “kasar”  atau “pasaran” dibandingkan bahasa Dayak Ngaju beliau.  Kota Basel yang dingin menjadi hangat ketika kami berbicara dalam bahasa Dayak Ngaju.  Dengan sangat jernih ia menuturkan kegiatannya pekerjaannya di Mandomai.  Ia sangat senang mendengar bahwa aku dari Sei Kayu. Ia bercerita bahwa senantiasa melewati kampung kelahiranku itu kalau bepergian naik kelotok ke Kapuas untuk kemudian ke Banjarmasin. 


Aku terkagum mendengar ceritera beliau bagaimana mendidik para perempuan Dayak agar pintar dan harati.  Pada waktu itu ia bercerita tentang beberapa keluarga angkatnya yang masih ada di Puruk Cahu dan bagaimana ia di kemudian hari lebih banyak bekerja di Puruk Cahu.   Aku tidak tahu siapa keluarga angkat beliau ini.  Namun yang aku tahu salah satu murid beliau yang masih hidup dan sekarang berada di Puruk Cahu adalah Indu Sigar  ibunda dari Bupati Perdie M. Yoseph  dan Willy M. Yoseph.  Pekerjaan beliau berdampak hingga kini.  Indu Sigar berhasil mendidik anak-anaknya untuk menjadi orang penting dan pemimpin di Murung Raya dan Kalimantan Tengah. Salah seorang murid beliau adalah Indu Yanson istri dari Pdt. E. Massal.  Ia banyak bercerita tentang muridnya ini. 


Tanggal 22 Juni 2014 di kota Basel-Swiss, Suster Margrit Beutler telah meninggal dalam usia 92 tahun.  Perempuan Swiss yang mahir berbahasa Dayak Ngaju ini telah pergi.  Ia meninggalkan banyak hal bagi perempuan Dayak di Kalimantan Tengah.  Tambi Margrit,  keleh haguet dengan kasanang, manintu lewu salamat te. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar