Rabu, 04 Mei 2016

BEDAH BUKU

Dinamika Kawanan Kecil
“Indonesia Katolik”

Oleh: Marko Mahin

Judul Buku          :  Seandainya Indonesia Tanpa Katolik (Jalan Merawat Ingatan)
Pengarang            :  A. Eddy Kristiyanto OFM
Penerbit               :  Obor
Halaman              :  263 + xliii


A.      PENDAHULUAN

Tidak seperti buku sejarah  yang pada umumnya menampilkan foto-foto atau lukisan-lukisan kuno, cover buku ini  cukup “ngepop”  yaitu lukisan setangkai bunga matahari yang beraneka warna.  Hal yang menarik adalah judul buku yang menonjolkan kata  INDONESIA dan KATOLIK,  dan tidak menonjolkan kata  SEANDAINYA dan TANPA.  Bahasapun sangat renyah, tidak mengistimewakan tahun-tahun.  Isi sangat inovatif yaitu ingin menelusuri kembali jejak-jejak Kekatolikan dalam sejarah Indonesia dan peran Katolik dalam rangka “menjadi (kan) Indonesia.  Cara menulis cukup argumentatif, menggugah dan menggelitik pembaca untuk ingin tahu lebih banyak tentang peran Kekatolikan dalam sejarah Indonesia.  Secara keseluruhan buku ini menarik karena memberi informasi ringkas tentang gereja Katolik dalam rentang sejarah Nusantara.

Buku ini diawali dengan Pengantar, yang dimulai  dengan pembahasan dan penolakan terminologi komunitas minoritas. Kemudian diajukan  istilah yang [dirasa]  lebih cocok yaitu “kawanan kecil”, karena tidak bersifat hitam-putih dan konfliktual. “Kawanan Kecil Katolik” yang dimaksudkan adalah sekitar 3% penduduk Indonesia yang beragama Katolik dari 240 juta penduduk Indonesia (kurang lebih 72 juta jiwa).  Diharapkan kelompok kecil itu bukanlah obyek minoritisasi tetapi subyek yang telah, sedang dan akan berkontribusi bagi kehidupan bersama di Indonesia.  Juga dibahas tentang perbedaan “dua saudara” yang “satu Tuhan” tapi beda agama yaitu “Katolik” dan “Protestan”. 

Selain masalah klasik dalam studi sejarah yaitu periodesasi, dalam bagian pengantar juga dibahas  perihal  metodologi  yaitu:
  • Tidak “menulis sejarah dari geladak kapal” (hlm xxi)
  •  Membuat kaum pribumi Indonesia “bersuara” dan “disuarakan” (hlm xxi).
  • Tidak elitis yaitu tidak hanya menyimak apa yang terjadi pada tingkat pemimpin gerejawi saja , tetapi juga (dan terutama) bagaimana lapis akar rumput hidup, bergumul dan memperjuangkan keberadaannya bersama dengan seluruh lapisan masyarakat yang disebut Indonesia (hlm xliii).

Dalam halaman xxiii  disebutkan tujuan dari tulisan ini adalah “membahas cara dan substansi iman Kristen diungkapkan dan diwujudkan”, atau “...ingin menguraikan sejarah tanggapan atau jawaban manusia Indonesia atas Allah yang memanggil dalam situasi khas Indonesia (baca: kontekstual).  Kemudian dipertegas pada halaman xliii yaitu “...bermaksud menampilkan dinamika, gerak yang muncul dari kekuatan batin (rohani) komunitas gerejawi Katolik dalam konteks menjadi Indonesia”.

Namun ada satu bagian kecil (namun punya makna besar) yang perlu dikoreksi dalam bagian penghantar yang panjang ini (43 halaman) yaitu pada halaman xl disebutkan tentang MUI dan PGI (Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia) sebagai lembaga keagamaan bentukan rezim Soeharto. Tentu  saja data yang terkait dengan PGI sangatlah tidak tepat[2].  PGI dibentuk jauh sebelum Soeharto, yaitu pada tanggal  25 Mei  1950  dalam satu Konferensi Pembentukan Dewan Gereja-gereja di Indonesia, bertempat di Sekolah Theologia Tinggi (sekarang STT Jakarta). Dibentuk oleh gereja-gereja Protestan yang ada di Indonesia, salah satunya adalah Gereja Kalimantan Evangelis (GKE). Kalau oknum Ketua PGI yang menjabat menjelang kejatuhan Soeharto yaitu Pdt. Soelarso Sopater, sangat dipengaruhi oleh Soeharto, mungkin ada benarnya. Karena pada tahun 1997,  kami  sebagai mahasiswa di STT Jakarta banyak mengecam kebijakan beliau yang “setor emas”  kepada rezim  Soeharto waktu itu. Sejak tahun 1996, STT Jakarta telah menjadi basis gerakan perlawanan atas rezim Soeharto. Pada tahun 1998, gerakan perlawanan itu mengkristal menjadi FORKOT (Forum Kota)  yang adalah satu faksi perlawanan atas Soeharto.


B.      PEMBAHASAN

Bab 1, dengan judul Berkelindan Dengan Masa Silam memuat data tentang kekristenan awal yang pertama kali datang ke bumi nusantara, ternyata bukan “Katolik” atau “Protestan” tetapi “Nestorian”.  Berdasarkan data  dari seorang penulis Kristen Nestorian bernama Shaik Abu Saleh al Armini dalam satu dokumen penting dalam bahasa Arab yang ditulis dalam abad XII M dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris tahun 1895. Di dalam dokumen ini dicatat bahwa telah ada orang Kristen Nestorian dari Suriah Timur, sejak abad ke-7 di Fansur, Barus, Sumatera Utara. Namun komunitas awal ini tidak kontinyu apalagi disambungkan dengan eksistensi Kekristenan Barat yang datang belakangan.

Bab 2, dengan judul Asli dan Tidak Asli, membahas tentang ciri agama suku yang memegang peranan penting berkenaan dengan pertemuan antara orang Indonesia yang beragam suku dengan (pewartaan) Kabar Gembira Yesus Kristus. Ciri yang dimaksud adalah terikat pada suku yang bersangkutan, pemeluknya hanya anggota suku, sistem kepercayaan bersifat tertutup, bersifat kolektif, adat menjadi bagian integral dari agama dan masyarakat suku.  Kemudian dikenal sistem kepercayaan pada roh, alam gaib, tabu, mitos, dewa-dewi, kepercayaan kepada yang ajaib, yang melampaui segala akal. Ringkasnya ada perbedaan yang mencolok bila dibandingkan dengan agama wahyu (hlm. 30). Bab ini juga membahas posisi para penganut agama suku yang tidak mendapat pengakuan sebagai “agama resmi” oleh pemerintah Indonesia, ia tidak dianggap sebagai agama karena tidak memenuhi kritera agama menurut pemerintah.

Hal yang perlu dicermati dalam Bab II adalah pernyataan penulis dalam halaman 29 bahwa “Agama suku itu (baca: agama asli)  ‘dibawa-serta-ke-Indonesia oleh suku pemeluk agama itu. Kemudian kalimat “...kebanyakan suku yang tinggal di Indonesia ini pendatang”.    Mungkin kalau penulis tinggal di Palangka Raya dan hidup bersama orang Dayak  Kaharingan, maka bisa mengetahui bahwa bagi penganut Kaharingan, agama mereka itu tidaklah  datang Yunan Cina Selatan atau darimanapun di luar Kalimantan.  Agama mereka adalah  agama Otokhton = (Auto = sendiri, khton = bumi) yang berasal dari bumi/daerah mereka sendiri seperti  dinyatakan oleh Rahmat Subagya dalam buku klasiknya Agama-Agama Asli di Indonesia (1981).  Dalam bahasa Dayak  Ngaju  sehari-hari kata Kaharingan berarti  “hidup” atau “ada dengan sendirinya” (Weinstock, 1981:34,1983:18).  Sehubungan dengan arti  kata “ada dengan sendirinya”, menarik untuk melihat apa yang dicatat oleh Ugang (1983: 11) bahwa Kaharingan adalah semacam “plasma nuftah keagamaan yang ditinggalkan oleh para leluhur”.  Orang Dayak juga telah bangun dari kesadaran palsu yang muncul dari penulisan sejarah yang menindas yang menyatakan bahwa mereka adalah pendatang dari Yunan Selatan.  Jadi bukan penduduk asli, dan akibatnya tidak boleh melakukan klaim apapun dan hendaknya tunduk bisu kalau tanah adatnya dirampas. Karena secara historis mereka adalah pendatang, jadi tidak punya tanah adat.

Bab 3,  dengan  judul Yang Magis Yang Tercecer, membicarakan tentang apa yang ditampilkan oleh para penguasa politik dan kemudian dihayati dan diwartakan oleh para missionaris Katolik ketika datang ke Nusantara, yaitu: cara pelayanan dan pengaturan yang serba hierarkis, pelayanan lebih utama dalam bidang sakramental, hubungan gereja dan negara yang pada mulanya simbiosis mutualisma dan akhirnya kini menjadi dialogis dan subsidiaritas, Lembaga Hidup Bakti yang pada mulanya aktif dalam gerakan misi-evangelisasi, namun kini aktif membangun dialog dengan kemiskinan dan agama-agama di Asia. Juga dibahas tentang perjumpaan dengan budaya dan agama non-Katolik yang kebanyakan dibungkus dengan upaya penguasaan perdagangan rempah. Juga diselipkan informasi tentang kerja dan pelayanan Ventimiglia pada abad 17 di pedalaman Kalimantan Tengah.

Bab 4,  dengan judul Ada Model Di Timur, membahas tentang bagaimana model perjumpaan penduduk Maluku, Nusa Tenggara dan Manado dengan kekatolikan.  Penduduk kampung Mamuya (Maluku Selatan) masuk ke Katolik karena merasa terancam dengan penduduk lain yang beragama Islam dan adalah musuh mereka dalam perkelahian antar kampung. Sedangkan di Nusa Tenggara terbangun negara Portugis dan pangkalan Gereja Katolik Roma di larantuka. Dalam keharuman kayu cendana ada diceriterakan tentang upaya Antonio de San Jacinto yang datang ke Timor pasca bencana alam. Ia memberi tafsir bahwa bencana alam itu terjadi karena mereka mengikuti kepercayaan yang salah, karena takut dengan bencana alam maka banyak orang masuk Katolik. Sementara di Manado proses misi dimulai dari kalangan elite yaitu dengan dibaptisnya Raja Siu yang kemudian diikuti oleh yang lain.

Bab 5, dengan judul Xaverius Dengan Hati, memaparkan tentang pelayanan Fransiskus Xaverius. Ia menterjemahkan pokok-pokok ajaran Katolik (Pengakuan Iman, Doa Bapa kami, Salam Maria, dan perintah-perintah gereja) ke dalam bahasa Melayu. Ia mengajarkannya dan orang-orang hendak dibaptis harus tahu dan mengahafal ajaran itu.

Bab 6,  dengan judul Simbiosis Sarat Risiko,  membentangkan tentang perubahan politik pada abad 18 yaitu munculnya  perusahaan dagang Belanda atau VOC  (yang adalah Protestan) menggusur pendahulunya (Spanyol dan Portugis) yang adalah Katolik.  Hal itu berpengaruh dengan kawanan kecil Katolik yang selama ini dekat dengan Spanyol dan Portugis.

Bab 7, dengan judul Satu Abad Penuh Beban, memaparkan perkembangan Katolik di Nusantara selama kurun satu abad, ada tantangan bahkan perlawanan, sehingga pada akhir tahun 1900 tercatat jumlah umat Katolik tidak lebih dari 51.000 orang.

Bab 8, dengan judul Masuk Ke Mutiara Hitam, membicarakan tentang jejak kekatolikan di Tanah Papua, yang telah ada sebelum misi Kristen Protestan datang ke Papua pada tahun 1855.  Kemudian dibicarakan juga tentang misi Katolik di Papua yang melahirkan orang-orang Katolik (di) Papua.

Bab 9,  dengan judul Di Persimpangan Jalan, membicarakan tentang bagaimana gereja Katolik berhadapan dengan pemerintah Belanda yang menguasai Indonesia pada waktu itu, yaitu dengan mendirikan “sebuah konferensi” pada 15-16 Mei 1924, yang sekarang disebut KWI.  Juga dibicarakan tentang kiprah orang Katolik di Era kebangkitan Nasional yaitu dengan mendirikan Indische Katholieke Partij  (IKP) pada 1917.  Namun karena partai itu didominasi Katolik Belanda, pada 5 Agustus 1923 didirikan Pakempalan Politik Katolik Djawi. Kemudian dipaparkan tentang kematian dan penderitaan  misionaris Katolik di era Jepang. Juga dituliskan tentang Pancasila, konstitusi Indonesia yang memungkinkan orang Katolik juga menjadi bagian Indonesia. Kiprah Katolik di era kemerdekaan terwakilkan oleh   I.J. Kasimo yang aktif di Komite Nasional Pusat.  Kemudian deklarasi mendukung sepenuhnya kemerdekaan Indonesia pada tahun 1947 yang dipimpin oleh Mgr. Soegijapranata.  Juga dipaparkan tentang dua orang putra Katolik yang aktif melawan agresi Belanda yaitu Ignatius Slamet Rijadi dan Agustinus Adisoetjipto.

Bab 10,  dengan judul Era Orla,  membahas tentang relasi dengan Negara, dimana Pada tahun 1950 Tahta Suci dan RI membangun hubungan diplomatik, karena itu Presiden Soekarno melakukan kunjungan ke Vatikan sebanyak empat kali. Juga dipaparkan tentang perkembangan organisasi di wilayah Indonesia, perubahan nama MAWI menjadi KWI.  Juga dibahas upaya mendirikan Universitas Katolik Parahyangan di Bandung.

Bab 11, dengan judul Dalam Masa Orba, memaparkan tentang bagaimana Gereja Katolik menyikapi peristiwa G-30-S yang berakibat pada pembunuhan banyak manusia. Secara organisasi memang “membisu” namun aktif dalam karya pastoral di kalangan para tahanan politik. Juga ada disinggung sedikit tentang khasebul (Khalwat Sebulan) yang dipimpin oleh Pastor Beek (padahal saya berharap ini diperbanyak).  Selain perjumpaan dengan Perundang-undangan negara (RUU Perkawinan 31 Juli 1973, SK Menteri Agama No. 70 tahun 1978 tentang Penyiaran Agama, SK Menteri Agama No. 77, tahun 1978 tentang Bantuan Luar Negeri, Surat Edaran Menteri Agama MA/423/1981 tentang penyelenggaraan hari-hari besar keagamaan yang dihadiri oleh orang  yang berbeda-beda agama), bagian ini juga membahas sikap Gereja Katolik terhadap keluarnya Timor-Timur dari Indonesia.   Uraian yang mengesankan, namun ada pertanyaan khusus dari saya, “Kenapa peranan Romo Mangun Wijaya tidak masuk ke bagian ini?”

Bagian Penutup,  dengan judul Reposisi Relasi Agama dan Negara Dalam Masyarakat Majemuk.
Dibuka dengan kalimat, “Andai kata Indonesia tanpa Katolik, maka bukan Indonesia”. Hal ini terjadi karena:
  1. Secara konstitusional,  Republik Indonesia tidak pernah mengeksklusi kawanan kecil Katolik.
  2. Secara historis, kawanan kecil Katolik telah eksis dan hidup dinamis di Nusantara, sedari dulu hingga kini.

Juga dipaparkan tentang “Indonesia sebagai Rumah Damai”  dengan ciri utamanya memposisikan “hidup manusia” jauh lebih bernilai, dihormati dan dihargai daripada unsur serta cara pandang yang lain.  Dalam hal ini kawanan kecil Katolik dapat memainkan peran bernilai untuk peningkatan (kualitas) kebaikan (hidup) bersama, dengan demikian kawanan kecil ini menjadi dimensi integral dari Indonesia. Sebagai “rumah damai” bagi semua, Negara dan unsur-unsur masyarakat mempunyai pekerjaan yang tidak pernah selesai yaitu mempraktikkan relasi humanis-religius dalam konteks Indonesia. 

Jikalau pada bagian Pembukaan ada semacam penolakan atas terminologi “minoritas”, dan diajukan istilah “kawanan kecil” entah kenapa pada bagian penutup digunakan kembali kata-kata “yang diharamkan”  menjadi “halal” kembali.  Padahal inilah tindakan reposisi mental yang sangat Alkitabiah yaitu  melihat diri sebagai “kawanan kecil” yang berkualitas, sehingga memberi rasa dan warna pada “kawanan besar”.  Bukankah untuk membuat enak gulai di kuali kita hanya perlu beberapa sendok kecil garam, tidak perlu satu mangkok garam. 

C.      KESIMPULAN

Sejarah adalah keniscayaan bukan pengandaian.  Hal itu telah dicapai oleh buku ini dengan menunjukkan kehadiran kawanan kecil Katolik Indonesia dalam rentang-panjang sejarah nusantara. Karena itu tidak mungkin ada Indonesia jikalau tidak ada Katolik, karena kawanan kecil Katolik telah menjadi keniscayaan dalam sejarah Indonesia.

Penulis buku ini tidak saja berhasil menyodorkan narasi-narasi masa lalu Indonesia melalui kehidupan kawanan kecil Katolik, tetapi juga menggugah kesadaran kita pada masa kini untuk menjadikan Indonesia sebagai Rumah Damai.  Hal lain yang patut dicatat adalah dalam buku ini digambarkan bahwa orang menjadi Katolik tidak semata-mata karena alasan teologis tetapi juga bisa karena sosiologis (perang antar kampung)  atau psikologis (bencana alam).

Selamat menjadi “Kawanan Kecil Katolik Indonesia” untuk membangun “Rumah Damai”  bagi semua.


Daftar Pustaka

Subagya, Rachmat. 1981. Agama-Agama Asli Di Indonesia.  Jakarta: Sinar Harapan.
Ugang, Hermogenes. 1983. Menelusuri Jalur-jalur Keluhuran, Jakarta: BPK  Gunung  Mulia
Weinstock, Joseph.  1981.  “Kaharingan: Borneo’ s “Old Religion” Becomes  Indonesia  Newest
              Religion” in Borneo Research Bulletin 13 (1).
Weinstock, Joseph. 1983. Kaharingan and The Luangan Dayaks:  Religion and Identity in  Central                 East  Borneo, Ph. D. Disser


Tidak ada komentar:

Posting Komentar