Jumat, 02 Januari 2015

KRISTUS DAN KEBUDAYAAN

KRISTUS  DAN 
KEBUDAYAAN

Oleh: Marko Mahin

We cannot say, “Either Christ or culture”, because we are dealing with God in both cases.  We must not say, “Both Christ and culture”, as thought there were no great distinction between them; but we must say, “Both Christ and culture,” in full awarness of the dual nature of our law, our end, and our situation
(Niebuhr, 1956: 122)



A.     Masalah Menetap
Masalah hubungan  Kristus dan kebudayaan bukanlah hal baru.  Masalah ini adalah permasalahan klasik dan telah menjadi pergumulan orang-orang Kristen sejak semula. Ia merupakan pergumulan abadi orang-orang Kristen di sepanjang masa dan segala tempat.   Sejak jemaat Kristen abad pertama di Yerusalem, hingga masa kini pada jemaat Kristen di segala penjuru dunia.  Ia merupakan permasalahan yang langgeng (a perennial issue), terus-menerus ada.  Niebuhr (1956) menyebutnya sebagai “permasalahan yang menetap” (enduring problem) yang tinggal dalam  kehidupan orang Kristen.  Jadi, selama orang Kristen ada maka topik ini tetap menjadi “pembicaraan” dan “permasalahan”. 




Perbedaan ruang dan waktu,  mengakibatkan tidak ada jawaban tunggal terhadap permasalahan ini, tetapi jawaban serial (Niebuhr 1956).  Masing-masing kelompok Kristen mempunyai jawaban yang khas.  Jawaban yang diberikan  bisa saja sama atau berbeda.  Sangat mungkin merupakan kelanjutan bahkan berlawanan dari jawaban sebelumnya. Dalam rentang sejarah kekristenan, Niebuhr (1956) mencatat minimal ada 5 tipologi jawaban yaitu: Antagonis, Akomodatif, Sintesis, Dualistis,, dan Konversionis.  Berbagai upaya dilakukan.  Mulai dari yang ekstrim kiri (pendekatan antagonis), ekstrim kanan (pendekatan akomodatif), hingga tengah-tengah (pendekatan sintesia, dualis dan konversionis). 

Niebuhr (1956) menyatakan bahwa masalah menetap ini mulai muncul sejak masa kemanusiaan Yesus Kristus, yaitu pada masa Ia yang adalah orang Yahudi ...dan tetap sebagai orang Yahudi sampai akhir hayatnya, dimana ia memperhadapkan Yudaisme (agama, adat-istiadat, etika, tata-kehidupan dan tradisi Yahudi) pada tantangan berat yang membahayakan kebudayaan Yahudi.  Dengan menggunakan otoritas ilahi tentang “kerajaan yang bukan dari dunia ini”,  Ia melakukan tindakan-tindakan anti-strukrur, anti kemapanan.  Ajaran-ajaran-Nya menyimpang dari kebiasaan yang ada, sehingga menjadi ancaman bagi kebudayaan. Itulah alasan utama orang Yahudi menyalibkan-Nya.

Masalah ini terus berlanjut pada masa jemaat Kristen mula-mula, dimana terjadi penolakan dan penganiayaan atas orang Kristen bukan semata-mata karena politik tetapi juga kebudayaan. Pada masyarakat Dayak di  Kalimantan, masalah hubungan Kristus dan kebudayaan muncul sejak Injil diperkenalkan, yang mengakibatkan mereka mengenal dua pola dan dua landasan kehidupan yaitu agama Kristen dan adat. Para missionaris berbicara tentang loyalitas dan kesetiaan kepada mereka, yaitu tentang loyalitas atau kesetiaan kepada Kristus atau kepada yang lain.  Hal ini membuat hubungan gereja dan kebudayaan dilihat sebagai “pergumulan rangkap” gereja. Gereja dilihat bergumul untuk mempertandingkan dan mempersandingkan Kristus dan kebudayaan. 


B.      Kristus Lawan Kebudayaan

Dalam sejarah, bahkan hingga kini, terdapat kelompok Kristen yang mempertandingkan Kristus atau Gereja dengan kebudayaan. Ciri kelompok ini adalah tidak kompromi, konfrontatif, menolak, anti atau melawan kebudayaan,  dengan alasan setia dan cinta pada Kristus.  Kebudayaan dilihat beroposisi atau bertentangan dengan Kristus.  Kebudayaan dilihat bagaikan racun mematikan atau virus jahat yang dapat merusak atau melunturkan iman dan kesetiaan pada Kristus, karena itu secara radikal kebudayaan harus ditolak.  Kebudayaan dilihat sebagai ancaman, sebagai penggoda yang licik dan berbahaya, yang dapat memisahkan seorang beriman dari Kristus. Kebudayaan dilihat berperan antagonis:  yang jahat dan yang dibenci.

Kristus adalah Tuhan. Cinta dan kesetiaan orang percaya harus tertuju dan hanya pada-Nya. Tidak boleh ada hal lain atau tuhan lain, selain Kristus, yang menjadi objek iman, cinta, dan kesetiaan orang percaya.  Pembuktian cinta kepada Kristus diwujudkan dalam bentuk  penolakan atas dunia dengan segala keinginan dan nafsu yang ada di dalamnya.  Demi Kristus, dunia dan segala isinya (termasuk kebudayaan) harus ditolak.  Kesetiaan kepada Kristus dilihat identik dengan penolakan radikal terhadap kebudayaan.

Pandangan  ini dianut oleh orang Kristen yang eksklusif, radikal, ortodok atau konservatif.  Bagi mereka sejarah adalah kisah tentang gereja atau kebudayaan Kristen yang bangkit dari peradaban kafir yang sedang menuju kematiannya. Seperti yang digambarkan Warneck (1909) kebudayaan  adalah “kekafiran yang sedang sekarat”  (the Dying Heathenism) yang beroposisi kontras dengan “Kristus yang Hidup” (the Living Christ). Kebudayaan juga dilihat sebagai “kayu lapuk” (Witschi, 1942: 85).   yang akan tumpas musnah dengan sendirinya (Kraemer 1947: 231).

Penganut pandangan ini berpendapat bahwa menjadi Kristen identik dengan meninggalkan budaya asal dan masuk budaya baru yang serba Kristiani.  Baptisan dilihat sebagai proses pembersihan dari segala dosa-dosa ketika berada di budaya asal dan pembebasan dari budaya asal.  Konsep “manusia lama” ditafsirkan sebagai keadaan ketika hidup dan berada dalam budaya asal, sehingga konsep “menjadi manusia baru”  diidentikkan dengan meninggalkan kebudayaan asal. 

Sikap anti kebudayaan ini terjadi sejak Kristen mula-mula hingga sekarang ini.  Dilakukan baik secara individu maupun kelompok.  Penulis Kitab Wahyu secara radikal menolak kebudayaan dilatarbelakangi penganiayaan yang dialami oleh jemaat Kristen pada masa itu.   Kebudayaan Yahudi dan Romawi, yaitu kelompok masyarakat yang tanpa belas-kasihan secara kejam telah menindas dan menganiaya, dilihat sebagai sesuatu yang jahat, membahayakan dan mematikan, karena itu harus dihindari, ditolak dan  dilawan.   Karena mereka jahat atau tidak baik, maka kebudayaan mereka juga jahat dan tidak baik.

Penulis Surat Yohanes Pertama menolak kebudayaan dilatarbelakangi ajaran bahwa orang Kristen adalah manusia baru yang hidup dalam susunan masyarakat baru (baca: dunia baru) dengan hukum yang baru dan  penguasa yang baru yaitu Kristus.  Diyakini bahwa setelah menjadi orang Kristen, mereka tidak lagi tinggal dan hidup dalam “dunia” yang  “gelap” dan menjadi “anak-anak kegelapan”.  Mereka telah keluar, berpindah atau hijrah ke dalam “terang” dan menjadi “anak-anak terang”.  Ciri utama masyarakat baru itu adalah kasih kepada sesama dan Tuhan. Seseorang yang tidak mengasihi sesamanya berarti masih berada dalam kegelapan dan hidup dalam kegelapan (1 Yoh. 2: 11).   Seseorang yang mengasihi dunia, maka kasih Bapa tidak ada di dalam orang itu (1 Yoh 2: 15). Sebagai “anak terang”, orang Kristen  harus menyangkal “dunia” sebagai bukti cinta dan iman kepada Kristus.  Wujud penyangkalan terhadap dunia adalah penolakan terhadap kebudayaan. Dengan demikian berlakulah pernyataan ini: “Aku mencintai Kristus maka aku membenci kebudayaan, aku membenci kebudayaan maka aku mencintai Kristus”.

Bagi penulis Surat Yohanes Pertama, dunia ini terbagi dua secara tegas, secara hitam-putih,  menjadi wilayah terang dan wilayah gelap.  Umat baru yaitu orang-orang Kristen tinggal dan hidup terpisah dari masyarakat lama.  Mereka dideskripsikan diam di wilayah putih yang terang-benderang, dan menjadi “anak-anak terang”.  Mereka tidak lagi tinggal di dunia.  Telah keluar dari dunia. Dunia adalah tempat tinggal “anak-anak kegelapan” yaitu mereka yang belum menjadi Kristen.  

Dunia digambarkan sebagai wilayah gelap-gulita yang dikuasai oleh Iblis Jahat. Dilihat sebagai kawasan  hitam yang sarat dengan nafsu yaitu keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup (1 Yoh. 2: 16). Dunia ini  fana, tidak abadi atau sedang lenyap menuju kebinasaan kekal.  Sedangkan orang-orang percaya akan hidup kekal selamanya.  Betapapun baik, indah dan megah, dunia itu jahat, dunia itu sia-sia. Karena itu, orang-orang percaya dilarang mencintai dunia dan segala isinya.  Cinta orang percaya hanya pada Kristus.
 
Tertullianus, Hidup pada abad ke 2 Masehi dengan motto terkenal yang diajukan: “Apa hubungan Yerusalem dan Athena?” Yerusalem adalah simbol agama sedangkan Athena adalah simbol kebudayaan, baginya tidak ada hubungan antara keduanya.  Ia fokus pada moralitas dan ketaatan iman yang ketat. Hidup dilihatnya sebagai penghindaran dosa dan persiapan untuk menghadap pengadilan ilahi. Menurutnya ketika dilahirkan sebagai bayi, manusia itu bak kertas yang polos, putih dan bersih, kemudian masyarakat yang membuatnya kotor dan tidak polos lagi.  Karena itu dengan tegas ia mengambil sikap sbb.:
  1. Melarang orang Kristen berpolitik dengan alasan bahwa orientasi utama orang Kristen adalah mengejar kemuliaan dan keselamatan di akhirat bukan kekuasaan dan kemuliaan di dunia.
  2. Melarang orang Kristen menjadi tentara atau ikut dinas militer karena dalam ketentaraan dilangsungkan upacara kafir dan sumpah setia kepada kaisar, yang utama karena melanggar Hukum Tuhan yaitu “Dilarang Membunuh”. 
  3. Melarang perdagangan karena banyak kebohongan dan tipu-menipu serta penuh hasrat untuk memiliki.
  4.  Menolak filsafat  dengan alasan sebagai sumber ajaran sesat.
  5. Menolak seni karena merupakan media pemujaan ilah lain.
  6. Menolak musik  karena menjadi sarana dosa.
  7. Menolak teater  karena  merupakan  kesembronoan, keganasan dan tragedi.

Menurutnya pada hari penghakiman terakhir, para seniman, olahragawan, filsuf dan penyair akan mengerang kesakitan dalam api neraka.  Kebudayaan yang ada di masyarakat dilihat sebagai ajang penyembahan berhala.  Karena itu ada seseorang yang bernama Hippolytus mendaftarkan sejumlah jabatan dalam masyarakat Yunani-Romawi yang harus dijauhi oleh orang Kristen, dan bila seseorang ingin menjadi Kristen ia harus meninggalkan jabatan itu.


Leo Tolstoi memiliki pandangan yang hampir sama dengan Tertullianus. Ia memandang Yesus sebagai pemberi hukum baru yaitu Matius pasal 5. Ia menafsirkan PB secara hurufiah yaitu  bahwa dengan mentaati hukum itu maka manusia akan mengalami kesempurnaan dan kesejahteraan hidup.  Baginya penyerahan diri kepada hukum Kristus berarti perlawanan terus menerus terhadap kebudayaan.   Negara, gereja dan sistem kepemilikan dilihat sebagai kejahatan. Filsafat, seni dan ilmu pengetahuan dilihat sebagai kutukan. Sumpah setia kepada negara, membayar pajak, dinas militer dan aktivitas hukum dilihat sebagai sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani.  Gereja pun harus ditolak dengan alasan karena sudah tidak mempraktekkan ajaran Kristus lagi.  Karena itu jangan berpartisipasi dalam kebudayaan.

Pada masa kini, gerakan anti kebudayaan merupakan permasalahan dilematis dalam kehidupan bergereja, karena:

  1. Umumnya diprakarsai oleh orang yang kaku, berhati keras, non kompromi, namun berhati tulus. Mereka rela menderita, dihina, bahkan dianiaya demi apa yang diyakininya benar.  Rela meninggalkan rumah, masyarakat dan kemapanan demi apa yang diyakini. Mereka rela menderita dan berkorban demi Kristus. 
  2. Pendekatan yang demikian, merupakan jawaban yang paling mudah untuk menjelaskan hubungan antara Gereja dan Dunia, Kristus dan Kebudayaan.
  3. Cepat diserap oleh mereka tidak cukup dewasa secara rohani dan sedang mengalami kebingungan.
  4. Walaupun tidak direncanakan dan bukan tujuan utama, gerakan ini telah memberi sumbangan besar kepada dunia berupa pembaharuan masyarakat.  Secara kebetulan ada hasil sampingan yang tidak direncanakandari gerakan ini yaitu AGAMA SOSIAL.
  5.  Dia muncul dan eksis sebagai reaksi atas muncul dan adanya tipe-tipe kekristenan yang sangat longgar dan kompromis dengan kebudayaan.  Koreksi dalam tubuh gereja.
  6. Secara teologis, mereka jadi anti science karena membedakan dan mempertantangkan antara nalar dan wahyu.  Memvonis kebudayaan sarat dengan dosa. Mengutamakan Hukum dan meremehkan anugerah.  Membangun agama legalistik, penuh larangan, hukum taurat baru.  Yang diutamakan ketaatan.


Manifestasi dari anti kebudayaan diwujudkan dalam bentuk anti rasio, anti  ilmu pengetahuan dan akhirnya anti teologi.  Teologi dilihat sebagai upaya manusia memahami Allah dan tidak menyelamatkan. Teologi dilihat sebagai upaya menyeludupkan kebenaran manusia ke dalam kebenaran Firman Tuhan.  Fenomena yang kasat mata pada masa kini adalah bahasa manusiapun dilihat telah tercemar, berdosa, bahasa Iblis.  Sehingga orang-orang didorong, bahkan diajarkan berbahasa roh yang diyakini tidak dimengerti oleh  Iblis.  Jadi berdoa pun tidak lagi dengan bahasa manusia, atau bahasa dunia tetapi dengan bahasa roh.


C.      Kekristenan Yang Inklusif

Selain orang Kristen yang anti kebudayaan, juga terdapat orang Kristen berlaku  kompromi dan akomodatif terhadap kebudayaan.  Kekristenan disesuaikan begitu saja tanpa ada pertimbangan teologis apapun.  Inklusif yaitu mau hidup dan tinggal bersama orang lain yang tidak seiman. Tidak melihat ada masalah, ketegangan atau pertentangan antara Kristus dan kebudayaan. Unsur-unsur terpilih dari kebudayaan dikombinasi secara harmonis dengan ajaran-ajaran Kristen.  Kristus dan ajaran-ajaran gereja dilihat dari dan demi kepentingan kebudayaan, yaitu sebagai alat legitimasi atau justifikasi kebudayaan.  Kristus dilihat sebagai peneguhan atas segala sesuatu yang baik (positif ) yang terdapat pada kebudayaan.

Menurut Niebuhr (1956) kelompok ini muncul sebagai tanggapan atas sikap anti kebudayaan.  Yesus dilihat sebagai filsuf besar, pendidik besar atau reformator besar.  Kelompok ini seringkali disebut sebagai kelompok “liberal” atau “Protestanisme Kebudayaan”.  Karena tidak radikal menolak kebudayaan kelompok ini terkadang dicap murtad atau bidat.  Mereka memperdamaikan Injil dengan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan filsafat pada zaman mereka.  

Secara pribadi saya senang menyebut kelompok ini sebagai kekristenan yang inklusif,  karena mereka meng-inkslusi atau merangkul kebudayaan.  Mereka melihat ada kesesuaian antara Kristus dan Kebudayaan.  Yesus dilihat sebagai seorang pahlawan besar yang datang dari sejarah dan kebudayaan manusia.  Kehidupan dan ajaran-Nya dianggap sebagai pretasi terbesar manusia.  Diyakini bahwa di dalam Yesus, aspirasi-aspirasi manusia akan nilai-nilai tertentu terwujud.  Yesus mengukuhkan apa yang terbaik dari masa silam, dan membimbing  proses peradaban  ke tujuannya yang benar.  Terlebih lagi, Ia dilihat sebagai bagian dari kebudayaan, realitas sosial yang harus diteruskan dan dilestarikan.


Orang-orang Yahudi yang beragama Kristen dapat dikatakan sebagai orang-orang Kristen inklusif.  Mereka tetap percaya kepada Yesus tanpa melepas adat-istiadat Yahudi.  Mereka tetap melihat diri mereka sebagai umat pilihan yang menanti kedatangan mesias. Bagi mereka Yesus bukan hanya satu-satunya Mesias yang dijanjikan, tetapi Mesias yang ada dalam perjanjian sebagaimana dipahami dalam masyarakat mereka.   Dapat dikatakan mereka menggabungkan Kristus dan Kebudayaan begitu saja dan bagi mereka memang tidak ada pertentangan antara tradisi Yahudi dengan Kristus.  Kristus dilihat berkesuaian atau cocok, bahkan menggenapi atau menyempurnakan tradisi mesianik mereka.

Kendatipun sangat  mudah dituding sinkretis, kekristenan yang inklusif mempunyai kekuatan-kekuatan yaitu:
  1. Kesetiaan kepada Kristus tidaklah identik dengan menolak kebudayaan
  2. Kristus diidentifikasi dengan apa yang dibayangkan manusia sebagai gagasan yang terbaik, lembaga-lembaganya yang terluhur dan para filsufnya yang terbaik. Bagi mereka, orang-orang tertarik menjadi Kristen bukan hanya karena adanya orang Kristen yang fanatik tetapi juga karena adanya orang Kristen yang toleran, yang dapat menyelaraskan berita Kristen dengan moral dan filsafat religius guru-guru terbaik mereka, dengan para pahlawan pujaan mereka.
  3. Pendekatan ini memungkinkan orang untuk memahami Injil dengan bahasanya sendiri, memahami watak Yesus melalui gambarannya sendiri dan memahami wahyu-Nya tentang Allah dengan bantuan filsafat dan kebudayaannya sendiri.
  4. Alkitab tidak mewakili satu kebudayaan tetapi banyak kebudayaan.  Firman Tuhan disampaikan kepada manusia dalam budaya yaitu bahasa dan kata-kata manusia.
  5. Kelompok ini memiliki bahasa kaum berpendidikan, mereka dapat masuk ke komunitas budaya (contohnya Romo Muji Sutrisno, Romo Mangun).
  6. Mereka melihat Yesus relevan bagi zamannya dan berhasil menemukan titik temu bagi misi gereja dengan memperkenalkan Kristus sebagai orang bijak, nabi, imam besar yang benar, hakim yang lurus, pembaharu bagi kebaikan masyarakat biasa, dlll.   dan memungkinkan untuk memperbaharui kebudayaan.
  7. Dapat melihat ada sisi-sisi positif dari kebudayaan, kebudayaan tidak melulu jahat dan gelap-gulita.


D.     Mereka Yang Menapak Jalan Tengah

Selain kelompok radikal (kekristenan eksklusif)  dan kelompok liberal (kekristenan inklusif), terdapat kelompok yang menolak baik  pendapat kaum radikal yang anti budaya (antagonis) maupun pendapat kaum liberal yang menerima kebudayaan tanpa sikap kritis (akomodatif).  Saya menyebut kelompok ini sebagai “orang tengah” yang terdiri dari Kaum Sintesis,   Kelompok Dualis dan Konversionis, mereka berada pada posisi tengah, tidak ekstrim kiri maupun kanan.  


1.      Kaum Sintesis

Kelompok ini tidak mempertentangkan Kristus dan kebudayaan. Sikap mereka adalah “Baik Kristus maupun kebudayaan” (both-or).  Tidak menolak kebudayaan, namun tetap menjaga ada perbedaan antara Kristus dan kebudayaan.

Kelompok ini tidak puas terhadap pendekatan akomodatif yang mendamaikan Kristus dengan kebudayaan, yaitu dengan menyamakan atau mensejajarkan posisi kebudayaan setara dengan Kristus. Bagi mereka, Kristus dan kebudayaan itu terpisah dan berbeda, tetapi tidak saling bertentangan, karena itu bisa bersatu untuk saling mengisi. Kristus dilihat melampaui atau mengatasi kebudayaan, tetapi tidak menghapus kebudayaan.  Kebudayaan diintegrasikan ke iman Kristen, namun posisinya inferior di bawah dominasi Kristus yang superior.  Karena itu pandangan ini juga disebut pandangan dominatif dengan tekanan utama “Kristus di atas kebudayaan”.

Tipe ini melihat kebaikan-kebaikan yang terdapat dalam kebudayaan (betapapun baiknya) harus disempurnakan dan dilengkapi dan mendapat kesempurnaan di dalam Kristus.  Kristus dilihat sebagai pemenuhan atau penggenapan atau penyempurnaan kultur bahkan agama-agama lain.

Bagi kelompok ini, kehidupan yang dijalani itu bersifat dualitas. Mereka hidup dengan mengkombinasikan hal-hal yang berbeda dalam satu struktur pemikiran dan perilaku tunggal. Mereka menerima baik hukum Yesus maupun peraturan hukum dunia (hukum adat, hukum pemerintah). Mereka memakai kebudayaan tetapi dalam bingkai Etika Kristen.  Kebudayaan itu baik (netral) namun akan semakin baik kalau dikuduskan atau dipakai untuk kemuliaan Allah.

Kristus atau gereja, dalam pemikiran kelompok ini,  tidak menentang kebudayaan tetapi menggunakan hasil-hasilnya yang terbaik sebagai alat dalam karya-Nya untuk menganugerahkan kepada manusia apa yang tidak dapat dicapai oleh manusia melalui upayanya sendiri.  Ia mendorong mereka untuk menempa diri dalam kebudayaan pribadi dan latihan intelektual, agar mereka dapat bersiap untuk suatu kehidupan dimana mereka tidak lagi memperhatikan diri sendiri, kebudayaan mereka atau hikmat mereka.  Kristusnya bagi mereka  adalah Kristus dari kebudayaan dan Kristus yang di atas semua kebudaayaan.
Mereka menghargai kebudayaan sekaligus setia pada Kristus.  Ia tidak menafsir Kristus setara dengan kebudayaan atau sebagai kebudayaan.  Kebudayaan itu mempersiapkan kita untuk menerima Injil (anak perdamaian, babi perdamaian).  Mereka menerima baik Kristus dan kebudayaan, namun Kristus melampaui kebudayaan. Mengkombinasikan tetapi tanpa mencampur-baurkan. 

Dalam kelompok seperti ini,  dimana  sangat kental dengan budaya harmoni yaitu  mendamaikan Kristus dan kebudayaan tanpa menyangkal salah satu dari keduanya, saya menemukan fenomena Kristen Dayak  yaitu orang-orang Dayak yang beragama Kristen  yang dengan sadar mereproduksi kebudayaan Dayak  untuk mengukuhkan iman Kristen mereka.


2.      Kelompok Dualis

Sama seperti kaum sintesis kelompok ini juga tidak menolak kebudayaan dan berkeinginan mempersatukannya dengan Kristus.  Bagi mereka kehidupan Kristen bukanlah terpisah dan terasing dari dunia. Kendatipun demikian, dunia bukanlah tanpa masalah, sehingga dapat diterima begitu saja. Mereka melihat Kristus dan kebudayaan sebagai dua hal yang berbeda dan dapat dibedakan, namun tak dapat dipisahkan.

Kelompok ini berpendapat bahwa orang Kristen hidup di dalam dua kerajaan yaitu Kerajaan Allah dan kerajaan dunia.  Mereka berbakti kepada Allah dan kepada raja.  Karena hidup di dua dunia dan memiliki kewarganegaraan ganda, maka mereka harus mencari suatu cara hidup atau modus vivendi sebagai warganegara dua kerajaan itu secara bersamaan. Hasil pencarian itu adalah “kesetiaan ganda” atau “moral rangkap”.  Seperti binatang amfibi, bisa hidup baik di darat maupun di air.


3.      Kelompok Konversionis

Kelompok terbesar dalam gereja.  Mereka bukanlah kelompok eksklusif serta tidak mengasingkan diri dari kebudayaan,  kendatipun memegang teguh perbedaan radikal antara Kristus dan kebudayaan. Disebut kaum konversionis karena mereka menerima kebudayaan dalam ketaatan kepada Allah.  Bagi mereka,  sebaik apapun kebudayaan adalah dosa karena berasal dari manusia yang berdosa.  Namun mereka yakin bahwa Kristus telah menang atas dosa dan Roh Kudus bekerja memperbaharui dan mentransformai kebudayaan.  Karena itu kebudayaan dapat diterima dalam kerangka iman, secara serentak kebudayaan juga disoroti, dinilai atau dievaluasi.  Tujuannya agar iman Kristen menjadi nafas atau warna kebudayaan.  Mereka ingin menerangi dan menggarami kebudayaan. Bagi mereka tidak ada budaya Kristen.  Yang ada hanyalah budaya lokal  yaitu budaya, hukum adat, atau adat-istiadat lokal, tetapi bernafaskan dan berwarna Kristen. 

Kebudayaan dilihat pada mulanya baik karena bagian dari ciptaan Tuhan, namun kemudian ikut rusak dan tercemar seiring dengan kejatuhan manusia ke dalam dosa. Kedatangan Kristus, karya penebusan-Nya di kayu salib, serta kebangkitan-Nya dilihat tidak sekedar  menyelamatkan manusia tetapi juga kebudayaan manusia.  Karena itu kebudayaan dapat  dipugar, direnovasi, atau diperbaharui dengan iman Kristen. 

Menurut pandangan ini, ketika seseorang menjadi Kristen, ia tidak perlu keluar dari masyarakat dan kebudayaannya dan membentuk kebudayaan sendiri (suku sendiri atau kampung sendiri, misalnya suku Kristen atau kampung Kristen).



E.      Tidak Dapat Disimpulkan, Keputusan Terdapat Pada Pelaku

Pada bab terakhir  buku klasiknya Christ and Culture (1956),  Niebuhr  menyimpulkan bahwa  jawaban terhadap hubungan Kristus dan kebudayaan selain tidak tunggal, juga tidak dapat disimpulkan.  Masalah ini dapat diperluas tanpa batas, tidak mengenal akhir, yaitu dengan memperbanyak tipe dan tipe tambahan, motif dan motif lawan. Kendatipun demikian, kita tidak dapat menyimpukan “Inilah jawaban Kristen”.  Tipe-tipe yang diajukan belum tentu meniadakan tipe yang lain, mungkin saja mempertemukan tipe-tipe itu pada banyak titik.  Yang penting adalah menemukan teori yang inklusif yaitu teori yang sifatnya merangkum semua teori, mempersatukan sekian banyak teori yang  yang terpecah-pecah, dan menserasikan sekian banyak gerakan yang bertentangan.

Menurut Niehbur, jawaban perorangan terhadap masalah Kristus dan kebudayaan itu bersifat relatif karena:

Ø  Pengetahuan individu itu bersifat sebagian, tidak lengkap, fragmentaris, relatif menurut ukuran iman dan ketidak-percayaan.
Ø  Relativitas historis dan budaya
Ø  Relativitas nilai

Menghadapi relativitas-relativitas itu ada 3 kemungkinan:

Ø  Menjadi nihilistik: tidak ada sesuatu yang dapat menjadi sandaran
Ø  Menjadi skeptik:  tidak ada sesuatu yang dapat dipercaya
Ø  Menjadif fanatik :  hanya ini yang dapat menjadi sandaran dan dipercaya

Dalam menyikapi kebudayaan, Niehbur setuju dengan pemikiran  Kierkegaard  yaitu:   “Keputusan terletak dalam subyeknya....Soal menjadi orang Kristen tidak ditentukan oleh definisi  ‘Apakah kekristenan itu ?’ tetapi oleh ‘Bagaimana orang Kristen itu?”.

Pertanyaan Apakah kekristenan itu ?’  adalah soal pengetahuan agama (teologi), sedangkan pertanyaan oleh Bagaimana orang Kristen itu?” adalah soal iman.  Seorang Kristen menjadi orang Kristen adalah karena imannya.  Iman adalah sesuatu yang berbeda dari pengetahuan doktrin (agama) dan pengalaman batin (penghayatan iman).  Seseorang bisa saja tetap menjadi ahli agama atau teolog, tetapi berhenti beriman.  Seseorang bisa saja berhasil beragama Kristen tetapi gagal menjadi orang Kristen.

Seseorang bisa saja tidak kompromi, konfrontatif, menolak, anti atau melawan kebudayaan,  dengan alasan setia dan cinta pada Kristus.  Seseorang bisa saja berpendapat bahwa menjadi Kristen identik dengan meninggalkan budaya asal dan masuk budaya baru yang serba Kristiani.  Namun pertanyaan yang patut diajukan adalah: “Dengan berlaku demikian apakah ia telah menjadi orang Kristen atau hanya beragama Kristen?”  Ada banyak orang yang beragama Kristen tetapi bukan orang Kristen.  Saya pernah melihat ada seseorang yang beragama Kristen, bertamu ke rumah seorang tetangganya yang beragama lain, ia menolak makanan yang dihidangkan.  Tindakannya itu, sangat melukai hati dan menghina kebaikan tetangganya.




F.       Permasalahan Kita Masa Kini
Perlu diperhatikan dengan seksama bahwa Gereja tidak hanya berhubungan dengan satu sistem kebudayaan, tetapi dengan beberapa sistem budaya, seperti budaya etnis (adat istiadat), budaya pop, budaya nasional, budaya agama sedunia dan budaya kosmopolitan.  Permasalahan Gereja masa kini adalah  ia berfikir hanya berurusan dengan budaya etnis saja, tetapi ia lupa bahwa kesehariannya pun penuh dengan kebudayaan.  Gereja tidak sadar bahwa dirinya telah bergelimang dengan “budaya dagang” atau kapitalisme, misalnya dengan mengiklankan kegiatannya di koran secara rutin.  Akhirnya,  ia hanya berhasrat mentranformasi budaya-budaya suku, tetapi dirinya sendiri ditransformasi oleh budaya kapitalisme.
Salah satu kelemahan dalam pendekatan Niebuhr (dan pendekatan Gereja masa kini) terhadap kebudayaan adalah pandangan statis terhadap kebudayaan. Kebudayaan dipandang esensial dan konstan dari waktu ke waktu, pasif, homogen, produk masa lalu, begitu-begitu saja,  serta bisa dibentuk dan disesuaikan sesuka hati. Karena dengan “sedikit arogan” dan bersifat “kolonial”, Gereja berfikir bahwa hubungan antara Kristus dan kebudayaan pun statis, begitu-begitu saja.  Gereja tidak sadar kalau hubungan itu dinamis dan interaktif.  Bukan hanya Gereja yang bisa mentransformasi kebudayaan, sebaliknya budaya pun bisa mentransformasi Gereja.

Tanpa mengabaikan eksistensi Gereja, saya mau mengatakan bahwa kebudayaan terus berkembang dan berubah-ubah secara dinamis. Ada atau tidak ada Gereja (orang Kristen),  ia terus-menerus mengalami proses produksi dan reproduksi. Hal itu terjadi karena kebudayaan merupakan medium umat manusia mempertahankan hidup dan identitas dirinya sebagai manusia.

Karena itu,  adalah penting untuk memperhatikan konsep kebudayaan yang diajukan oleh Peursen (1988:11) yaitu “kebudayaan merupakan ceritera tentang perubahan-perubahan: riwayat manusia yang selalu memberi wujud baru kepada pola-pola kebudayaan yang sudah ada”.    Peursen melihat kebudayaan sebagai proses mencipta atau kegiatan produktif.  Karena itu pemahaman yang ditawarkan adalah  pemahaman budaya yang dinamis.  Dengan tegas ia mengatakan, ”…kebudayaan jangan dipandang sebagai sebuah titik tamat atau keadaan yang telah tercapai, melainkan terutama sebagai sebuah penunjuk jalan, sebuah tugas: kebudayaan itu ibarat ceritera yang belum tamat, yang masih harus disambung” (1988:13).

Karena kebudayaan merupakan proses manusia hidup, maka Gereja mau tidak mau harus senantiasa atau tidak pernah berhenti mendengarkan kebudayaan.  Gereja memposisikan diri sebagai mitra dialogis kebudayaan, dimana dengan rendah hati mau mendengar kebudayaan, bukan sebaliknya yaitu menceramahi atau mengkhotbahi kebudayaan.

Dengan demikian Gereja melakukan proses saling memperkaya atau saling menyuburkan.  Proses itu harus dilakukan karena kebudayaan menyangkut masalah bagaimana orang-orang Kristen menjalani hidupnya dalam dunia nyata sehari-hari.    Eka Darma Putera (1996: 7) dengan tegas mengatakan bahwa:

“…masalah Injil dan Kebudayaan adalah masalah bagaimana kita hidup…masalah Injil dan Kebudayaan bukanlah sekedar masalah me’  wayang ’ kan kisah Natal atau menuangkan Perumpamaan 10 Anak Dara ke atas kanvas dengan gaya tradisional Bali.  Masalah Injil dan Budaya menyangkut seluruh aspek kehidupan kita, seluruh bangunan teologi kita, seluruh penghayatan iman kita, seluruh visi misioner kita.  Dan untuk semua itu, mengenai masalah Injil dan Kebudayaan ini, tidak ada jalan lain, kita merelakan diri kita berada dalam proses re-edukasi yang terus-menerus.

Kelemahan lain adalah menjadikan kebudayaan sebagai ancilla theologiae (budak teologi) yaitu kebudayaan dikeluarkan dari konteks religiusnya dan dimanfaatkan demi kepentingan agama Kristen (1996: 93-94).  Dalam pendekatan demikian, Gereja tidak “mencerahkan” kebudayaan tetapi “menjajah” kebudayaan. Yang tercitrakan adalah “Yesus Kolonial”  yang berasal dari “budaya kolonial”  datang sebagai “yang superior”  untuk “mentransformasi” atau “menguduskan” budaya-budaya inferior yang ada di koloni-koloninya. Kebudayaan dilihat sebagai obyek transformasi dan pengudusan, sedangkan kekristenan sebagai faktor determinan.  Yang ideal adalah terjadi proses dialektika terus-menerus dan bukan hubungan satu arah.

Saya mendukung dan menyarankan proses inkulturasi sebagai proses masuk (in)  ke dalam kebudayaan (culture) untuk hidup dan berurat-akar dalam kebudayaan.  Saya tidak setuju dengan “kegenitan teologi” yang menyamakan inkulturasi dengan kegiatan  “mencomot” beberapa bagian unsur kebudayaan lokal dalam rangka mengungkapkan iman Kristen, misalnya pemakaian motif-motif suku untuk kepentingan gerejawi atau lagu-lagu daerah diberi teks gerejawi, dsb..  Tindakan demikian merupakan penipuan budaya, karena yang terjadi adalah proses gincunisasi yaitu penutupan atau menyamarkan unsur-unsur non-lokal dengan warna-warna lokal. 

Inkulturasi adalah proses menjadi bagian yang mendiami dan menghidupkan kebudayaan itu.  Inkulturasi adalah proses yang di dalamnya orang-orang Kristen menghayati iman dan pengalaman keberagamaannya dalam konteks budayanya sendiri bukan dalam budaya lain atau budaya bangsa lain.  Proses itu memungkinkan orang-orang Kristen untuk mengungkapkan penghayatan imannya dan pengalaman keber-agama-annya dalam unsur-unsur lokal, lebih dari itu menjadi kekuatan penciptaan pola-pola bergereja yang tidak terasing dari konteks kebudayaan.

G.     Peristiwa Multikulturalisme:  Belajar Dari Kapten Cook

Dalam konteks Kalimantan, menurut saya ada dua hal yang harus diperhatikan Gereja pada masa kini ketika membahas  hubungan Gereja dan kebudayaan:

  1. Perubahan.  Perubahan adalah sesuatu yang niscaya dalam kehidupan masyarakat manapun.  Hal itu tentu saja menimbulkan keragaman yang patut menjadi perhatian agar tidak terjebak dalam cara pandang esensialis dan reifikasi.   Karena itu maka kajian atas perubahan itu sendiri menjadi penting untuk dilakukan seperti yang telah dilakukan oleh Moore (1978)  yang memperlihatkan betapa tidak stabilnya satu produk hukum dalam suatu masyarakat.  Hal yang sama  juga diperlihatkan oleh McCarthy (2005) bagaimana gerakan reformasi dan kebijakan otonomi daerah memungkinkan orang-orang lokal untuk menghidupkan kembali hukum adat mereka untuk menuntut bagian dalam penguasaan sumber daya alam.  Gereja dan para teolognya harus memperbaharui data kebudayaan dan data masyarakat yang dimilikinya.  Misalnya,  saat  berbicara tentang pelayanan bagi masyarakat Dayak masa kini,  maka  tidak tidak cukup hanya membolak-balik buku Tjilik Riwut (1958) dan  Fridolin Ukur  (1971) yang ditulis dengan menggunakan data-data sebelum Perang Dunia Kedua.
  2. Kecendrungan pada hyper-multiculturalism  sebagaimana yang telah diidentifikasi oleh Fuller (2000: 15-36) yaitu:
    • Narsistik: yaitu menganggap budaya sendiri yang paling baik.   Budaya-budaya lain adalah inferior dan negatif.
    • Etnosentrik: yaitu melihat suku sendiri dan budaya sendiri sebagai pusat (sentral) sementara budaya lain dilihat sebagai pinggiran (peripheral).
    •  Romantistik: yaitu kita menjadi keranjingan mencari nilai-nilai asli, bahasa-bahasa asli dan antik.
    • Eksklusifistik: yaitu kita menganggap bahwa orang asing atau orang luar tidak mempunyai wewenang atau kemampuan untuk  mempelajari kebudayaan kita.
    • Eksotik:  kita menanggap budaya lain itu sebagai sesuatu yang bernilai bukan karena fungsi dan sifatnya tetapi karena keanehan atau kelangkaannya.
    • Patrialistik: yaitu kita menganggap kebudayaan  itu hanya berpusat pada lelaki atau kebudayaan lelaki saja.
Patut diakui bahwa Gereja terkadang lalai atau mengabaikan proses mendengarkan kebudayaan.  Karena itu adalah bijaksana untuk menyimak narasi berikut:

KAPTEN James Cook petualang dari Inggris adalah orang Eropa pertama yang tiba di kepulauan Hawaii.   Ketika mendarat di pulau itu,  para penduduk pribumi menyambutnya dengan meriah.  Kedatangannya disambut dengan puluhan perahu, dan para wanita menyanyikan lagu-lagu pujian.  Ketika menjejakkan kakinya di pulau itu, ia dikenakan  pakaian kebesaran yaitu kain tenun  merah dan mantel bulu yang mahal. Dengan penuh ketakutan, penduduk pribumi tunduk, bersujud menyembahnya serta kemudia membawanya ke kuil mereka yang suci.  Ia dan para awak  kapalnya dihidangkan aneka rupa makanan, bahkan para perempuan untuk teman tidur.

Kapten Cook sangat terkesan dengan penyambutan, keramah-tamahan dan kebaikan-hati para penduduk pulau.  Ia berpikir bahwa para kepala suku di pulau itu menyembah, tunduk dan menolongnya karena ia adalah utusan dari Kerajaan Inggris. Tetapi tidak demikian bagi para penduduk pribumi Hawaii.  Mereka punya ceritera sendiri kenapa mereka rela melakukan hal demikian.

Malam hari, tanggal 20 Januari 1778, kapal layar yang ditumpangi Kapten James Cook berlabuh di Waimea, Kaua’i.  Pada waktu itu, ada beberapa penduduk pribumi pulau itu sedang memancing.  Mereka terpesona melihat datangnya benda besar yang menjulang tinggi di atas gelombang laut dengan nyala api di atasnya itu.  Mereka ketakutan dan bergegas ke pantai untuk menyelamatkan diri.  Mereka melaporkan apa yang mereka lihat kepada kepala suku dan tua-tua kampung. 

Dengan penuh rasa ingin tahu bercampur takut, pada pagi hari mereka bersama-sama ke tepi pantai untuk melihat benda asing yang mengapung itu.  Mereka  terheran-heran melihat tali-tali yang menjuntai dan tiang-tiang kapal layar yang menjulang tinggi. Mereka mengira itu adalah hutan kayu yang terapung.  Tetapi seorang pimpinan agama mengatakan bahwa apa yang mereka lihat merupakan keajaiban, karena itu adalah heiau  yaitu kuil dewa Lono, tiang-tiang itu adalah tangganya turun dari langit. Dewa Lono adalah salah satu dewa utama yang disembah oleh nenek moyang mereka pada zaman dahulu.

