Minggu, 11 Januari 2015

ADAT KAWIN DAN KAWIN ADAT (Bagian 1)


ADAT KAWIN DAN KAWIN ADAT:
HUBUNGAN INJIL  DAN ADAT
DALAM KONTEKS PELAKSANAAN  RITUAL DAN UPACARA PERKAWINAN
DI KALANGAN MASYARAKAT DAYAK NGAJU 
ANGGOTA GEREJA KALIMANTAN EVANGELIS

Oleh: MARKO MAHIN



A.    Hubungan Positif : Hanya Adat Kawin

Dalam beberapa literatur yang terakses diperlihatkan bahwa para pendeta Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) pada masa kini cukup positif memandang adat dan hukum adat Dayak sehubungan dengan pelaksanaan upacara perkawinan  Hermogenes Ugang (1983) memperlihatkan bahwa  kekristenan berkesinambungan dengan adat Dayak Ngaju, bahkan adat sama luhurnya, pararel atau “punya martabat yang sama” dengan kekristenan. Karena itu maka orang Dayak Kristen menggunakan keduanya yaitu baik adat dan hukum  adat serta kekristenan dalam pelaksanaan upacara perkawinan.  Mereka mengambil-alih beberapa unsur-unsur Kaharingan untuk membenah keluhuran Kristen, yaitu memanfaatkannya atau menggunakannya dalam hidup kekristenannya. Mereka menelusuri jalur-jalur adat leluhur suku untuk dialihkan kepada atau diisi dengan iman Kristen (1983: 78-84).


J.J. Songan (1992) dalam Disertasi Doktoralnya yang berjudul Cohesive Aspects Of Ngaju Dayak Marital Tradition, menyatakan bahwa:
  1. Ide perkawinan suku Dayak Ngaju mengacu kepada pandangan tentang manusia yang berorientasi pada sesama.
  2.  Ide perkawinan suku Dayak Ngaju mengarahkan modernisasi ke tema kebersamaan.
  3. Ide perkawinan suku Dayak Ngaju mengubah sikap egosentris ke sikap agape, dalam artian teologis.
  4.  Ide perkawinan suku Dayak Ngaju mengutamakan perwujudan bentuk kehidupan yang ditebus ilahi dalam artian teologis.
  5.  Ide perkawinan Ngaju mengobarkan hakikat gotong-royong. 

 Ia juga mengungkapkan satu istilah tentang hubungan antara pemenuhan hukum adat dan kekristenan yaitu “hatuli” yang artinya suatu tindakan menyatukan diri dan didasari pada sikap saling pengertian satu sama lainnya. Menurutnya nilai hatuli senafas dengan sikap kristiani  yang terdapat dalam Filipi 2:1-4 tentang kenosis atau pengosongan diri.  Ia mengatakan bahwa kebudayaan suku Dayak Ngaju dapat menjadi alat tumpuan kasih kristiani serta sumber kristiani untuk  mendapatkan kasih Allah.  Karena itu ia mendorong agar  gereja memulihkan hubungan serta mencari titik kontak dengan aspek-aspek kebudayaan adat Dayak Ngaju yang dapat diberi arti secara Kristiani (1990:350).


Sementara Fridolin Ukur (1960: 128) melaporkan bahwa sebenarnya Gereja Kalimantan Evangelis telah mengambil alih beberapa segi adat nikah yang dianggap baik dan tidak bertentangan dengan kepercayaan Kristen.  Menurutnya segi adat yang telah diterima oleh gereja.  Penerimaan itu tampak pada upacara perkawinan orang Dayak yang telah beragama Kristen yaitu sebelum dilangsungkan upacara peneguhan dan pemberkatan nikah di gedung Gereja atau di gedung lainya, maka perkawinan itu harus lebih dahulu disahkan di hadapan hukum yang dalam hal ini di depan adat, dimana ditandatangani suatu Surat Perjanjian Perkawinan di depan orang lain dan saksi-saksi, serta dihadiri dan disaksikan pula oleh kepala kampung atau kepala adat dan surat ini diyakini sah sebagai surat perkawinan Burgerlijke Stand (BS).

Apa yang dipaparkan oleh ketiga orang di atas, semakin diperkuat oleh  tulisan terbaru  dari Januaria Simpan (2011) dengan judul Pemenuhan Hukum Adat Perkawinan di Kalangan Warga GKE Yerusalem Resort Palangka Raya,  Kalimantan Tengah.  Skripsi ini, yang dipertahankan di STT-GKE Banjarmasin, memaparkan bagaimana warga jemaat GKE melihat bahwa:
  1. Pemenuhan hukum adat perkawinan itu tidak mengganggu iman Kristennya.
  2. Alkitab atau ajaran Kristen tidak bertentangan dengan adat.
  3. Menjadi Kristen bukan berarti tidak lagi memenuhi hukum adat.
  4. Pemenuhan hukum adat perkawinan adalah bagian dari praktik iman.
  5. Pemenuhan hukum adat ini adalah sebagai sesuatu yang bersifat positif dan tidak mengganggu kepercayaan.
  6. Petuah atau nasehat dari orang tuah (papeteh) dan tampung tawar merupakan salah satu nilai adat yang bisa diakomodasi dan dianggap sebagai doa serta penguat iman. 
  7. Pemenuhan hukum adat perkawinan itu positif, kerena melamar atau menikahi bukan seperti membeli hewan, tetapi mengambil dari tangan orang tuanya.  Hal itu sebagai tanda bahwa seorang laki-laki menghargai orang tua yang telah membesarkannya dan juga menjadi nilai perkawinan itu sendiri, serta menandakan bahwa perempuannya tidak ternilai. 



Juga dilaporkan bahwa beberapa anggota jemaat menolak penggunaan darah dan acara hasaki hapalas, manawur, dan menginjak telur dalam upacara perkawinan. Bahkan ditemukan ada warga jemaat yang tidak melaksanakan prosesi pemenuhan hukum adat perkawinan secara penuh. yang dikenal Palaku atau jalan hadat diserahkan begitu saja kemudian berangkat  ke gereja dan catatan sipil saja. Hal itu dilakukan dengan alasan bahwa prosesi itu tidak mutlak, hanya pilihan, bukan keharusan.  Namun pada sisi lain,  ada juga warga jemaat yang jemaat menganggap bahwa pemenuhan hukum adat, pemberkatan nikah dan catatan sipil itu sama pentingnya dan memiliki fungsi masing-masing, namun semuanya itu tidak ada hubungannya atau tidak saling bersentuhan.  Baik pemenuhan hukum adat maupun catatan sipil dilihat bisa saja dilaksanakan satu per satu, namun dianggap sama sekali tidak akan mengganggu iman Kristen mereka.

Pelaksanaan pemenuhan hukum adat perkawinan selalu diiringi dengan kebaktian atau ibadah yang disebut dengan ibadah pengucapan syukur. Bagi warga jemaat ibadah itu adalah bentuk pengakuan gereja akan adat dan identitas suku. Dengan adanya ibadah maka  gereja berkontribusi turut menghidupkan identitas suku.

Sebagai kesimpulan Januaria Simpan (2011: 87) menyatakan  bahwa orang-orang Dayak Kristen masa kini telah cerdas dalam memilih dan menyeleksi mana yang perlu diadopsi dari adat dan mana yang harus ditinggalkan.  Mereka bukan menjalankan paham sinkritisme, melainkan lebih melaksanakan adat yang bertujuan untuk menunjukan identitas dan jati dirinya sebagai orang Dayak Ngaju.  Dalam pelaksanaan perkawinan itu, pada dasarnya jemaat lebih mengutamakan kekristenan, dimana disetiap akhir acara-acara adat akan selalu ditutup dengan acara kebaktian ucapan syukur.

Mungkin ada pertanyaan apakah dampak dari pengambil-alihan, memilih dan menyeleksi yang dilakukan oleh warga GKE itu?  Adalah bijak untuk membaca hasil penelitian dengan judul Kaharingan: Perjuangan Masyarakat Adat Dayak Ngaju di Kabupaten Kotawaringin Timur, Dahulu dan Sekarang yang dilakukan oleh Damardjati Kun Marjanto (2011:113-114) sbb.:



Pengaruh agama Kristen terhadap penganut agama Kaharingan sangat kuat sehingga pada waktu lalu banyak penganut Kaharingan yang berpindah ke agama Kristen karena dalam praktik-praktik ritual keagamaan Kristen banyak mengadopsi ritual-ritual Kaharingan sehingga seolah-olah agama Kristen tidak jauh berbeda dengan agama Kaharingan, misalnya dalam ritual atau upacara perkawinan pada agama Kristen, mereka mengadopsi ritual Haluang Hapelek dan mengikuti Pelek Rujin Pengwin atau aturan-aturan perkawinan Nyai Idas Bulan Lisan Tingang yang  merupakan nama seorang Bidadari yang merupakan bagian dari cerita  yang ada di Kitab Panaturan. Menurut agama Kristen, hal itu merupakan upacara adat perkawinan, namun bagi para tokoh  Kaharingan yang faham tentang Kitab Panaturan, upacara Haluang  Hapelek tersebut bukan upacara adat namun upacara agama Kaharingan.


1 komentar:

  1. Hahaha.... Sangat menarik nih, judulnya juga aneh banget

    BalasHapus