Rabu, 04 Februari 2015

PEREMPUAN DAYAK DAN BUDAYA SUNGAI

PEREMPUAN DAYAK  DAN BUDAYA SUNGAI*

Oleh: MARKO MAHIN*



Kalimantan.  Inilah pulau raksasa yang dialiri oleh ribuan sungai besar dan kecil. Bagi para penduduk pribumi asli Kalimantan yaitu orang-orang Dayak, sungai-sungai yang membentang di semua penjuru pulau itu bukanlah sekedar sumber air minum, tempat mandi, tempat mendapat ikan, dan alat transportasi tetapi juga orientasi hidup bahkan identitas diri. 

Dikatakan sebagai orientasi hidup karena banyak kegiatan sehari-hari dilakukan di sungai, mulai dari mandi, mencuci, menangkap ikan dll.  Kemudian bangunan rumah, tempat ibadah, bahkan kuburan banyak dibangun di tepi-tepi sungai.  Acara-acara ritual yang sucipun banyak dilakukan di sungai, misalnya membaptis bayi atau memberi nama kepada  bayi yang  baru  lahir,  atau ritual meminta kesembuhan, rejeki, keberuntungan kepada Jata Sang Penguasa sungai. 

Sebagai identitas diri tampak ketika orang-orang Dayak mengidentifikasi diri mereka dengan nama sungai yang melintas di kampung kelahiran mereka, misalnya Oloh Katingan, Oloh Kapuas atau Oloh Kahayan. Oloh  berarti “orang” sedangkan  Katigan, Kapuas Kahayan  adalah nama-nama sungai.  Hal itu menunjukkanbahwa mereka adalah orang yang  berasal dari atau tinggal di daerah aliran sungai itu.  Lebih jauh lagi, konon kalau orang-orang Dayak meninggal dunia, untuk menuju ke Lewu Tatau atau Sorga Loka mereka tidaklah melewati jalan raya dengan memakai kereta kencana, tetapi menyusuri sungai dengan naik perahu.  Karena itu tidak heran kalau orang-orang Dayak  juga dilihat sebagai manusia sungai (rivering people) dan memiliki budaya sungai.

Tentu ada banyak hak yang bisa kita gali mengenai budaya sungai di Kalimantan.  Namun tulisan yang bersifat reflektif ini hanya ingin memaparkan dua hal yaitu: Bagaimanakah perempuan beraktivitas dalam masyarakat yang berbudaya sungai ini, dan apa alasan mereka melakukan aktivitas itu ?

Perempuan dan Sungai sebagai Ruang Publik[1]

Perkampungan di Kalimantan biasanya didirikan di tepi sungai.  Dengan pola linearperkampungan, berupa rumah-rumah panggung,  didirikan mengikuti alur sungai. Rumah-rumah dengan tiang, lantai, dinding, maupun atap terbuat dari kayu, umumnya selalu menghadap ke sungai. Setiap rumah (keluarga batih) memiliki batang, yaitu sejenis rakit yang ditempatkan di depan rumah yang berfungsi sebagai tempat mandi, cuci dan jamban (MCK) sekaligus tempat menambatkan perahu atau kapal.  Terkadang satu batang dipakai oleh beberapa keluarga.

Di atas rakit kayu yang disebut batang inilah para perempuan Dayak banyak melakukan aktivitasnya.  Pagi-pagi biasanya mereka  sudah turun ke batang untuk mencuci pakaian dan peralatan dapur,  mandi atau melakukan kegiatan lainnya misalnya mengeluarkan air dari dalam perahu.  Di beberapa daerah dimana ada pedagang sembako dengan menggunakan perahu, misalnya Kuala Kapuas, di batang juga para perempuan dapat berbelanja sayur, ikan dan beras.  Ketika hari agak siang, mereka bisa saja turun ke batang untuk menciduk air satu atau dua  ember dan kemudian membawanya ke dalam rumah.

Ketika mereka  mandi dan mencuci biasanya berlalu-lalang alat-alat transportasi-transportasi sungai pembawa penumpang misalnya perahu, klotok (perahu bermesin), kapal atau speed boat.  Kalau ada salah satu anggota keluarga kebetulan akan bepergian, maka transportasi sungai akan berehenti sebentar di batang untuk menjemput calon penumpang.  Dengan demikian batang juga menjadi semacam “pelabuhan.”

Tentu saja ketika beraktivitas di batang para perempuan tidaklah dengan pakaian resmi dan lengkap.  Hanya dengan sehelai kain sarung yang dipakai sebagai pembungkus tubuh mereka melakukan kegiatan mencuci dan mandi.  Pemakaian busana yang demikian tentunya karena alasan praktis saja yaitu agar tidak repot.  Memang ada semacam “kode”  dalam cara pemakaian kain sarung ketika mandi atau mencuci di batang.   Bila kain sarung itu dililitkan sebatas dada maka perempuan itu (kendatipun masih tampak muda) adalah perempuan yang sudah menikah atau seorang janda.  Bagi perempuan yang belum menikah, kain sarung tidak dililitkan sebatas dada tetapi diikat di bahu. 

Di batang bisa saja ada para lelaki yang berbaur mandi dan mencuci.  Kaum laki-laki, ketika mandi di batang bisanya berbusana lebih minim lagi, yaitu dengan hanya memakai celana dalam saja.  Anak laki-laki yang belum akil-baliq biasanya mandi telanjang bulat dan itulah saat bermain yang mengasyikkan bagi mereka.


Pewaris Budaya Sungai

Dari paparan di atas tampaklah bahwa sungai bagi orang orang-orang Dayak yang tinggal di tepi sungai merupakan ruang publik (public space).  Sungai, dalam hal ini batang,  telah menjadi tempat berjual-beli (pasar), pelabuhan, tempat bermain bagi anak-anak, dan tempat berlalu-lalang bagi penjual jasa transportasi sungai.  Batang atau tepi sungai tempat batang  berada, bukanlah sekedar tempat mandi, cuci dan kakus (MCK) tetapi menjadi tempat perjumpaan orang-orang.  Namun di tempat itulah (ruang publik itulah) para wanita mandi dengan hanya mengenakan kain sarung.  Semuanya itu dilihat sebagi sesuatu yang normal, biasa, alami, dan sama sekali tidak melanggar hukum.

Mandi di sungai bagi perempuan-perempuan Dayak tidak ada hubungannya sama sekali dengan Barat apalagi dengan yang namanya liberalisme atau nihilisme. Juga sama sekali tidak hubungan dengan konsepsi pamer aurat dan kemaluan.  Beribu-ribu tahun sebelumnya datangnya budaya dan agama asing ke Kalimantan, mandi di sungai telah mereka lakukan. 

Mereka melakukan itu karena mereka adalah orang-orang sungai dan  pewaris budaya sungai yang tinggal di belahan Timur dunia ini, tepat di pulau Kalimantan.  Alam yang serba sungai membuat mereka bertingkah-laku dan berbudaya sungai.  Karena itu ada banyak aktifitas hidup dilakukan di sungai. 

Adalah salah besar kalau menilai para perempuan yang mandi di sungai dengan hanya berbalut selembar kain dianggap tak beradat dan tak tahu malu.   Dalam Tata Hukum Adat Dayak, perempuan dipandang begitu berharga, dan  dilihat sebagai simbol martabat keluarga atau kampung. Karena itu ada banyak hukum-hukum adat yang dibuat dalam rangka memagari agar tidak terjadi tindakan yang tidak sopan terhadap perempuan.  Berlaku tidak sopan terhadap perempuan dianggap sebagai pali yaitu melanggar hukum adat. 

Hukum  Adat Dayak Ngaju akan menghukum seorang laki-laki yang secara sengaja mengintip perempuan mandi.  Hukum Adat juga mengatur bahwa bila ada seorang perempuan yang sedang mandi sendirian di batang,  maka seorang laki-laki (yang bukan suami atau saudara dekat)  tidak boleh berpura-pura lewat, mendekat atau mandi bersama dengan perempuan dalam satu batang.  Apabila sampai terjadi maka yang dihukum adalah laki-laki itu saja.  Hanya lelaki yang tidak tahu adat yang mencari kesempatan untuk bisa mandi berdua-duaan dengan seorang perempuan. 

Dengan demikian tampaklah bahwa  alam lah  telah mengakibatkan para perempuan berbudaya sungai yaitu mandi dengan pakaian sehelai kain.  Alam juga yang membuat orang-orang Dayak membuat rumah panggung bertiang tinggi.  Alam yang saya maksudkan di sini adalah sungai yang mengalir tepat di depan rumah dan cuaca  tropik yang mempunyai daya paksa tinggi untuk menggiring orang pergi mandi.  Jadi, jikalau ada upaya hendak menghentikan atau melarang para perempuan mandi di sungai maka dua hal ini yang harus dilakukan yaitu mencemari atau menimbun habis sungai-sungai yang ada sehingga tidak dapat dipergunakan sebagai tempat mandi lagi dan mengganti iklim tropik yang panas-lembab itu dengan cuaca yang sejuk.  Ya, pewaris budaya sungai akan terus mandi di sungai selama sungai  ada  dan iklim tropik masih panas.

Dalam Rumah Bersama

Budaya sungai  hanyalah salah satu dari sekian banyak budaya yang ada di Indonesia.  Ia ada karena kehendak alam.  Budaya sungai adalah satu fakta historis yang hidup di tengah masyarakat Indonesia.  Ia akan terus hidup selama ada sungai yang layak untuk mandi, dan ada orang-orang yang  tinggal di tepi sungai. Mungkin di tempat lain yang langka dengan air dan sungai mengalir, budaya ini sama sekali  asing, aneh atau tidak ada  sama sekali. Namun itu bukan berarti ia harus ditolak, direndahkan dianggap kafir, tidak beradab, perlu ditobatkan dll.. 

Ya, kita memang memerlukan rumah bersama, dimana berbagai macam ragam budaya boleh hidup bersama untuk saling memperkaya dan menguatkan. Adakah rumah bersama itu bernama Pancasila?






* Disampaikan dalam acara Curhat Budaya “PANCASILA RUMAH KITA”, yang diselenggarakan pada  tanggal 1 – 2 Juni 2006, di Hotel Nikko, Jakarta.
* Penulis adalah peneliti agama dan budaya Dayak, email: marko_mahin@yahoo.com

[1] Apa yang saya tuturkan di bawah ini berdasarkan pengamatan saya di perkampungan-perkampungan Dayak yang ada di  Kuala-Kapuas, Kalimantan Tengah.

1 komentar:

  1. Wah ceweknya cakep-cakep tuh, gak mirip ma perempuan dayak

    BalasHapus