Rabu, 06 Juli 2016

Pawel Kuczynski


SEORANG BUDAK DAN BELENGGU EMASNYA


Gambar yang menampar. Lukisan satir yang menyindir. Ilustrasi yang provokatif. Itulah sederet kalimat yang terucap ketika menatap “Slave Painting Chains Gold,” yang dihasilkan oleh Pawel Kuczynski, seorang pelukis hebat dari Polandia.
Saya menyebut karya-karya Pawel Kuczynski sebagai “Lukisan-Lukisan Pembebasan”, karena ketika saya menatap lukisan-lukisannya yang nyinyir, berkesan cerewet itu, maka saya dipaksa untuk bertanya, “Apa yang salah dengan dunia ini?” Ketika seseorang berani bertanya, itulah awal pembebasan. Lihatlah lukisan-lukisannya tentang smartphone dan sosial media....amboi sangat menohok ulu hati dan menyengat kesadaran kita. Kita dibuat terpojok dan sangat malu, tapi dengan cara yang cerdas.

“Slave Painting Chains Gold,” adalah salah satu lukisan Pawel Kuczynski yang sering saya pakai dengan tujuan untuk membangun kesadaran dalam benak para murid. Lukisan ini berbicara tentang hitam-legam kehidupan seorang budak-belian. Badan telanjang, kuat dan berotot, tetapi leher dan pergelangan tangannya (mungkin kakinya juga) terpasung belenggu besi yang kuat dan rantai-rantai yang menjuntai. Terlukis dengan sangat jelas bagaimana ia diperlakukan sangat nista bak seekor hewan.
Ironis, sang budak itu tidak berontak. Tidak ada tangan terkepal atau mulut yang berteriak tentang revolusi atau kemerdekaan. Mulut bungkam terkatup rapat. Tangan kanan terkulai lemah, sementara tangan kiri memegang kuas untuk menghias indah belenggu perbudakan dengan warna keemasan. Tinimbang berontak, sang hamba-sahaya itu memandang mesra belenggu yang membuatnya menderita dan melukisnya dalam warna kontras yaitu kuning emas.
Satir pahit yang membuat kita tersenyum kecut. Ada orang yang menikmati ketertindasannya, mensyukuri perbudakannya. Senang dan suka-rela menista dirinya sendiri demi kebahagiaan tuannya. Ia tidak malu atau terhina menjadi hamba-sahaya, budak-jelata. Ia bangga, dengan belenggu emasnya.
‪#‎Salah‬ satu ciri budak adalah dia selalu tunduk merunduk bagaikan cecunguk di depan tuannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar