Jumat, 29 Mei 2015

TUHAN ITU  [ TIDAK ] JAHAT !



Apakah anda sering mengira TUHAN ITU JAHAT ?  Menuduh bahwa TUHAN itu tidak perhatian, tidak peduli pada diri anda? Atau anda anda orang yang malas mengucap syukur  atau tidak mau bersyukur kepada kebaikan Tuhan. Bacalah artikel ini, dan selanjutnya katakan TUHAN ITU BAIK DAN SANGAT BAIK.

Seorang bapak berusia 70 tahun menderita tidak bisa buang air kecil selama beberapa hari. Setelah bertambah rasa sakitnya, bapak itu mendatangi dokter spesialis. Maka dokter meminta kepada bapak itu agar di operasi dan bapak itupun menyetujui.


Setelah selesai di operasi dan berhasil, maka dokter memberikan tagihan rumah sakit kepada bapak itu. Bapak itu melihat isi tagihannya, maka menangislah bapak itu.

Dokter pun berkata kepada bapak itu, “Jika tagihan tersebut memberatkan anda, saya bisa meringankannya untuk anda.” Maka bapak itu menjawab, “Bukan itu yang membuat aku menangis. Yang membuat aku menangis adalah bahwa TUHAN  telah memberi aku kenyamanan, kemudahan untuk bisa buang air kecil dengan lancar  selama 70 tahun, dan IA tidak pernah mengirimkan tagihan apapun kepadaku untuk membayarnya.” 


TUHAN ITU BAIK DAN SANGAT BAIK

Kamis, 28 Mei 2015

ELANG !


Aku tidak pernah minta kalau dalam darahku mengalir darah perlawanan.  Aku juga tidak pernah bermohon untuk selalu menolak penjinakan dan pembodohan. Karena itulah aku   terkadang sulit bergabung di arus utama. Kemudian di cap SOK, ANGKUH atau SOMBONG.  Aku juga bingung, kenapa aku dengan sengaja selalu menempatkan diri pada posisi kritis, yang samasekali tidak ada untungnya bagi diriku.  Seorang teman mengatakan, "Kamu deviant sich".  Akh...emangnya aku gila, sehingga dikategorikan "menyimpang". Kalaupun aku suka mempertanyakan segala sesuatu...bukan berarti aku gila...aku hanya ingin kebenaran.


Sampai akhirnya ada seorang teman yang dengan tulus mengatakan:  "EAGLE FLY ALONE, DUCKS FLY TOGETHER".  Elang terbang sendirian, bebek berjalan beriringan.  Akhirnya aku tahu kenapa aku punya kecenderungan "bersuara lain"  karena memang aku tidak suka mem-bebek. Kamu itu elang! Begitu kata temanku.  Kenapa kamu bersuara lain, karena jelajah pandang matamu tajam jauh ke depan. Kamu bisa tahu apa yang ada dan yang akan terjadi pada sekian kilo meter, sedangkan bebek hanya tahu beberapa meter. Karena itulah kamu terkadang sepi sendiri dan enggan bergabung dengan kawanan bebek.

Bung Karno, Presiden RI yang pertama, tampaknya sangat dekat dengan ungkapan ini. Ia mengatakan "Bebek berjalan berbondong-bondong, akan tetapi burung elang terbang sendirian".  Tampaknya Bung Karno ingin menyatakan bahwa terkadang kita harus keluar dari keterasingan komunalisme ala bebek, yang hanya tahu baris saja, tanpa tahu kemana arah atau tujuan dari barisan. Kita harus tahu kemana kenapa kita bersuara dan ke arah mana kita bergerak

Akh...temanku ini mungkin berlebihan. Tetapi aku teringat dengan Isaac Newton yang sering ditanya mengapa dirinya mampu melihat jauh ke masa depan, ia menjawab dalam sepucuk surat yang ia kirimkan kepada koleganya, Robert Hooke, pada tanggal 5 Februari 1676. Ujarnya : IF I HAVE SEEN FURTHER IT IS BY STANDING ON THE SHOULDERS OF GIANTS .” Apabila saya mampu melihat jauh ke depan karena saya berdiri di bahu para raksasa.



Aku adalah seorang yang percaya dengan ungkapan “STANDING ON THE SHOULDERS OF GIANTS”. Berdiri di atas pundak raksasa.  Tidak heran, karena berpijak di bahu raksasa teori, raksasa intelektual, aku  dapat melihat lebih jauh, punya wawasan yang lebih luas.  Dengan demikian aku bisa keluar dari kepicikan dan kekerdilan berfikir.

Akhirnya aku juga bisa mengerti kenapa ada mereka yang mendakwa  sok, angkuh dan sombong, yaitu karena mereka masih berada dalam cangkang kepicikan berfikir. Cakrawala pandang mereka terbatas, karena masih berada dalam tempurung kekerdilan.


Elang terbang sendirian
Tinggi nan awan biru
Kepak sayapnya penuh
Matanya tajam
Elang selalu sendiri
Angkuh namun sepi
Raja angkasa
Penguasa langit
Adakah emosi dibenakmu
Adakah rasa humormu
Dibalik wajah gagahmu
Dibalik paruh tajammu
Kala kau bosan
Kala kau pulang
Kau cari tempat tinggi
Gedung dan pohon menjulang
Elang bagaimana hari-harimu
Indahkah
Buramkah


Kau diam seribu basa

Rabu, 04 Februari 2015

PEREMPUAN DAYAK DAN BUDAYA SUNGAI

PEREMPUAN DAYAK  DAN BUDAYA SUNGAI*

Oleh: MARKO MAHIN*



Kalimantan.  Inilah pulau raksasa yang dialiri oleh ribuan sungai besar dan kecil. Bagi para penduduk pribumi asli Kalimantan yaitu orang-orang Dayak, sungai-sungai yang membentang di semua penjuru pulau itu bukanlah sekedar sumber air minum, tempat mandi, tempat mendapat ikan, dan alat transportasi tetapi juga orientasi hidup bahkan identitas diri. 

Dikatakan sebagai orientasi hidup karena banyak kegiatan sehari-hari dilakukan di sungai, mulai dari mandi, mencuci, menangkap ikan dll.  Kemudian bangunan rumah, tempat ibadah, bahkan kuburan banyak dibangun di tepi-tepi sungai.  Acara-acara ritual yang sucipun banyak dilakukan di sungai, misalnya membaptis bayi atau memberi nama kepada  bayi yang  baru  lahir,  atau ritual meminta kesembuhan, rejeki, keberuntungan kepada Jata Sang Penguasa sungai. 

Sebagai identitas diri tampak ketika orang-orang Dayak mengidentifikasi diri mereka dengan nama sungai yang melintas di kampung kelahiran mereka, misalnya Oloh Katingan, Oloh Kapuas atau Oloh Kahayan. Oloh  berarti “orang” sedangkan  Katigan, Kapuas Kahayan  adalah nama-nama sungai.  Hal itu menunjukkanbahwa mereka adalah orang yang  berasal dari atau tinggal di daerah aliran sungai itu.  Lebih jauh lagi, konon kalau orang-orang Dayak meninggal dunia, untuk menuju ke Lewu Tatau atau Sorga Loka mereka tidaklah melewati jalan raya dengan memakai kereta kencana, tetapi menyusuri sungai dengan naik perahu.  Karena itu tidak heran kalau orang-orang Dayak  juga dilihat sebagai manusia sungai (rivering people) dan memiliki budaya sungai.

Tentu ada banyak hak yang bisa kita gali mengenai budaya sungai di Kalimantan.  Namun tulisan yang bersifat reflektif ini hanya ingin memaparkan dua hal yaitu: Bagaimanakah perempuan beraktivitas dalam masyarakat yang berbudaya sungai ini, dan apa alasan mereka melakukan aktivitas itu ?

Perempuan dan Sungai sebagai Ruang Publik[1]

Perkampungan di Kalimantan biasanya didirikan di tepi sungai.  Dengan pola linearperkampungan, berupa rumah-rumah panggung,  didirikan mengikuti alur sungai. Rumah-rumah dengan tiang, lantai, dinding, maupun atap terbuat dari kayu, umumnya selalu menghadap ke sungai. Setiap rumah (keluarga batih) memiliki batang, yaitu sejenis rakit yang ditempatkan di depan rumah yang berfungsi sebagai tempat mandi, cuci dan jamban (MCK) sekaligus tempat menambatkan perahu atau kapal.  Terkadang satu batang dipakai oleh beberapa keluarga.

Di atas rakit kayu yang disebut batang inilah para perempuan Dayak banyak melakukan aktivitasnya.  Pagi-pagi biasanya mereka  sudah turun ke batang untuk mencuci pakaian dan peralatan dapur,  mandi atau melakukan kegiatan lainnya misalnya mengeluarkan air dari dalam perahu.  Di beberapa daerah dimana ada pedagang sembako dengan menggunakan perahu, misalnya Kuala Kapuas, di batang juga para perempuan dapat berbelanja sayur, ikan dan beras.  Ketika hari agak siang, mereka bisa saja turun ke batang untuk menciduk air satu atau dua  ember dan kemudian membawanya ke dalam rumah.

Ketika mereka  mandi dan mencuci biasanya berlalu-lalang alat-alat transportasi-transportasi sungai pembawa penumpang misalnya perahu, klotok (perahu bermesin), kapal atau speed boat.  Kalau ada salah satu anggota keluarga kebetulan akan bepergian, maka transportasi sungai akan berehenti sebentar di batang untuk menjemput calon penumpang.  Dengan demikian batang juga menjadi semacam “pelabuhan.”

Tentu saja ketika beraktivitas di batang para perempuan tidaklah dengan pakaian resmi dan lengkap.  Hanya dengan sehelai kain sarung yang dipakai sebagai pembungkus tubuh mereka melakukan kegiatan mencuci dan mandi.  Pemakaian busana yang demikian tentunya karena alasan praktis saja yaitu agar tidak repot.  Memang ada semacam “kode”  dalam cara pemakaian kain sarung ketika mandi atau mencuci di batang.   Bila kain sarung itu dililitkan sebatas dada maka perempuan itu (kendatipun masih tampak muda) adalah perempuan yang sudah menikah atau seorang janda.  Bagi perempuan yang belum menikah, kain sarung tidak dililitkan sebatas dada tetapi diikat di bahu. 

Di batang bisa saja ada para lelaki yang berbaur mandi dan mencuci.  Kaum laki-laki, ketika mandi di batang bisanya berbusana lebih minim lagi, yaitu dengan hanya memakai celana dalam saja.  Anak laki-laki yang belum akil-baliq biasanya mandi telanjang bulat dan itulah saat bermain yang mengasyikkan bagi mereka.


Pewaris Budaya Sungai

Dari paparan di atas tampaklah bahwa sungai bagi orang orang-orang Dayak yang tinggal di tepi sungai merupakan ruang publik (public space).  Sungai, dalam hal ini batang,  telah menjadi tempat berjual-beli (pasar), pelabuhan, tempat bermain bagi anak-anak, dan tempat berlalu-lalang bagi penjual jasa transportasi sungai.  Batang atau tepi sungai tempat batang  berada, bukanlah sekedar tempat mandi, cuci dan kakus (MCK) tetapi menjadi tempat perjumpaan orang-orang.  Namun di tempat itulah (ruang publik itulah) para wanita mandi dengan hanya mengenakan kain sarung.  Semuanya itu dilihat sebagi sesuatu yang normal, biasa, alami, dan sama sekali tidak melanggar hukum.

Mandi di sungai bagi perempuan-perempuan Dayak tidak ada hubungannya sama sekali dengan Barat apalagi dengan yang namanya liberalisme atau nihilisme. Juga sama sekali tidak hubungan dengan konsepsi pamer aurat dan kemaluan.  Beribu-ribu tahun sebelumnya datangnya budaya dan agama asing ke Kalimantan, mandi di sungai telah mereka lakukan. 

Mereka melakukan itu karena mereka adalah orang-orang sungai dan  pewaris budaya sungai yang tinggal di belahan Timur dunia ini, tepat di pulau Kalimantan.  Alam yang serba sungai membuat mereka bertingkah-laku dan berbudaya sungai.  Karena itu ada banyak aktifitas hidup dilakukan di sungai. 

Adalah salah besar kalau menilai para perempuan yang mandi di sungai dengan hanya berbalut selembar kain dianggap tak beradat dan tak tahu malu.   Dalam Tata Hukum Adat Dayak, perempuan dipandang begitu berharga, dan  dilihat sebagai simbol martabat keluarga atau kampung. Karena itu ada banyak hukum-hukum adat yang dibuat dalam rangka memagari agar tidak terjadi tindakan yang tidak sopan terhadap perempuan.  Berlaku tidak sopan terhadap perempuan dianggap sebagai pali yaitu melanggar hukum adat. 

Hukum  Adat Dayak Ngaju akan menghukum seorang laki-laki yang secara sengaja mengintip perempuan mandi.  Hukum Adat juga mengatur bahwa bila ada seorang perempuan yang sedang mandi sendirian di batang,  maka seorang laki-laki (yang bukan suami atau saudara dekat)  tidak boleh berpura-pura lewat, mendekat atau mandi bersama dengan perempuan dalam satu batang.  Apabila sampai terjadi maka yang dihukum adalah laki-laki itu saja.  Hanya lelaki yang tidak tahu adat yang mencari kesempatan untuk bisa mandi berdua-duaan dengan seorang perempuan. 

Dengan demikian tampaklah bahwa  alam lah  telah mengakibatkan para perempuan berbudaya sungai yaitu mandi dengan pakaian sehelai kain.  Alam juga yang membuat orang-orang Dayak membuat rumah panggung bertiang tinggi.  Alam yang saya maksudkan di sini adalah sungai yang mengalir tepat di depan rumah dan cuaca  tropik yang mempunyai daya paksa tinggi untuk menggiring orang pergi mandi.  Jadi, jikalau ada upaya hendak menghentikan atau melarang para perempuan mandi di sungai maka dua hal ini yang harus dilakukan yaitu mencemari atau menimbun habis sungai-sungai yang ada sehingga tidak dapat dipergunakan sebagai tempat mandi lagi dan mengganti iklim tropik yang panas-lembab itu dengan cuaca yang sejuk.  Ya, pewaris budaya sungai akan terus mandi di sungai selama sungai  ada  dan iklim tropik masih panas.

Dalam Rumah Bersama

Budaya sungai  hanyalah salah satu dari sekian banyak budaya yang ada di Indonesia.  Ia ada karena kehendak alam.  Budaya sungai adalah satu fakta historis yang hidup di tengah masyarakat Indonesia.  Ia akan terus hidup selama ada sungai yang layak untuk mandi, dan ada orang-orang yang  tinggal di tepi sungai. Mungkin di tempat lain yang langka dengan air dan sungai mengalir, budaya ini sama sekali  asing, aneh atau tidak ada  sama sekali. Namun itu bukan berarti ia harus ditolak, direndahkan dianggap kafir, tidak beradab, perlu ditobatkan dll.. 

Ya, kita memang memerlukan rumah bersama, dimana berbagai macam ragam budaya boleh hidup bersama untuk saling memperkaya dan menguatkan. Adakah rumah bersama itu bernama Pancasila?






* Disampaikan dalam acara Curhat Budaya “PANCASILA RUMAH KITA”, yang diselenggarakan pada  tanggal 1 – 2 Juni 2006, di Hotel Nikko, Jakarta.
* Penulis adalah peneliti agama dan budaya Dayak, email: marko_mahin@yahoo.com

[1] Apa yang saya tuturkan di bawah ini berdasarkan pengamatan saya di perkampungan-perkampungan Dayak yang ada di  Kuala-Kapuas, Kalimantan Tengah.

Kamis, 22 Januari 2015

Menjumpai Yesus Sejarah

Menjumpai Yesus Sejarah*
 (Tanggapan atas buku Yesus Bagi Orang Non Religius, Karangan John Shelby Spong,
 Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008, halaman 376 + xx)

* Disampaikan dalam acara Bedah Buku yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri (STAKN) Palangka Raya, pada tanggal 27 November 2010 di Gedung Gereja Agape, Jl. Tampung Penyang, Palangka Raya, Kalimantan Tengah.


I.      Pendahuluan

Buku John Shelby Spong, Yesus Bagi Orang Non Religius, dapat digolongkan sebagai “buku pop” tentang Yesus Sejarah.  Bila dibandingkan dengan buku-buku Yesus Sejarah lainnya[1], buku ini memang ringan, renyah dan mudah dibaca. Buku ini, yang semula berjudul Jesus For The Non Religious,  diterjemahkan dengan baik  oleh Dr. Ioanes Rakhmat, seorang pakar Yesus Sejarah di Indonesia.

Secara pribadi, saya mengenal baik “Yan Wong” (nama lain dari penterjemah buku ini).  Ia adalah salah satu dosen terbaik yang telah menyemaikan benih-benih intelektualitas dan kritisisme dalam kehidupan ilmiah saya.  Karena itu, tidak ada kata penolakan dari saya, ketika ditawarkan untuk “membedah” buku yang ia terjemahankan ini. 

Saya sangat sadar bahwa tidak banyak dari pendeta atau teolog GKE yang mengakrabi tema studi Yesus Sejarah (Saya ingat seorang kolega saya pernah gagal menempuh ujian masuk di STT Jakarta karena salah satu bahan ujian adalah tentang Yesus Sejarah).  Hal itu mengharuskan saya untuk memberi apresiasi yang tinggi kepada STAKN Palangka Raya, yang dengan “berani” melakukan kegiatan ilmiah membahas Yesus Sejarah (satu tema yang sensitif dan rawan perdebatan) dengan membedah buku karya John Shelby Spong  ini.

Agar kita semua dapat memahami buku ini dengan baik, hal yang pertama yang akan saya lakukan adalah memperkenalkan sekilas tentang John Shelby Spong dan sekilas tentang studi Yesus Sejarah.  Selanjutnya saya akan mengulas tulisan Spong dan terakhir memberi beberapa tanggapan. 


II.    Sekilas Tentang John Shelby Spong[2]

John Shelby Spong (selanjutnya ditulis Spong) lahir pada 16 Juni 1931 di Charlotte, North Carolina, United States. Ia  bukanlah orang awam. Hingga tanhun 2000, ia adalah  pendeta dan Uskup Gereja Epikospal,  Keuskupan Newark di Newark, New Jersey. Sesuai dengan penuturannya sendiri, ia tumbuh dan besar  di wilayah Kristen yang di Amerika Serikat terkenal dengan sebutan Kawasan Alkitab (Bible Belt) , namun di kawasan Kristen ini pula ia dengan mata telanjang menatap praktik kehidupan yang bertentangan dengan nilai-nilai Kristen antara lain penindasan perbudakan, anti orang asing dan diskriminasi berbasis jenis kelamin, semuaitu dapat dibahasakan sebagai rasisme, antisemitisme, dan seksisme.  Dengan polos ia bertutur tentang lingkungan tempatnya dibesarkan:

“Semua statistik menunjukkan bahwa orang yang pergi ke gereja di kawasan ini lebih tinggi daripada di bagian lain mana pun di negara kami.  Alkitab dibaca dan diajarkan lebih rinci dan sistematik di sana ketimbang di tempat lain mana pun dalam kehidupan bangsa. Agama lebih terang-terangan dipraktikkan di sana.  Akan tetapi, dalam sejarahnya agama di sana menyatakan dirinya baik dalam perilaku marah maupun dalam perilaku kekerasan. Perbudakan adalah suatu penindasan kejam terhadap kemanusiaan orang-orang yang terbelenggu, tetapi orang-orang di Kawasan Alkitab ini membela lembaga jahat ini dengan segala kekuatan mereka, bahkan mereka mengutip Kitab Suci untuk mendukung keberadaan dan praktik perbudakanBudak-budak bukan hanya dipukuli dan dihukum mati tanpa rasa takut akan adanya pembalasan dari penduduk yang membaca Alkitab, tetapi juga tidak diberi pendidikan dan keluarga-keluarga mereka dipecah-pecah berdasarkan kelompok-kelompok budak.  Perilaku ini sesungguhnya menyingkapkan baik kemarahan maupun kekerasan, namun bagian terbesar dari para penindas budak-budak adalah orang-orang Kristen yang saleh beragama” (Spong 2008: 274-275, penekanan dari Marko Mahin).

Latar belakang kehidupan yang demikian, sedikit banyak mempengaruhi sikap Spong terhadap Kekristenan, sehingga mendorong ia mencari  “Yesus Lain”  yaitu Yesus bagi orang-orang non religius.


[1] Lihat A. Roy Eckart, Menggali Ulang Yesus Sejarah: Kristologi Masakini, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996; Bdk. Marcus J. Borg, Kali Pertama Jumpa Yesus Kembali, Yesus Sejarah dan Hakikat Iman Kristen Masa Kini,  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000;
[2] Untuk menulis bagian ini saya menggunakan beberapa sumber yang di down load dari internet terutama dari:  http://en.wikipedia.org/wiki/John_Shelby_Spong;
http://churchofhumanism.org/en/content/section/8/30/; http://anglicanecumenicalsociety.wordpress.com/2010/06/10/bishop-spong-and-archbishop-williamss-response/; http://www.johnshelbyspong.com/calendar.aspx;


Spong menjalani pendidikan dasarnya di Charlotte. Ia menyelesaikan Pendidikan Tinggi di University of North Carolina di Chapel Hill pada 1952, and menyandang gelar  Master of Divinity (M.Div)  pada 1955 dari  Episcopal Theological Seminary di  Alexandria, Virginia.  Ia menerima dua gelar  Doktor Kehormatan (Honoris Causa) yaitu dari Episcopal Theological Seminary dan Saint Paul's College.  Sehubungan dengan studi ilmiahnya ia menjelaskan sebagai berikut: "[Saya] membenamkan diri dalam kesarjanaan Bibel kontemporer di tempat-tempat seperti Seminari Teologi Union di New York City, Yale Divinity School, Harvard Divinity School dan universitas bertingkat di Edinburgh, Oxford dan Cambridge."

Selain sebagai dosen tamu di Harvard Divinity School dan ia juga menjadi dosen tamu di berbagai universitas di berbagai belahan dunia.  Dalam setahun, Spong memberikan lebih dari 200 kali kuliah umum di hadapan khalayak umum. 

Sebagai seorang teolog Kristen Liberal, komentator agama dan penulis[1], Spong selalu memperkenalkan dirinya sebagai ikonoklastik, yaitu orang yang suka menyerang ide-ide keagamaan yang sudah mapan.  Spong adalah orang yang secara terbuka mencemooh ide  bahwa “Alkitab sebagai firman Allah yang tanpa salah”.  Spong menolak untuk menerima Alkitab sebagai dokumen harfiah. Spong  menolak hampir semua ceritera supranatural atau kisah-kisah mujizat yang mengelilingi Yesus. Baginya:  no star over Bethlehem (no Bethlehem!), no Magi, no virgin birth, no loaves and fishes, no walking on water, no the rock-hewn grave at the Resurrection.  Tidak ada bintang di atas Betlehem (tidak Betlehem!), tidak ada orang Majus, tidak ada kelahiran perawan, tidak ada roti dan ikan, tidak ada berjalan di atas air, dan tidak ada batu yang digulirkan pada saat kebangkitan.
Dalam buku yang kita bahas ini, pandangannya yang khas itu tampak dalam kalimat-kalimat:

“Saya takkan segan membiarkan pengetahuan akademi Kristen mempreteli satu per satu kisah-kisah Alkitab yang dipahami secara harfiah atau pun berbagai konsep teologis yang ditempatkan pada Yesus orang Nazaret” (hlm. xiii, penekanan dari Marko Mahin).

 “Saya akan berusaha memisahkan Yesus sejarah dari lapisan bahan tafsiran, dari mitologi dan dari klaim ajaib yang berasal dari dunia yang berorientasi adikodrati” (hlm. xiv, penekanan dari M.M)

Beberapa orang Kristen memandangnya sebagai orang yang sesat karena kepercayaan yang radikal. Ia pendukung utama gerakan yang memperjuangkan feminisme dan hak asasi para gay dan lesbian, serta kesetaraan ras baik di dalam gereja maupun di masayarakat luas.  Spong secara aktif mendukung penahbisan gay menjadi imam dan uskup. Dia tidak mengerti mengapa para gay dan lesbian tidak bisa menikah. Jadi ia mendukung pemberkatan nikah sesama jenis bagi para gay dan lesbian. Sehubungan dengan perkawinan sesama jenis kelamin, Spong menyatakan bahwa ia telah memberkati jalan-jalan, hewan-hewan ternak dan hal-hal tidak penting  lainnya  dalam nama gereja selama masa jabatannya sebagai uskup. Kalau hal ituMenurutnya, ilmu pengetahuan telah lama menetapkan bahwa homoseksualitas adalah keadaan yang harus diterima, bukan pilihan pribadi.  Untuk mendukung pendapatnya itu, ia melakukan kritik terhadap teks Bibel yang dinilai diskriminatif terhadap para homoseksual.

Beberapa pandangannya tentang Yesus telah  membuat marah kaum konservatif,  terutama ia tidak percaya  bahwa Yesus adalah Tuhan  per se. Ia mengatakan:

"Kita perlu melihat Yesus bukan sebagai penjajah ilahi dari luar angkasa...tetapi sebagai kehidupan manusia yang begitu benar-benar penuh, ia menjadi saluran melalui dari semua apa yang kita sebut Tuhan dapat mengalir. Dan dia bisa mengalir di dalam kamu dan aku. "

Ia tidak percaya pada sosok Yesus yang tampil [ditampilkan] sebagai seorang wisatawan sorgawi yang datang dari Allah di balik langit melalui suatu kelahiran ajaib dan yang ketika karyanya sudah selesai kembali kepada Allah itu melalui suatu perjalanan kosmik.

Kendatipun menjadi orang pertama yang mentahbiskan gay untuk menjadi pendeta, Spong memiliki istri bernama Christine, lima orang anak dan enam orang cucu.  Ia sekarang tinggal New Jersey.


[1] Spong adalah penulis lebih dari dua puluh buku, beberapa karyanya antara lain:
    * 1973 – Honest Prayer
    * 1974 – This Hebrew Lord
    * 1975 – Christpower
    * 1975 – Dialogue: In Search of Jewish-Christian Understanding
    * 1976 – Life Approaches Death: A Dialogue on Ethics in Medicine
    * 1980 – The Easter Moment
    * 1983 – Into the Whirlwind: The Future of the Church
    * 1986 – Beyond Moralism: A Contemporary View of the Ten Commandments (co-authored with Denise G.
                     Haines, Archdeacon)
    * 1987 – Consciousness and Survival: An Interdisciplinary Inquiry into the possibility of Life Beyond
     Biological Death (edited by John S. Spong, introduction by Claiborne Pell)
    * 1988 – Living in Sin? A Bishop Rethinks Human Sexuality
    * 1991 – Rescuing the Bible from Fundamentalism: A Bishop Rethinks the Meaning of Scripture
    * 1992 – Born of a Woman: A Bishop Rethinks the Birth of Jesus
    * 1994 – Resurrection: Myth or Reality? A Bishop's Search for the Origins of Christianity
    * 1996 – Liberating the Gospels: Reading the Bible with Jewish Eyes
    * 1999 – Why Christianity Must Change or Die: A Bishop Speaks to Believers In Exile
    * 2001 – Here I Stand: My Struggle for a Christianity of Integrity, Love and Equality
    * 2002 – A New Christianity for a New World: Why Traditional Faith Is Dying and How a New Faith Is Being
                     Born
    * 2005 – The Sins of Scripture: Exposing the Bible's Texts of Hate to Reveal the God of Love
    * 2007 – Jesus for the Non-Religious
    * 2009 – Eternal Life: A New Vision: Beyond Religion, Beyond Theism, Beyond Heaven and Hell.

Lihat: http://en.wikipedia.org/wiki/John_Shelby_Spong




II.    Sekilas Tentang Yesus Sejarah

Yesus Sejarah adalah upaya penelitian atau penafsiran Alkitab dengan menggunakan metode ilmiah moderen untuk membuat dikotomi antara Yesus Sejarah (The Jesus of History) dan Kristus Iman (The Christ of Faith).  Pemikiran ini didasarkan pada pemahaman dasar bahwa ada dua sosok Yesus yaitu yang pertama Yesus yang betul-betul sosok manusia, yang benar-benar nyata pernah hidup dalam ruang dan waktu tertentu, serta yang kehidupan dan ajarannya bisa dilacak dengan metode-metode ilmiah.  Yang kedua, Yesus yang tidak nyata, yang ada hanya dalam iman atau pengakuan para pengikutnya.  Ia tidak real dan bersifat imajiner, karena itu kehidupannya digambarkan penuh dengan keajaiban, mujizat dan hal-hal suprarasional. Yesus yang kedua ini dilihat sebagai hasil konstruksi atau imajinasi keagamaan para pengikut Yesus atau para rasul.

Upaya penelitian atau 'The Quest' (penyelidikan), telah dilakukan sejak  dua abad yang lalu. Herman S. Reimarus (1694-1768) dalam  bukunya Fragments  yang diterbitkan G. E. Lessings tahun 1774-1778, hingga  William Wrede dengan bukunya  Das Messiasgeheimnis in den Evangelien (1901), telah membahas bahwa ada keterputusan antara The Jesus of History and The Christ of Faith. Mereka mempersoalkan mujizat Yesus yang dikatakannya tidak benar-benar terjadi dan hanya dilihat sebagai mitos saja.

Studi yang menolak mujizat dan  anti-supranatural ini memuncak dalam diri Rudolf Bultmann yang memisahkan Yesus Iman dan Yesus Sejarah yang dikenal dengan istilah entmythologisierung atau demitologisasi.  Oranje (2004: 16-17) menjelaskan bahwa Bultmann melihat bahwa Perjanjian Baru memuat banyak mitos-mitos yang perlu mengalami demitologisasi.  Seperti yang diuraikan Conn (1988: 49-52),  pandangan Bultmann tentang demitologisasi (Demytologizing atau Entmythologisierung)  dapat diringkas sebagai berikut;

  1. Bahwa di dalam Perjanjian Baru, terdapat  Injil Kristen, dan  pandangan orang pada  abad pertama yang bercirikan mitos.  Injil Kristen atau yang kemudian disebutnya sebagai kerugma (inti pemberitaan Injil) hanya dapat dipahami dengan cara melepaskan berita kerugma itu dari kerangka yang bersifat mitos yang tidak selalu berkaitan dengan Kekristenan.
  2. Mitos merupakan cerita yang tidak membedakan fakta dari yang bukan fakta dalam isinya, dan yang berasal dari suatu jaman pra-ilmiah. Tujuan mitos adalah untuk menyatakan pengertian manusia tentang dirinya sendiri, bukan untuk menyajikan gambaran obyektif tentang dunia. Misalnya mitos tentang  dunia  bertingkat tiga, yaitu surga di atas, bumi, dan neraka di bawah bumi. Pandangan dunia yang mitologis seperti ini tidaklah sesuai dengan kenyataan dan bisa dikritik dengan ilmu pengetahuan.  Jadi kenyataan dapat dijadikan sebagai mitos, sebaliknya mitos dapat dijadikan kembali sebagai kenyataan.
  3. Pendekatan yang sama juga dilakukan terhadap Yesus, yaitu pribadi Yesus yang ada dalam sejarah (Yesus Sejarah) diubah menjadi sosok mitos oleh orang-orang Kristen mula-mula.  Karena itu pengenalan historis tentang manusia Yesus tidak relevan lagi untuk iman Kristen, karena yang dihadapkan Perjanjian Baru pada orang Kristen masa kini bukanlah sosok sejarah tetapi sosok mitologis, yaitu pemikiran dari orang-orang yang menciptakan mitos-mitos tersebut untuk mengerti diri sendiri dengan lebih baik. Rasul- rasul dan penulis-penulis Alkitab telah menulis Yesus yang lain, tidak apa adanya, tetapi menuliskan Yesus dari kaca mata iman  mereka.  Jadi apa yang dituliskan di dalam Alkitab, baik itu ucapan, karya serta istilah –istilah yang dipakai  oleh Yesus yang mengacu kepada keAllahan-Nya, sebenarnya hanya merupakan ciptaan atau kreasi para rasul, jadi bukan deskripsi tentang Yesus yang sebenarnya.
  4. Hal itu tidak cocok dengan sesuai lagi bagi manusia moderen abad ke-20, yang percaya kepada teknologi kesehatan dan bukan doa dan mujizat, karena itu untuk mendapatkan tujuan asli, atau tujuan mula-mula dari mitos itu, maka harus penafsir harus menguliti atau mengupasnya dari mitos.  Proses pengupasan atau penyingkapan ini disebut demitologisasi.  Dengan demikian demitologisasi merupakan penafsiran secara eksistensial, yaitu menurut pengertian manusia terhadap keberadaannya sendiri, dan dengan istilah-istilah yang dapat dipahami oleh orang modern sendiri.
Dapat disimpulkan bahwa Bultmann menolak  Yesus Kristus yang disaksikan oleh para penulis Alkitab .  Ia hanya menerima   Yesus Sejarah dan bukan "Kristus yang diimani".

Di Amerika Serikat, upaya untuk menggali Yesus Sejarah dilakukan oleh kelompok 'Jesus Seminar' yang bertujuan untuk memperbaharui penyelidikan Yesus Sejarah tepatnya 'ucapan-ucapan Yesus yang otentik.' Laporan lengkap penyelidikan ini dituangkan dalam buku berjudul 'The Search for the Authentic Words of Jesus, The Five Gospels, What Did Jesus Really Say?' (1993).  Mereka mengumpulkan  'ucapan-ucapan yang dianggap dari Yesus' dari kurun waktu 300 tahun baik dari Alkitab maupun dari sumber-sumber kuno yang bisa diakses. Ucapan-ucapan yang berjumlah sekitar 1500 itu, kemudian dikategorikan dalam 4 kategori, yaitu perumpamaan, aforisme, percakapan, dan cerita yang mengandung ucapan Yesus. Ucapan-ucapan lebih pendek dianggap lebih asli karena orang lebih mudah mengingatnya daripada kalimat-kalimat panjang yang mungkin disusun kemudian dan sudah berkembang dan dibumbui. Kedua, kemudian dilakukan pemungutan suara (voting) oleh yang hadir untuk menentukan keaslian ucapan itu. Dalam penentuan keaslian itu tersedia empat pilihan, yaitu yang dianggap ucapan Yesus yang: Asli diberi warna merah, yaitu yang dianggap ucapan Yesus sendiri, Mungkin Asli diberi warna merah muda, yaitu untuk menunjukkan ucapan Yesus yang masih diragukan atau telah mengalami perubahan-perubahan selama proses salinan. Mungkin Tidak Asli diberi warna abu-abu, yaitu ucapan yang tidak diucapkan oleh Yesus tetapi mengandung gagasan Yesus, Tidak Asli diberi warna hitam, yaitu ucapan yang dianggap bukan dari Yesus dan ditulis pengikutnya atau musuhnya.


III.   Dari Yesus Ilahi Menjadi Yesus Insani

Spong mempunyai tujuan khusus yang ingin dicapainya dengan penulisan buku ini yaitu “tumbuhnya satu Kekristenan baru yang berasal dari kematian bentuk-bentuk lama Kekristenan adikodrati masa lampau”.  Meminjam konsep Bonhoeffer tentang “Kekristenan tanpa Agama”,  Spong juga ingin membangun Kekristenan baru yaitu “Kekristenan yang tanpa Yesus Ilahi”. Lebih jauh lagi, ia ingin membangun “Yesus yang terlepas dari agama” (hlm. 166).   Kekristenan baru ini adalah Kekristenan yang telah direformulasi dan mempercayai Yesus Insani yaitu Yesus bagi Orang Non Religius yang inklusif dan melampaui batas-batas agama.  Ia menyebut orang-orang Kristen tradisional, yaitu mereka yang masih percaya dengan Yesus Ilahi, sebagai orang-orang Kristen dalam pembuangan dan ia berkeinginan membawa mereka ke suatu Kekristenan masa depan yang hidup (hlm xv).  Dalam Prolog. ia menggambarkan bagaimana orang-orang Kristen “kehilangan” Yesus dan berharap untuk “bertemu” Yesus kembali (hlm 1-4).

Spong membagi bukunya menjadi 25 Bab, yang kemudian dibagi lagi menjadi tiga bagian utama.  Bagian pertama membahas tentang mitos-mitos yang membungkus Yesus Insani atau Yesus Sejarah.  Bagian kedua membahas asal-usul mitos-mitos itu, bagaimana dibentuk dan dikonstruksi.  Bagian ketiga membahas tentang Yesus Insani atau Yesus Sejarah yang disebutnya sebagai Yesus bagi Orang Non Religius.



a.      Bagian 1 : Memisahkan Yesus Insani dari Mitos

Pada bagian pertama ini, Spong menelanjangi, mengupas atau menguliti  'mitos-mitos pembungkus'  yang mengurung “Yesus Sejarah”. Ia berusaha untuk melakukan demitologisasi yaitu membersihkan potret Yesus dari paham-paham mitologis. Gambaran asli Yesus itu menurutnya tidak kelihatan karena terkurung atau terpenjara oleh “lapisan-lapisan beton” mitos-mitos.  Karena itu diperlukan tindakan “penghancuran”, sebagaimana yang dikatakannya:

“Bukan tujuan saya menghancurkan Yesus; melainkan menghancurkan lapisan-lapisan beton yang terus makin mengeras yang telah mengurungnya.  Pada saat pekerjaan ini selesai dilakukan, kita akan siap bergerak lebih jauh untuk melihat Yesus dengan sudut pandang baru – suatu Yesus untuk orang non religius” (hlm. 16, penekanan dari Marko Mahin)


Karena itu, dalam bagian ini ia  mempertanyakan dan mengkritik banyak pemahaman tradisional yang menurutnya adalah “mitos-mitos” yang telah begitu lama menyelubungi sejarah Yesus. Ia mulai dengan mempertanyakan beberapa hal seputar kelahiran Yesus, bahwa tidak ada bintang di atas Betlehem saat Yesus lahir, bahwa Yesus tidak lahir di Betlehem, dan bahwa Yesus tidak lahir dari seorang perawan. Kemudian ia beranjak ke masalah dua belas orang murid, bahwa  tidak berjumlah 12 orang, tidak ada mukjizat fisik yang dilakukan Yesus, tidak ada orang sakit disembuhkan, tidak ada orang mati disembuhkan. Bahkan prosesi kematian Yesus pun dia sebut hanyalah sebuah liturgi berkedok sejarah.

Pada bagian ini saya tidak mengulas semua yang dibahas dan dikritik Spong, namun saya hanya mengambil salah satu contoh yaitu mengenai hal-hal seputar kelahiran Yesus.
  1. Tempat kelahiran:  Bukan Betlehem tetapi  Nazareth.  Dalam injil tertua yaitu Injil Markus tidak ada petunjuk bahwa Yesus di lahirkan di Betlehem, baru pada injil yang kemudianatius dan Lukas yang menginformasian tempat kelahiran Yesus.   Di buat di Betlehem karena Betlehem adalah kota tempat kelahiran raja Daud.  Jadi disebut lahir di Betlehem sebagai alat legitimasi diri Yesus.  Spong menulis, “Jika sejarah adalah agenda utama kita, pada hari Natal kita harus bernyanyi “Hai kota mungil Nazaret”, sebab kota inilah yang kuat kemungkinannya sebagai tempat di mana orang yang dikenal sebagai Yesus dari Nazaret dilahirkan” (hlm. 25).
  2. Tidak ada Bintang Betlehem: tidak ada bintang yang mengembara atau berpindah-pindah tempat untuk menuntun orang majus, karena setiap bintang memiliki lintasan yang sudah tetap dan kalau ia berpindah-pindah seperti yang digambarkan dalam PB itu berarti ada kekacauan dalam konstelasi alam semesta.
  3. Tidak ada orang Majus: Ceritera ini ide dasarnya terdapat di kitab Yesaya 60: 2-6 yang dikenakan pada Yesus untuk mendukung ide tentang Bintang Betlehem.
  4. Tidak ada sensus penduduk: untuk apa dilakukan kalau hanya untuk mengetahui siapa saja keturunan raja Daud, mengingat pemerintah pada waktu itu tidak mengeluarkan akta kelahiran,perkawinan dan kematian.
  5.  Tidak ada kelahiran dari seorang perawan: Jika Yesus adalah sesosok manusia pria yang hidup dalam dunia kuno, maka pasti dia memiliki bukan saja seorang bunda insani, tetapi juga seorang ayah insani.

 Spong mempertanyakan semua hal itu, “Ada apa dengan Yesus ini, sehingga membuat orang merasa perlu menyelimuti kelahirannya dengan asal-usulnya dari Betlehem dan dengan tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban?” (hlm. 28).  Dalam Bab 3 ia berupaya membuktikan bahwa hal “Orangtua Yesus” merupakan “Kisah Gabungan Fiktif”.  Ia  berupaya membeberkan kisah orang tua Yesus dari sudut pandang Matius, Markus, Lukas dan sumber tertulis yang dinamakan Q (Jerman Quelle—sumber).   Dari penelusuran yang dilakukan Spong menyatakan,  “Saya tidak percaya bahwa orang bernama Yusuf ini, yang menjadi ayah insani yang melindungi Yesus, pernah hidup. Teks-teks yang kita teliti di atas mendukung pernyataan saya ini. Yusuf dari awal sampai akhir adalah sosok mitologis ciptaan murni penulis yang kita sebut Markus.” (hal. 40).  “Saya tidak berpikir ada orang yang mengetahui siapa ayah Yesus, termasuk para penulis Perjanjian Baru. Markus tidak pernah mengatakannya. Matius dan Lukas mengatakan bahwa Roh Kudus adalah ayah Yesus sebenarnya. Injil Yohanes, yang sering disebut Injil Keempat, menyingkirkan kisah kelahiran ajaib Yesus, tetapi merujuk pada Yesus sebabagai anak Yusuf pada dua kesempatan (Yohanes 1:45; 6:42).  Menurut Spong alasan mengapa Yusuf tetap menjadi sosok tidak jelas sepanjang sejarah Kristen, karena ia memang merupakan karakter sastrawi sejak dari awalnya, diciptakan dari mitologi interpretatif yang berkembang.


b.      Bagian 2 : Gambaran Asli Yesus
                              
Bagian kedua memaparkan proses munculnya mitologisasi atau masuknya mitos-mitos ke dalam Perjanjian Baru.  Pada bagian ini, Spong mengajak pembacanya masuk ke dalam periode sejarah lisan Kristen yaitu kurun waktu sebelum ingatan tentang Yesus atau kata-katanya dituliskan.  Spong mengajak pembaca melihat Yesus dalam konteks asli Yahudi.  Dengan cara ini Spong memperlihatkan bagaimana pada waktu injil-injil ditulis, Yesus ditafsir oleh dan dipahami melalui Kitab Suci Yahudi.  Gambar-gambar mesianik Yahudi diterapkan kepadanya dan kehidupannya diceriterakan, disusun oleh tahun liturgis yang diikuti di sinagoge.  Tahun liturgis ini kini diakui sebagai prinsip

Pada bagian ini ia memperlihatkan Yesus Mitologis atau Yesus Ilahi dibuat setelah Yesus meninggal. Rekayasa tersebut dilakukan oleh para penulis Injil, namun karena dilakukan  tidak konsisten satu sama lain, hal itu memberi petunjuk tentang hal yang sebenarnya terjadi (Contohnya tentang Mujizat Lima Roti dan Dua Ikan).

Yang utama dalam bagian dua ini adalah Spong menunjukkan  mengapa para penulis Injil merasa perlu merekayasa sejarah dalam penulisan Injil. Mengapa mereka perlu menciptakan beberapa mitos seputar keberadaan Yesus di dunia. Hal itu dilakukan untuk memperlihatkan betapa luar biasanya dan pentingnya Yesus sebagai manusia yang mempengaruhi kehidupan masyarakat Yahudi pada saat itu, sehingga semua ramalan kitab suci di masa lalu dirasa perlu digenapi dan dan semua simbol dan mitos dirasa perlu diciptakan di dalam diri Yesus. Ia harus dipararelkan dengan tokoh-tokoh yang ada dalam sejarah dan kepercayaan masyarakat Yahudi dimana ia hidup, misalnya dengan tokoh Musa yang kelahirannya sangat dramatis, pembuat mujizat dan sanggup memberi makan para pengikutnya.


c.       Bagian 3 : Yesus bagi Orang Non Religius

Setelah melakukan demitologisasi pada bagian ketiga ini Spong menunjukkan “gambaran asli Yesus
“  yaitu  “Yesus bagi Orang Non-Religius”  yaitu Yesus yang humanis, toleran, serta serba-inklusif, tanpa embel-embel rumusan dogma abstrak-hellenis.  Namun sebelum masuk ke tahap itu, ia terlebih dahulu memaparkan bahwa “Yesus bagi Orang Non Religius” itu adalah Yesus yang dahulu sungguh hidup  sebagai figur atau sosok orang Yahudi, bukan sosok mitos atau legenda ciptaan (Bab 19).  

Setelah melalui proses demitologisasi yaitu menguliti lapisan-lapisan tafsiran yang pernah dikenakan kepada Yesus, maka Spong menolak bahwa Yesus adalah tokoh fiksi atau tokoh legenda  (h. 248).  Baginya, Yesus dulu sungguh hidup. Ia adalah seorang tokoh atau figur sejarah yang sungguh-sungguh pernah hidup di suatu tempat dan  di suatu zaman tertentu.  Nazareth di Galile adalah  kampung halamannya dan ia mulai  hidup di bumi ini  antara tahun-tahun terakhir Tarikh Masehi dan berakhir dalam pertigaan pertama dari abad pertama zaman itu (h.247).

Dalam Bab 20, dengan mengikuti pola Bonhoeffer, Spong melakukan pemisahan antara Kekristenan dan agama. Baginya agama adalah upaya manusia supaya aman dan bukanlah upaya manusia mencari kebenaran (hlm. 266).  Karena merupakan suatu upaya pencarian keamanan maka “Allah” dalam agama pun sengaja dikonstruksi untuk melegitimasi agama itu sendiri.   Allah yang dikonstruksi atau diciptakan oleh manusia ini oleh Spong disebut sebagai Allah Teistik. Proses penciptaan “Allah Teistik” disebutnya sebagai Teisme yaitu “definisi yang dibuat manusia mengenai siapa Allah” (hlm. 268).  Jadi, ada perbedaan besar antara Allah pada dirinya sendiri dan teisme.  Dengan pernyataan ini Spong hendak menegaskan bahwa teisme Kristen telah menciptakan Allah Teistik  ataun Yesus Teistik, dan itu sebenarnya bukalah Yesus yang sesungguhnya.

Dalam Bab 21, Spong menyatakan bahwa untuk mencari “Yesus bagi Orang Non Religius” langkah yang harus dilakukan adalah “Yesus dipisahkan sampai ke akar-akarnya dari teisme” (hlm. 270).   Dalam bab ini Spong juga memperlihatkan bagaimana teisme itu bisa menjadi sumber kemarahan religius.  Karena ada pemahaman tertentu tentang Allah maka orang dapat membenci orang lain, menganiaya dan menindas orang lain. Ketika Allah dipahami sebagai Allah suku (A tribal God) maka Allah selalu menjadi pemberi legitimasi terhadap prasangka dan bahkan konflik dengan mereka yang dianggap memiliki label berbeda. Allah pun dipersempit menjadi Allah penyelamat suku atau kelompok tertentu.Dengan demikian, Allah suku adalah Allah ciptaan manusia yang berpikiran sempit karena itu Allah pun didefinisikan secara sempit.

Karena itu dalam bab-bab selanjutnya Spong menawarkan pemahaman Allah secara luas, tentang Yesus yang tidak menindas yaitu:  Yesus yang merobohkan semua batasan kesukuan, ras, agama, dan prasangka. Yesus yang mendobrak semua kekakuan agama dan tradisi orang Yahudi pada saat Ia hidup.  Baginya Yesus adalah “Penghancur Batas Kesukuan” (Bab 22), “Penghancur Prasangka dan Sterotip” (Bab 23), “Penghancur Batas Keagamaan” (Bab 24).  Untuk menjadi Yesus yang demikian memang tidak diperlukan mujizat atau hal-hal yang supranatural


III.              IV.  Penutup: Kritik dan Tanggapan

Tulisan Spong sebenarnya tidaklah begitu “menghebohkan”, apalagi sampai “mengguncangkan iman”. Bagi mahasiswa teologi,  yang telah belajar “teologi kontemporer” dan telah belajar tentang berbagai macam metode menafsirkan Alkitab, atau berbagai macam pendekatan terhadap Alkitab, apa yang telah dilakukan Spong bukanlah hal baru.  Dapat dikatakan tidak ada teori baru yang ditemukan oleh Spong.
Tulisan Spong berharga karena ia telah mengkritik gaya hidup Kekristenan yang cenderung seremonial, sok sibuk dan sok penting mengurus Allah, yang sebenarnya sangat maha kuasa dan tidak perlu diurus apalagi dibela oleh manusia.  Sebagai seorang Kristen progresif,  Spong tidak mau repot dengan tindakan “mengurus Allah” tersebut.  Ia ingin agar sosok Yesus menjadi saluran transendensi, sosok manusia yang menyatu dengan sumber hidup, pengungkap sumber cinta, suatu makhluk baru yang membuat gamblang Landasan Semua Keberadaan [The Ground of All Being]. Ia adalah suatu kehadiran Ilahi, bukan suatu manusia-ilahi mitologis; suatu manusia yang lengkap, yang menjadi kehidupan yang melaluinya kuasa sepenuhnya dari realitas keilahian Tuhan dapat muncul dalam sejarah manusia.
Namun kita juga harus waspada dengan pendekatan Spong yang “membangun yang baru dengan menghancurkan yang lama”.  Proses penghancuran itu memang dapat menyakiti perasaan keagamaan kita, bahkan dapat mendatangkan krisis kepercayaan terhadap agama. 

Saya setuju dengan figur Yesus Sejarah yang digambarkan Spong, dan figur Yesus begitulah yang saya imani, saya ajarkan di kelas teologi  dan saya khotbahkan di mimbar gereja.  Tetapi hal itu saya dapati dengan mempelajari Alkitab secara kritis sama seperti Spong, tetapi tanpa harus seperti Spong yaitu .......menghina mujizat, dan melihat Alkitab bukan sebagai Firman Allah.





Daftar Pustaka

Borg, Marcus J. 2000.  Kali Pertama Jumpa Yesus Kembali, Yesus Sejarah dan Hakikat Iman Kristen Masa Kini, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000;
Eckart. A. Roy . 1996.  Menggali Ulang Yesus Sejarah: Kristologi Masakini, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996
Conn, Harvie M. 1988  Teologia Kontemporer. Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara.
Oranje, L. 2004.  Sejarah Ringkas Theologia Abad XX. Jakarta: BPK Gunung Mulia.