Jumat, 29 Mei 2015

TUHAN ITU  [ TIDAK ] JAHAT !



Apakah anda sering mengira TUHAN ITU JAHAT ?  Menuduh bahwa TUHAN itu tidak perhatian, tidak peduli pada diri anda? Atau anda anda orang yang malas mengucap syukur  atau tidak mau bersyukur kepada kebaikan Tuhan. Bacalah artikel ini, dan selanjutnya katakan TUHAN ITU BAIK DAN SANGAT BAIK.

Seorang bapak berusia 70 tahun menderita tidak bisa buang air kecil selama beberapa hari. Setelah bertambah rasa sakitnya, bapak itu mendatangi dokter spesialis. Maka dokter meminta kepada bapak itu agar di operasi dan bapak itupun menyetujui.


Setelah selesai di operasi dan berhasil, maka dokter memberikan tagihan rumah sakit kepada bapak itu. Bapak itu melihat isi tagihannya, maka menangislah bapak itu.

Dokter pun berkata kepada bapak itu, “Jika tagihan tersebut memberatkan anda, saya bisa meringankannya untuk anda.” Maka bapak itu menjawab, “Bukan itu yang membuat aku menangis. Yang membuat aku menangis adalah bahwa TUHAN  telah memberi aku kenyamanan, kemudahan untuk bisa buang air kecil dengan lancar  selama 70 tahun, dan IA tidak pernah mengirimkan tagihan apapun kepadaku untuk membayarnya.” 


TUHAN ITU BAIK DAN SANGAT BAIK

Kamis, 28 Mei 2015

ELANG !


Aku tidak pernah minta kalau dalam darahku mengalir darah perlawanan.  Aku juga tidak pernah bermohon untuk selalu menolak penjinakan dan pembodohan. Karena itulah aku   terkadang sulit bergabung di arus utama. Kemudian di cap SOK, ANGKUH atau SOMBONG.  Aku juga bingung, kenapa aku dengan sengaja selalu menempatkan diri pada posisi kritis, yang samasekali tidak ada untungnya bagi diriku.  Seorang teman mengatakan, "Kamu deviant sich".  Akh...emangnya aku gila, sehingga dikategorikan "menyimpang". Kalaupun aku suka mempertanyakan segala sesuatu...bukan berarti aku gila...aku hanya ingin kebenaran.


Sampai akhirnya ada seorang teman yang dengan tulus mengatakan:  "EAGLE FLY ALONE, DUCKS FLY TOGETHER".  Elang terbang sendirian, bebek berjalan beriringan.  Akhirnya aku tahu kenapa aku punya kecenderungan "bersuara lain"  karena memang aku tidak suka mem-bebek. Kamu itu elang! Begitu kata temanku.  Kenapa kamu bersuara lain, karena jelajah pandang matamu tajam jauh ke depan. Kamu bisa tahu apa yang ada dan yang akan terjadi pada sekian kilo meter, sedangkan bebek hanya tahu beberapa meter. Karena itulah kamu terkadang sepi sendiri dan enggan bergabung dengan kawanan bebek.

Bung Karno, Presiden RI yang pertama, tampaknya sangat dekat dengan ungkapan ini. Ia mengatakan "Bebek berjalan berbondong-bondong, akan tetapi burung elang terbang sendirian".  Tampaknya Bung Karno ingin menyatakan bahwa terkadang kita harus keluar dari keterasingan komunalisme ala bebek, yang hanya tahu baris saja, tanpa tahu kemana arah atau tujuan dari barisan. Kita harus tahu kemana kenapa kita bersuara dan ke arah mana kita bergerak

Akh...temanku ini mungkin berlebihan. Tetapi aku teringat dengan Isaac Newton yang sering ditanya mengapa dirinya mampu melihat jauh ke masa depan, ia menjawab dalam sepucuk surat yang ia kirimkan kepada koleganya, Robert Hooke, pada tanggal 5 Februari 1676. Ujarnya : IF I HAVE SEEN FURTHER IT IS BY STANDING ON THE SHOULDERS OF GIANTS .” Apabila saya mampu melihat jauh ke depan karena saya berdiri di bahu para raksasa.



Aku adalah seorang yang percaya dengan ungkapan “STANDING ON THE SHOULDERS OF GIANTS”. Berdiri di atas pundak raksasa.  Tidak heran, karena berpijak di bahu raksasa teori, raksasa intelektual, aku  dapat melihat lebih jauh, punya wawasan yang lebih luas.  Dengan demikian aku bisa keluar dari kepicikan dan kekerdilan berfikir.

Akhirnya aku juga bisa mengerti kenapa ada mereka yang mendakwa  sok, angkuh dan sombong, yaitu karena mereka masih berada dalam cangkang kepicikan berfikir. Cakrawala pandang mereka terbatas, karena masih berada dalam tempurung kekerdilan.


Elang terbang sendirian
Tinggi nan awan biru
Kepak sayapnya penuh
Matanya tajam
Elang selalu sendiri
Angkuh namun sepi
Raja angkasa
Penguasa langit
Adakah emosi dibenakmu
Adakah rasa humormu
Dibalik wajah gagahmu
Dibalik paruh tajammu
Kala kau bosan
Kala kau pulang
Kau cari tempat tinggi
Gedung dan pohon menjulang
Elang bagaimana hari-harimu
Indahkah
Buramkah


Kau diam seribu basa