Untuk menjawab rasa ingin tahu mereka, maka kepala suku mengirim beberapa orang naik perahu untuk memeriksa benda asing itu.   Mereka pergi mendekati  kapal dan melihat besi di bagian luar kapal. Mereka sangat senang ketika mereka melihat banyak besi pada bagian kapal itu. Mereka sudah mengenal  besi sebelumnya dari  tiang kayu yang terdampar di pantai.  Tetapi itu sangat sedikit, sekarang mereka melihat banyak besi.  Mereka bersukacita dan berkata, "Ada banyak potongan pahoa" (artinya besi ). Mereka menyebut semua besi  pahoa  yang artinya alat untuk memotong, karena di antara orang-orang tua di pulau  pernah ada yang memiliki pedang yang terbuat dari besi.

Mereka naik ke atas kapal dan melihat sejumlah laki-laki dengan dahi putih, mata bersinar seperti mata kucing, kulit berkerut, kepala persegi panjang, kata-kata tidak jelas, dan api di mulut mereka (rokok). Seorang imam kepala mengikatkan ujung ikat pinggangnya yang  panjang pada tangan kirinya. Menghadap Kapten Cook, membungkuk, berjongkok, dan mengucapkan doa  berulang kali dengan tujuan menolak bala. Kapten Cook memberi imam itu satu pisau.  Ketika melihat rokok yang menyala di mulut para lelaki kulit putih ia, orang pribumi itu menyangka bahwa mereka itu adalah keluarga gunung berapi.   Ketika melihat semangka yang bergeletak di geladak kapal mereka mengira itu adalah kepala penyihir dan hantu laut yang dibunuh.  Ketika mereka melihat kulit lembu jantan menggantung di bagian depan kapal, mereka berpikir itu adalah kulit penyihir dan monster laut yang dibunuh.  Mereka berpikir bahwa para awak kapal itu adalah para dewa yang datang untuk menghancurkan semua monster jahat. 

Para utusan itu kembali,  melaporkan  kepada kepala suku dan pimpinan imam kepala  tentang orang-orang yang telah mereka lihat, apa yang mereka lakukan, cara mereka berbicara, dan kematian dari beberapa monster laut.  Mereka juga berceritera tentang ada banyak besi di kuil itu dan sejumlah besar tergeletak di dek.


Ketika kepala  suku dan dan pimpinan imam kepala  mendengar laporan itu, mereka berkata, "Sesungguhnya itu  adalah dewa  Lono dengan kuil-Nya”.  Keyakinan mereka semakin kuat ketika ada penduduk pulau yang diam-diam naik ke atas kapal untuk mencuri besi dan terpaksa ditembak oleh awak kapal.  Mereka takut dan terheran-heran melihat tongkat api berasap dan mematikan yang dipegang para awak kapal. Apalagi ketika pada malam hari para awak kapal menembakkan senapan dan kembang api. Mereka berpikir itu adalah kilat, pentir, dan  guntur dari dewa yang sedang marah.  Karena itu mereka berupaya meredam kemarahan sang dewa dengan menghaturkan puja dan persembahan kepada sang dewa.

Sejak saat itu, di seluruh kepulau Hawaii  tersebar berita tentang kembalinya dewa Lono dan kuilnya. Kapten Cook dianggap sebagai dewa Lono, karena itu ia disembah dan ada banyak persembahan dihaturkan padanya. Pakaian dewa yaitu kain tenun merah dan kulit bulu yang mahal patut dikenakan padanya.  Dalam mitologi Hawaii , dewa Lono dikaitkan dengan kesuburan, pertanian, curah hujan, dan musik. Dia adalah salah satu dari empat dewa (dengan Ku , Kane , dan saudaranya kembar Kanaloa ) yang ada sebelum dunia diciptakan.  Para penduduk Hawaii percaya bahwa dewa Lono bisa datang dalam wujud manusia untuk mengunjungi manusia. Lono dalam bahasa setempat berarti mahluk gaib yang tinggal di angkasa.


Pada bulan Februari, 1779, Lono atau Kapten Cook pergi meninggalkan pulau untuk melanjutkan petualangannya.  Setelah berlayar selama dua minggu ia menemukan bahwa salah satu tiang kapalnyanya busuk, sehingga ia memutuskan kembali untuk membuat perbaikan, dan berlabuh lagi di tempat semula.  Ketika pribumi melihat kapal itu datang kembali, mereka pergi keluar lagi, tapi tidak seperti sebelumnya. Mereka telah berubah pandangan. Mereka sadar bahwa yang mereka anggap sebagai dewa Lono hanyalah manusia biasa.  Hal yang sangat berbeda dan terbalik dengan Kapten James Cook, mereka mengira bahwa orang pribumi Hawaii tetap seperti semula dan tidak berubah.  Mereka mengira bahwa mereka akan disambut dengan keramahan seperti kedatangan mereka yang pertama.  Namun yang terjadi adalah mereka disambut dengan kemarahan, sehingga akhirnya membuat Kapten James Cook kehilangan nyawanya.

Brian Fay (2002: 152) menyebutkan bahwa apa yang dialami oleh penduduk pribumi Hawaii dan Kapten James Cook sebagai peristiwa multikulturalisme (event multiculturalism) yaitu perjumpaan budaya-budaya yang berbeda.  Para pribumi Hawaii mengira mereka berjumpa dengan dewa yang datang dari langit, sedangkan Kapten Cook mengira berjumpa dengan orang-orang pribumi yang sederhana, polos dan lugu.  Ia lalai melihat dari sudut pandang pemilik kebudayaan, gagal mendengarkan kebudayaan dan mengandalkan tafsir sendiri.  Hal itu berakibat fatal yaitu kehilangan nyawanya sendiri. Gereja sangat mungkin kehilangan pengaruh dan gagal menjalankan misi-nya di dalam masyarakat karena melakukan kesalahan yang dilakukan oleh Kapten Cook. 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar