Selasa, 03 Mei 2016

ESSAY KEBUDAYAAN 1


FENOMENA  KEBUDAYAAN DI KALIMANTAN TENGAH

Oleh: Marko Mahin


Satu hari di sebuah sanggar tari di kota Palangka Raya.  Terjadi percakapan menarik antara saya dengan seorang ibu yang oleh kaum muda masa kini dikategorikan sebagai Mahmut Basa (Mamah Muda Imut Beranak Satu).  “Saya ingin kostum Dayak yang asli”,  demikian ucap ibu muda itu dengan serius. “Saya ingin anak gadis saya menampilkan tarian Dayak yang asli, dengan kostum tari yang asli juga”.   

Sebagai pemamah-biak teori-teori kebudayaan (yang terkadang disebut antropolog) dan sekaligus native Dayak,  saya agak kebingungan  dengan perkataan dan permintaan itu.    Setahu saya budaya Dayak itu dinamis, hasil percampuran berbagai kebudayaan.  Jujur saya merasa “jengkel” dengan ibu  yang senang “mendikte” dan “sok tahu” ini.  Dengan spontan saya membuka laptop saya,  dan memperlihatkan kepadanya foto-foto para perempuan Dayak hasil jepretan para penjelajah pada akhir abad 19.  Kemudian saya bertanya kepadanya, ”Apakah ibu dan anak perempuan ibu, sungguh-sungguh ingin menari dengan busana Dayak asli ?”  Ibu itu terdiam dan bahkan tidak bisa berbicara apa-apa,  karena dalam budaya Dayak asli (lebih tepatnya: budaya Dayak pada zaman nenek moyang), para perempuan Dayak itu topless, no bra  alias ngga pake kutang.

Di penghujung percakapan, akhirnya saya mengerti yang dimaksudnya dengan  “asli”  itu bukanlah dalam artian “pure”; murni tanpa campuran atau original tetapi   “primitive looking” yaitu busana Dayak yang tampak eksotis, antik, kuno, vintage atawa primitif. Busana tari yang memakai kulit kayu, dihiasi dengan bulu burung enggang atau merak, dan asesoris kalung taring babi. Tetapi tetap pakai kutang. Dengan demikian ia dan anak perempuannya merasa “asli Dayak”.


ASLI dan TIDAK ASLI

Apakah yang “asli” dan “tidak asli” itu ?  Dari perjumpaan saya dengan seorang ibu di Palangka Raya, tampak bahwa  konsep “yang asli” hanyalah tafsiran atas  apa yang dialami oleh dan diingat oleh orang tua pada masa lalu. Dapat dikatakam “yang asli” adalah adalah produk penafsiran dan penafsiran kembali masyarakat itu sendiri atas identitasnya”.

Ada banyak yang “tidak asli” namun terasa “asli” dalam keseharian kita, misalnya pohon karet atau gita (Hevea brasiliensis Muell. Arg)  adalah berasal dari hutan Amazon, Brazil. Cabe atau lombok (orang Dayak Ngaju menyebutnya “Kambang Bahari” atau Bunga Pedas) berasal dari Bolivia, Amerika Tengah. Jagung dari Meksiko. Pepaya dari Amerika Latin. Tembakau dari Amerika Utara. Namun semuanya itu terasa “asli” bagi kita orang Dayak di Kalimantan.

Ada banyak yang “tidak asli” namun terasa “asli” dalam keseharian kita, misalnya pohon karet atau gita (Hevea brasiliensis Muell. Arg)  adalah berasal dari hutan Amazon, Brazil. Cabe atau lombok (orang Dayak Ngaju menyebutnya “Kambang Bahari” atau Bunga Pedas) berasal dari Bolivia, Amerika Tengah. Jagung dari Meksiko. Pepaya dari Amerika Latin. Tembakau dari Amerika Utara. Namun semuanya itu terasa “asli” bagi kita orang Dayak di Kalimantan. 

Inilah salah satu fenomena unik kebudayaan, yaitu sering terjadi saling pinjam-meminjam kebudayaan. Dalam proses pinjam-meminjam ini kita seringkali lupa “asal-usul barang pinjaman” dan kemudian lama-kelamaan kita akui sebagai milik kita dan memberinya label “asli”. (Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar