Senin, 21 Juli 2014

TEISME KEPARAT


TEISME  KEPARAT

(Oleh : Marko Mahin)

Ada sesuatu yang sangat keji dalam otak kita.  Kita senang melihat orang lain tidak sama dengan kita.  Kita gembira dan merasa diri sangat istimewa ketika orang lain  tidak memiliki sesuatu yang kita miliki.  Kita bahagia dan bangga dengan kepemilikan sekaligus keberbedaan itu. Jahatnya, kita menghendaki orang lain itu sengsara dan tidak bahagia karena berbeda dari kita dan tidak memiliki apa yang kita miliki.

Kita ingin mendominasi sesuatu yang khusus, istimewa dan spesial. Kita merasa diri tidak lagi khusus atau spesial kalau sama dengan orang lain.  Karena itu yang dikejar adalah kekhususan atau keistimewaan, sehingga berbeda sama sekali bahkan bertentangan dengan yang tidak khusus dan tidak istimewa. Dengan demikian,  kita merasa diri lebih, sementara yang lain kurang.

Cara berpikir demikian menggiring seseorang untuk melokalisir diri untuk terpisah dan berbeda dari yang lain. Batas dan jarak  pun dibangun, perbedaan atau ketidaksamaan pun  ditonjolkan. Secara sengaja, bahkan terencana, kita mengasingkan diri untuk tidak sama dan berbeda dari yang lain yaitu dengan   mengutamakan ketidaksamaan, misalnya  dalam  pengucapan salam, bahasa, makanan, busana, tahun baru, bahkan ketidaksamaan nama Tuhan atau Allah yang disembah.

Saat ketidaksamaan dikokohkan agar ada kekhususan, maka terciptalah sang liyan (the others) yaitu orang-orang yang dengan sengaja dilainkan, dieksklusi, dikeluarkan dari keberadaan yang khusus dan istimewa itu. Proses peng-liyan-an (otherizing) itu tidak hanya menghasilkan kelompok lain yang berada di luar kelompok saya (outsiders), tetapi juga melahirkan kelompok lain yang berbeda dan lebih rendah derajatnya dari kelompok saya, yaitu kaum kafir, jahat, sesat, terkutuk, kotor, najis dan menjijikan.


Memenjarakan  Allah

Konsepsi tentang Allah atau Tuhan merupakan salah satu  hal yang dapat memicu kita merasa  istimewa, khusus, atau spesial.  Konsepsi  ini dapat membuat kita merasakan dan membayangkan  bahwa Tuhan itu seagama dengan kita. Ia hanya hadir dalam rumah ibadah kita dan tidak hadir di rumah ibadah agama-agama lain.  Ia hanya milik kita, milik agama kita.  Perasaan itu membuat kita tidak rela  jika Ia juga menjadi milik bersama pihak lain, apalagi milik dan bersama sang liyan.



Karena tidak sudi kalau Allah kita sama dengan allah kamu liyan, maka  kita memonopoli Allah.  Allah disekap dalam kerangkeng agama kita. Sehingga Allah tidak lagi menjadi pusat, jantung, sumber dan tujuan semua agama.  Ia hanya menjadi milik kita, bukan milik agama-agama dan kepercayaan-kepercayaan lain.

Ironisnya dengan menyatakan Allah kita berbeda dari allah kaum liyan, kita  merasa diri kita sangat beriman dan sangat saleh.  Kita menganggap itu adalah tindakan suci yaitu meng-esa-kan Tuhan, tidak men-dua-kan Tuhan, tidak membuat Tuhan cemburu. Kita membayangkan Allah itu tersenyum bahagia atas perbuatan kita itu.  

Akibat dari pandangan itu adalah semua liyan dilihat sebagai kaum kafir tidak ber-Tuhan.  Karena tidak ber-Tuhan maka berarti mereka tidak beragama. Karena tidak beragama maka mereka sah dan boleh menjadi sasaran penyebaran agama. Dengan demikian, agama-agama lain dilihat sebagai musuh,  bukan kawan seperjalanan menuju Tuhan.  Karena tidak memiliki Allah yang sama maka tidak mungkin ada doa bersama.  Bahkan seseorang merasa murtad, sesat dan berkhianat kalau hadir dalam ibadah agama lain atau ikut merayakan hari besar agama lain.

Ada semacam kesenangan sadis dalam sikap beragama kita yaitu diam-diam kita senang  dengan keberadaan kaum liyan yang kita anggap tidak ber-Allah, tidak ber-Tuhan.  Kita riang dan bersorak kalau mereka menderita, tidak bahagia dan binasa karena tidak mempunyai Allah.  Keberadaan mereka mempertegas keberadaan kita yang adalah putih, bersih, suci, murni dan terpilih.  Keberadaan mereka membuat seseorang merasa bahagia, diberkati dan masuk sorga kalau bisa menista, menzalimi, menyakiti, menindas, menganiaya dan menumpas orang-orang yang tidak seagama dengannya.

Inilah pendekatan dikotomis dalam beragama yang melahirkan oposisi biner yaitu dua kutub atau pasangan konsep yang saling berlawanan untuk bertolak-belakang. Dengan pola yang demikian maka relasi antara agama bukanlah relasi damai, tetapi hierarki yang kejam. Dalam pola yang demikian terbangun relasi kekuasaan yang satu mensubordinasi yang lain, atau yang satu dilihat lebih superior dari yang lain. Sehingga terjadilah pemetaan yang semena-mena tentang yang baik dan buruk, hitam dan putih, benar dan tidak benar, yang asli dan yang palsu, yang berasal dari Tuhan dan tidak berasal dari Tuhan. Bahkan ter-peta-kan apakah seseorang itu masuk sorga atau masuk neraka.



Teisme Keparat

Teisme yaitu konsepsi yang dibuat manusia mengenai siapa Allah,  memang dapat menjadi semacam “senjata psikologis” yang sengaja diciptakan bagi upaya-upaya konversi dan proselitasi. Cara kerja teisme keparat ini adalah dengan memonopoli Tuhan yaitu mengurung Tuhan dalam penjara agamanya sendiri. Setelah itu,  memuliakan agama sendiri dan menista agama orang lain sebagai agama palsu dengan allah yang palsu pula. Teisme ini dipakai untuk menghadirkan perasaan inferior, rendah dan  hina-dina pada orang yang beragama lain.  Pada sisi lain, dipakai untuk menanamkan perasaan superior, terkemuka dan mulia untuk internal agama sendiri.

Inilah mesin sosial untuk membuat manusia terasing dan terpisah untuk  kemudian saling bermusuhan satu dengan yang lain. Teisme ini menghasilkan segregasi sosial yaitu pemilahan sosial berdasarkan pada ciri-ciri dasar yang berbeda atau yang dianggap berbeda atau sengaja membuat beda, baik dalam arti fisikal maupun kultural.  Kemudian perbedaan itu, ditempatkan dalam satuan-satuan sosial yang berlawanan dengan satuan sosial lainnya. Corak dari segregasi sosial adalah timbulnya anggapan bahkan pandangan: in group melawan out group; kami melawan mereka; aku melawan dia. Dalam kondisi seperti ini, nilai-nilai dari hubungan kemanusiaan dipersempit menjadi hubungan kepentingan, bahkan hubungan persekongkolan.


Teisme senacam ini biasanya marak dalam ranah perebutan kekuasaan. Ini adalah “politik agama”.  Allah sebagai modal simbolik dimonopoli untuk meningkatkan daya jual-beli politis. Namun tindakan memonopoli Allah merupakan perbuatan nista, karena menjadikan Allah sebagai sumber kebencian dan  kemarahan religius  yang meningkatkan penderitaan umat manusia. Teisme ini melahirkan praktik sosial yang mengkerdilkan kemanusiaan karena membenarkan penaklukan dan kekerasan atas manusia yang beragama dan berkebudayaan lain.


Tindakan meng-esa-kan Tuhan mestinya dengan membiarkan Tuhan sebagai satu-satunya tujuan, pusat, sumber dari semua agama.  Hal itu tercermin dalam tindakan menghormati manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan dan yang senantiasa dicintai Tuhan, bukan dengan menciptakan mahluk ilahi yang kejam pada manusia agama tertentu.  Mestinya kita waspada dan meninggalkan perbuatan nista itu karena telah menjadikan Allah sebagai sumber ketidak-setaraan, propaganda perang dan persemaian bibit kebencian.  Bunuhlah tuhan yang melahirkan penderitaan. Buanglah allah yang membuat kita susah.  [MM].

Catatan: Bahan Diskusi dalam acara SEMINAR REGIONALEksistensi Agama Dalam Berbangsa dan BernegaraHotel Aqurius Palangka Raya, 18 Juli 2014. Diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (STAHN  Tampung Penyang)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar