Rabu, 27 Maret 2013

BIAJU, NGAJU & OLOH NGAJU (Bagian 5)



BIAJU, NGAJU & OLOH NGAJU
(Bagian 5)





Hardeland (1858: 87) juga mencatat ada jenis tanaman padi yang bernama parei Dayak (padi Dayak) yaitu padi yang batangnya pendek namun berdiameter besar/gemuk. Dalam pengamatan saya, kenapa padi ini disebut padi Dayak, tidak hanya batang padinya yang pendek dan gemuk, tetapi juga bentuk bulir padinya berbentuk pendek dan gemuk. Pada pertengahan abad ke-18 (sekitar 1761-1794) dalam surat-menyurat para pedagang Belanda di Banjarmasin disebutkan tentang komoditas rotan yang berasal dari wilayah orang Dayak yang disebut dengan nama rotan Dayak, rotan Biadjoe, dan rotan Dusun (Knappen, 2001: 355).  

Pada masa kini, terutama di pedesaan, masih ditemukan pemakaian kata dadayak. Ternyata, kata ini tidak hanya ditujukan untuk manusia tetapi juga untuk seekor ayam. Seorang petani Dayak Ngaju yang memelihara banyak ayam kampung, suatu ketika menunjukkan kepada saya ayam peliharaannya dan berkata “Lihat ayam itu kalau berjalan dadayak”. Ayam yang ditunjuknya memang gemuk dan berkaki pendek sehingga kalau berjalan agak limbung karena menyandang berat badannya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa baik pemberian nama Biaju maupun Dayak sangatlah bersifat eksonem artinya diberi atau penamaan oleh orang luar. Pertama-tama oleh orang Melayu untuk menyebutkan penduduk asli pulau Kalimantan yang tidak beragama Islam. Kemudian penamaan ini diambil begitu saja oleh pemerintah kolonial Belanda. Karena itu, pada tahap awal orang Ngaju tidak menyebut dirinya Dayak, bahkan tidak merasa bahwa dirinya adalah orang Dayak. Mereka hanya tahu bahwa sebutan itu muncul dari mulut orang luar atau para pendatang yang dipakai untuk merendahkan atau menghina diri mereka.

Bila bertemu dengan orang luar, mereka lebih senang mengidentifikasi diri berdasarkan nama sungai-sungai dimana kampung atau tanah kelahiran mereka berada, misalnya oloh Katingan (orang dari daerah aliran sungai Katingan), oloh Kahayan (orang dari daerah aliran sungai Kahayan), oloh Kapuas (orang dari daerah aliran sungai Kapuas)atau oloh Barito (orang dari daerah aliran sungai Barito). Dayak artinya sama dengan orang buas, tidak beradab, biadab, liar, kejam, primitif, pemenggal kepala, tidak beragama, pemakan daging manusia (kanibal), bodoh, dan berekor seperti monyet dst..

Pada awal abad 20, ketika semangat nasionalisme berhembus kuat di kepulauan nusantara yang ditandai dengan kebangkitan rasa kebangsaan. Kelompok terdidik Dayak, yang pada waktu itu sudah menduduki beberapa posisi di pemerintahan Belanda, tidak luput dari semangat ini. Mereka dengan sadar mengadopsi kata Dayak dan membangun kebanggaan diri menjadi orang Dayak. Pada tahun 1919 mereka mendirikan satu organisasi sosial politik berbasis etnis yang bernama Pakat Dayak atau Sarekat Dayak. Sejak saat itu, nama Dayak dipakai oleh orang Dayak sendiri sebagai nama generik untuk mempersatukan semua suku-suku di Kalimantan yang bukan Melayu atau Banjar. Identitas Dayak dipakai untuk memperjuangkan hak-hak sosial-politik, dibawa masuk ke pentas perjuangan politik nasional, sejajar dengan identitas lain. Sebelum Perang Dunia Kedua, sudah tampak ada sepuluh organisasi yang memakai nama Dayak yaitu:

1. Pakat Dayak atau Sarekat Dayak, berdiri tahun  1919  oleh Hausmann Baboe
2. Koperasi Dayak, berdiri tahun 1920 oleh Lui Kamis
3. Hollandsch Dayaksche School, berdiri tahun 1924 oleh Aktivist Pakat Dayak
4. Pakat Guru Kristen Dayak, berdiri tahun 1926 oleh Hendrik Sima Binti
5. Jong Dajak, berdiri tahun 1933 oleh  A.R. Tahat & J. Lampe
6. Gereja Dayak Evangelis, berdiri tahun 1935 oleh  Zending Basel
7. Comite Kesedaran Bangsa Dajak, berdiri tahun 1938 oleh Mahir Mahar
8. Kaoem Wanita Dayak,, berdiri tahun c.1938 oleh Bahara Nyangkal
9. Kepandoean Bangsa Dajak, berdiri tahun c.1938
10. Christelijk Hollandsch Dayaksche School, berdiri tahun c. 1940 oleh B. Sandan


Untuk membedakan diri dari suku-suku Dayak lainnya, misalnya Ma’anyan, Dusun, Lawangan, atau Ot Danum maka kata Dayak dijadikan prefiks, sehingga menjadi Dayak Ngaju. Begitu juga dengan suku-suku lain, sehingga muncullah Dayak Ma’anyan, Dayak Dusun, dst.. Dengan demikian muncul penamaan baru yaitu Dayak Ngaju. Identitas ini dipakai hingga kini, jikalau kita bertanya, “Apakah kamu orang Dayak ?”, maka jawabannya adalah “Ya saya Dayak, yaitu Dayak Ngaju”. Jawaban lainnya adalah,”Saya Dayak Ngaju dari sungai Kapuas”. Terminologi Dayak Ngaju telah diadopsi, dipakai dalam kehidupan sehari-hari oleh orang Ngaju..  SELESAI

Selasa, 26 Maret 2013

BIAJU, NGAJU & OLOH NGAJU (Bagian 4)


BIAJU, NGAJU & OLOH NGAJU
(Bagian 4)






Di kalangan masyarakat Dayak Ngaju sendiri, pada mulanya kata “Dayak” sama sekali bukanlah nama etnis. Hardeland dalam kamus Dayak Ngaju-Jerman (1858) sama sekali tidak ada menyebutkan bahwa kata “Dayak” berarti “Suku bangsa di Kalimantan” seperti yang tercantum dalam kamus Dayak Ngaju- Indonesia pada masa kini (Bingan-Ibrahim, 1996: 56). Ia hanya memakai kata Dayak atau Dajacksch dalam artian nama etnis pada bagian judul saja. Judul kamusnya yang tersohor itu: Dajacksch-Deutsches Wörterbuch, dikritik oleh Schärer ([1946] 1963:1-2) sebagai tidak tepat dan menyesatkan, karena kamus itu hanya memuat perbendaharaan kata-kata dari satu kelompok Dayak tertentu saja, yakni Dayak Ngaju. Karena bagi Schärer, kata “Dayak” adalah istilah umum atau nama generik untuk menyebut semua penduduk asli pulau Kalimantan yang beragama Kristen dan Pagan (Kaharingan) tanpa melihat perbedaan adat-istiadat dan bahasa. Walaupun demikian, menurut Ukur (1971:32), Hardeland adalah orang yang pertama mengintrodusir pemakaian kata “Dayak” dalam artian positif yaitu untuk menandai suku-suku asli yang mendiami pulau Kalimantan, dimana sebelumnya kata “Dayak” dipergunakan sebagai kata ejekan atau hinaan.

Dalam kamus Dayak Ngaju-Jerman yang disusun oleh August Hardeland terdapat kata dadayak, hadayak, kadayadayak, baradayak (Hardeland, 1858: 83). Anak kecil yang berjalan tertatih-tatih, agak limbung dan sempoyongan karena baru berjalan berjalan disebut dadayak atau hadayak. Orang dewasa yang berpostur tubuh gemuk-pendek, yang berjalan agak limbung dan sempoyongan karena tubuh yang kegemukan dan kaki yang pendek, juga disebut dadayak atau hadayak. Untuk orang dewasa yang berpostur tubuh tinggi, kalau berjalan agak limbung dan sempoyongan disebut kuhak-kahik yang artinya goyah meliuk-liuk. Seorang dewasa, walapun tidak bertubuh gemuk pendek namun masih berjalan tertatih-tatih seperti anak kecil yang baru belajar berjalan disebut kadaya-dayak. Untuk sekelompok orang atau banyak orang yang berjalan limbung atau sempoyongan, misalnya karena baru turun dari perahu atau kapal motor, disebut bara dayak.

M.T.H. Perelaer (1870), mencoba menerangkan bahwa gaya berjalan agak limbung dan sempoyongan itu karena kaki orang Dayak umumnya berbentuk busur (huruf O) dan karena orang Dayak seumur hidupnya banyak duduk bersila di perahu, karena itu kalau berjalan jadi tertatih-tatih atau limbung. Namun pendapat Perelaer itu disanggah oleh Maxwell (1983) dengan mengatakan bahwa orang Dayak tidak selama hidupnya duduk bersila di perahu yang kecil, mereka juga mempunyai perahu yang besar yang memungkinkan mereka berdiri dan tidak duduk bersila terus-menerus. Apa yang dikatakan oleh Perelaer ada benarnya bila mengingat pada zaman dulu orang Dayak bila bepergian ke kampung lain dengan naik perahu dalam waktu yang cukup lama, bisa setengah atau satu harian penuh. Kaki bisa kesemutan karena duduk terlalu lama, sehingga ketika tiba di tempat tujuan, untuk sementara waktu berjalan menjadi tidak normal, agak sempoyongan, limbung dan tertatih-tatih seperti anak kecil yang baru belajar berjalan. Hal itulah yang diamati oleh Perelaer sewaktu menjadi Komandan Benteng Belanda di Kuala Kapuas. Namun menurut Becker, tidak ada dasar atau alasan untuk
menyatakan bahwa kata “Dayak” berasal dari kata dadayak yang adalah bahasa orang Ngaju, karena kata Dayak bukanlah berasal dari orang Dayak sendiri tetapi dari orang yang bukan Dayak (1849: 28).  (BERSAMBUNG KE BAGIAN 5)




BIAJU, NGAJU & OLOH NGAJU (Bagian 3)

BIAJU, NGAJU & OLOH NGAJU
(Bagian 3)



Para missionaris Jerman yang bertahun-tahun tinggal dan hidup di tengah-tengah orang Ngaju, juga tidak memakai istilah Biaju tetapi oloh Ngaju. Merekalah yang kemudian mengintrodusir sebutan Ngaju atau oloh Ngaju. Hal itu dilakukan berdasarkan temuan mereka bahwa: pertama kata Biaju atau Bijaju bukanlah berasal dari orang Ngaju sendiri, tetapi dari orang luar, kedua orang Ngaju tidak menyebut dirinya Biaju tetapi mereka menyebut dirinya oloh Ngaju (Becker, 1849: 28). Kata “Ngaju” (ditulis dengan n kapital) dipakai sebagai kata benda bukan sebagai kata keterangan tempat atau kata sifat (yang ditulis tidak dengan n kapital). Schwanner (1853) memakai kata “orang Ngaju” untuk menyebut orang Dayak Ngaju.


Kata ”Dayak”, yang dikemudian hari menjadi prefiks kata “Ngaju” sehingga menjadi “Dayak Ngaju”, pertama kali muncul pada tahun 1757 dalam tulisan J. D. van Hohendorff yang berjudul “Radicale Beschrijving van Banjermassing” yang dipakai untuk menyebut “orang-orang liar di pegunungan” (1862: 188). Tampaknya, kata ini dipungutnya begitu saja dari cara orang-orang
pantai menyebut orang pedalaman. 

J. A. Crawfurd dalam bukunya yang berjudul “A Decriptive Dictionary of The Indian Islands and Adjacent Cauntries”(1856: 127) menyatakan bahwa istilah “Dyak” digunakan oleh orang-orang Melayu untuk menunjukan “ras liar” yang tinggal di Sumatra, Sulawesi dan terutama di Kalimantan. Beberapa penulis menyatakan istilah Dayak kemungkinan berasal dari bahasa Melayu “aja” yang artinya penduduk pedalaman (boven beteekent) atau penduduk asli (native) Adriani 1912: 2, Schärer 1946/1963:1, King 1993:30). Penamaan ini terus dipakai hingga kini seperti yang dilaporkan oleh Tania Li (2000: 25) bahwa pada masa kini dalam administrasi resmi pemerintahan di Sulawesi tetap menggunakan kata Dayak untuk menyebut suku-suku terasing-terkebelakang yang ada di wilayah pemerintahan mereka.

Sama seperti menggunakan kata Biaju, orang-orang Melayu pendatang menggunakan istilah Dayak secara general untuk menyebut penduduk pulau Kalimantan yang tidak beragama Islam Dikemudian hari, dikotomi etnis berdasarkan paham religius yang berasal dari orang Melayu ini dipakai begitu saja oleh pemerintah Kolonial Belanda untuk kepentingan administrasi kependudukan, yaitu penduduk non muslim (Kristen atau Kaharingan) dikategorikan sebagai suku Dayak dan penduduk Muslim disebutnya sebagai suku Banjar (Mallinckrodt, 1928: I, 9).

(BERSAMBUNG KE BAGIAN 4)

BIAJU, NGAJU DAN DAYAK NGAJU (Bagian 2)

BIAJU, NGAJU DAN DAYAK NGAJU
(Bagian 2)



Catatan di atas geladak kapal dan bersumber dari mulut penutur asing itu tentulah bias dan sangatlah berbeda dari catatan seseorang yang bertemu langsung dengan orang Dayak Ngaju. Antonio Ventimiglia, seorang pastor kebangsaan Portugis, yang diam, tinggal dan hidup bertahun-tahun di tengah orang Dayak Ngaju, memakai kata Ngaju dan tidak Biaju. Ketika berkirim surat ia melaporkan bahwa ia tinggal di satu wilayah yang bernama Rio Ngaju atau Sungai Ngaju (Ferro [1690]1705 via Baier 2002, Demarteau 2006: 4).

Pada masa awal, pemerintah kolonial Belanda di Banjarmasin juga memungut istilah Biaju begitu saja dan memakainya sebagai istilah teknis dalam tata administrasi kependudukan dan laporan-laporan. Karena itu dalam literaturliteratur dan arsip-arsip Belanda sebelum abad 19, istilah Biaju dipakai sebagai istilah generik atau kolektif. Biaju dipakai dalam pengertian Dayak secara umum, yang dipukul rata sebagai Ngaju, karena itu kata Ngaju, dalam literatur-literatur tersebut, juga bisa berarti orang Ma’anyan dan Bukit (Ave 1972:185). Generalisasi semacam ini tampak dari pembagian suku yang dipakai oleh Tjilik Riwut (1958). Karena memakai sumber-sumber sebelum Perang Dunia Kedua yang memang cenderung pada generalisasi (1958: 190, bdk. Nila Riwut 2003: 64- 65), ia memasukkan suku Dayak Ma’anyan, Lawangan dan Dusun sebagai bagian dari Dayak Ngaju. Bahkan orang Dayak Meratus [yang terdapat di Tapin, Amandit, Labuan Amas, Alai, Pitap dan Balangan], Dayak Pasir yang terdapat di Kalimantan Timur, orang Dayak Tumon di sungai Lamandau, Batang Kawa dan Bulik, juga dimasukkannya sebagai bagian dari suku Dayak Ngaju. (1958: 184, bdk. 2003: 63). Tentu saja fakta empirik tidaklah demikian, orang Dayak Ma’anyan bukanlah orang Dayak Ngaju, begitu juga dengan orang Dayak Tumon. Ketika melakukan penelitian saya berjumpa dengan beberapa orang Dayak Ma’aanyan dan Dayak Tumon yang keberatan dan memprotes generalisasi ini.   (BERSAMBUNG KE BAGIAN 3)



BIAJU, NGAJU & DAYAK NGAJU (Bagian 1)


BIAJU, NGAJU & DAYAK NGAJU
(Bagian 1)



Orang Dayak Ngaju yang kita kenal sekarang, dalam literatur-literatur pada masa-masa awal disebut dengan Biaju. Dalam literatur Melayu yaitu Hikajat Banjar, yang ditulis pada masa-masa awal kesultanan Islam Banjarmasin yaitu sekitar pertengahan abad 16 (Ras 1968: 196, Hall 1995: 489) terminologi Biaju dipakai untuk menyebut nama sekelompok masyarakat, sungai, wilayah dan pola hidup (Ras 1968: 336). Sungai Kahayan dan Kapuas sekarang ini disebut dengan nama sungai Biaju yaitu Batang Biaju Basar, dan Batang Biaju Kecil. Orang yang mendiaminya disebut Orang Biaju Basar dan Orang Biaju Kacil.  Sedangkan sungai Murong (Kapuas-Murong) sekarang ini disebut dengan nama Batang Petak (lihat Ras 1968: 314). Pulau Petak yang merupakan tempat tinggal orang Ngaju disebut Biaju (Ras 1968: 408, 449).

Terminologi Biaju tidaklah berasal dari orang Dayak Ngaju tetapi berasal dari bahasa orang Bakumpai yang secara ontologis merupakan bentuk kolokial dari bi dan aju, yang artinya ”dari hulu” atau ”dari udik”. Karena itu, di wilayah aliran sungai Barito, dimana banyak orang Bakumpai, orang Dayak Ngaju disebut dengan Biaju (lihat Schärer 1963: 1), yang artinya orang yang berdiam di dan dari bagian hulu sungai (Riwut 1958: 208). Di kemudian hari, istilah ini dipungut begitu saja oleh orang Melayu Banjar untuk menyebut semua orang pedalaman hulu sungai yang tidak beragama Islam. Istilah ini kemudian diperkenalkan kepada para pedagang dari Cina, Inggris, Portugis yang berlabuh di pelabuhan Banjarmasin. Karena itu dalam catatan pelayaran para pedagang Cina, Portugis dan Inggris dapat ditemukan kata Biaju yang merujuk pada suku di pedalaman yang bukan orang Banjar dan tidak beragama Islam (Groeneveldt 1880, Beckman 1718).   (BERSAMBUNG KE BAGIAN 2)


Senin, 14 Januari 2013

ESSAY ON CHARISMATIC MOVEMENT (Ulasan Mengenai Gerakan Kharismatik) oleh : dr. Gregory Budiman


Kata Pengantar


Kegerakan kharismatik merupakan kelanjutan dari kegerakan Pentakosta yang diwarnai dengan adanya menifestasi kuasa Roh Kudus berupa kuasa dan mujizat. Kegerakan kharismatik terlihat lebih luwes dengan gaya musik yang kotemporer dan kontekstual sehingga mudah diterima semua budaya dan lapisan masyarakat.
Statistik membuktikan bahwa kegerakan kharismatik berkembang sangat cepat. Kegerakan ini merupakan jawaban bagi keluhan umat manusia ditengah-tengah peradaban teknologi yang penuh persaingan dan tekanan.
Namun demikian penulis melihat adanya penyimpangan-penyimpangan yang terjadi seiring dengan berjalannya kegerakan kharismatik.tersebut. Buku ini mengulas terutama penyimpangan - penyimpangan yang telah terjadi di Gereja Kharismatik pada umumnya.
Berbeda dengan kritik keras yang terlalu ekstrim dan kurang realistis dari beberapa orang yang anti kegerakan kharismatik, penulis di sini memberikan ulasan yang mudah dipahami dan lebih realistis sehingga dapat memberikan masukan yang positif terhadap kegerakan kharismatik.

Penulis


ESSAY ON CHARISMATIC
MOVEMENT

I. Kegerakan Gereja


Masa kegelapan Gereja berlangsung selama kurang lebih 1200 tahun sejak agama Kristen dijadikan agama negara oleh Kaisar Constantin. Pada zaman itu seluruh kebenaran Alkitab terpendam, Keselamatan bukanlah suatu anugrah Allah melainkan  sesuatu yang harus dikejar oleh manusia dengan kekuatan dan kekuasaanya. Pada abad ke 16 seorang  biarawan Martin Luther menyadari akan kekosongan semua hikmat manusia. Ia terdorong untuk menyelidiki Alkitab dengan sungguh-sungguh. Ia mendapat pencerahan dari Roh Kudus, Ia menemukan bahwa penyelamatan manusia hanya oleh karena anugerah Allah semata tanpa memperhitungan perbuatan-perbuatan, jasa - jasa ataupun kehendak manusia.
           
Sejak saat itu Ia hidup berdasarkan firman Tuhan dan tulisan-tulisannya yang telah tersebar di seluruh Eropa telah memberikan pencerahan bagi orang banyak. Kegerakan Gereja terus bergulir abad ke 17 muncul gerakan anababtis dimana orang yang baru bertobat harus memberikan dirinya dibabtis secara selam. Abad ke 18 muncul gerakan  Methodhist yang dipelopori oleh John Wesley kemudian diikuti gerakan Pantakosta pada abad ke 19 dimana terjadi kuasa kesembuhan dan mujizat serta munculnya karunia berbahasa roh. Dan pada sekitar tahun 1960 muncul gerakan kharismatik.

Gerakan kharismatik sangat cepat berkembang ke seluruh penjuru dunia. Ciri khas dari gerakan ini adalah lagu pujian yang semangat dan lagu penyembahan yang menyentuh hati, dengan lagu-lagu yang kotemporer yang juga diikuti dengan penyembahan dalam bahasa roh.

Khotbah yang disampaikan umumnya sederhana, tidak membosankan dan menyenangkan. Gerakan ini pada mulanya muncul ditengah-tengah persekutuan olkumene diluar gereja tetapi pada tahun 1980-an banyak diantara kelompok persekutuan tersebut yang menyatakan diri sebagai Gereja Baru.

Selama tahun-tahun terakhir telah muncul gereja-gereja dan kelompok-kelompok Kristen Independen yang berkembang di seluruh dunia. Kebanyakan dari mereka bersifat Pentakosta dalam pengalaman pribadi dan bentuk ibadah. Mereka sangat mengutamakan ajaran Alkitab dan sering menunjukkan semangat besar untuk pekabaran Injil. Kehidupan berkorban, sifat tidak kaku dalam struktur dan keterbuakaan untuk menerima pimpinan langsung dari Allah. Begitu juga gereja-gereja dan kelompok-kelompok ini tidak merasa terikat pada tradisi atau bentuk iman Kristen yang dianut oleh gereja-gereja yang lebih besar dan bersejarah (Milne, 1996).
Kegerakan  Pentakosta dan Kharismatik  sering mendapat sorotan negatif dari kalangan Gereja tradisi. Semangat pelayanan yang menyala-nyala membuat mereka tidak pernah takut gagal dan selalu yakin akan terjadinya Mujizat Allah ditengah-tengah pelayanan mereka. Apakah kegerakan iman yang murni atau tidak lebih dari overconfidence atau gejala emosional yang hanya bersifat sementara ?  Perkara ini yang sering dipertanyakan oleh kaum tradisi (non Kharismatik).

Dalam Power Evangelism, Wimber menyatakan “…… mujizat, penglihatan, berbahasa lidah, nubuatan, dan kesembuhan adalah tambahan yang esensial pada Injil. Kekristenan tanpa hal itu adalah impoten.

Kekristenan tanpa mujizat tidak dapat membuktikan bahwa Yesus Kristus adalah hidup (Graham 1999). Seorang penginjil dalam kebaktian kebagunan rohani mengadakan tantangan kepada seorang lumpuh untuk maju kedepan dan berkata “ Jika orang ini tidak dapat berjalan sesudah saya berhenti berdoa, anda semua dapat mengatakan saya adalah pengkhotbah palsu dan Yesus itu mati. Tetapi jika ia bisa berjalan anda semua akan tahu bahwa Kristus bangkit karena Kristus yang mati  tidak dapat melakukan mujizat” (Graham 1999).

Kaum tradisi yang melihat kejadian di atas menggeleng-gelengkan kepala dan berkata,“ Penginjil baru ini tidak berhikmat, ya kalau orang itu sembuh dan berjalan nama Tuhan di permuliakan … tetapi kalau kesembuhan itu tidak terjadi apakah Yesus benar-benar mati dan tidak dapat melakukan mujizat ? Dan tentunya semua orang yang hadir kebaktian akan kecewa dan tidak percaya akan kuasa Yesus.

Permasalahannya sekarang adalah apakah Yesus berkenan menyembuhkan orang lumpuh itu melalui pelayanan si penginjil itu”. Distorsi atau penyimpangan dapat  pula terjadi bersamaan dengan berjalannya kebangunan rohani yang dipelopori oleh gerakan pentakosta dan kharismatik.

Sebagai contoh mungkin saja ada beberapa orang untuk pura-pura lumpuh pura-pura bisu tuli dan lain-lain. Kemudian ketika diadakan tantangan kesembuhan mereka maju dan didoakan kesembuhan terjadi, jemaat terpesona oleh tipuan palsu.

Tidak dapat kita sangkal bahwa gerakan kharismatik memang membawa angin segar di dalam kekristenan tetapi kita tetap harus waspada akan adanya penyimpangan-penyimpangan.

Berikut adalah survey alasan seseorang memilih Gereja Kharismatik (Gregory, 1999)[1]:

  1. Pengajarannya lebih sederhana mudah dipahami dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari (20%)
  2. Musik dan lagu-lagunya menyenangkan ibadahnya membuat hati menjadi semangat (35%)
  3. Ada kuasa mujizat dan pertobatan (15%)
  4. Merasa lebih senang karena antar anggota jemaat saling mengenal dan akrab (15%)
  5. Ada kegiatan sosial dan amal kepada lingkungan masyarakat (0%)
  6. Organisasi Gereja Kharismatik sederhana dapat melayani lebih leluasa tanpa birokrasi yang rumit. (10%)
  7. Hanya ikut orang tua atau diajak oleh teman.(5%)



II. Gereja Mengencerkan Berita Injil

Pertumbuhan Gereja-gereja baru semakin menjamur untuk memenuhi kebutuhan spiritual manusia. Pada era teknologi gelombang ketiga dimana teknologi telah berkembang sangat pesat tetapi di satu sisi hanya dapat dinikmati oleh sebagian kecil orang saja sedangkan sebagian besar lainnya tidak dapat mengikutinya maka akan timbul kompensasi berupa peningkatan kegiatan spiritual - religius termasuk agama kristen yang akan berkembang pesat.

Perkembangan aktivitas kekristenan dan pertumbuhan jumlah Gereja bukanlah suatu patokan untuk mengatakan bahwa Amanat Agung Tuhan Yesus telah dilaksanakan oleh orang Kristen.
Banyak gereja berkembang untuk memenuhi kebutuhan spiritual orang banyak dengan menurunkan standar doktirn bahkan sebuah gereja konservatif Chapel Full Gospel di Denver mengutbah namanya menjadi Happy Church ini menarik orang untuk datang kata pendetanya (colson, 1993)

Gereja berusaha untuk memenuhi kebutuhan pasaran dengan prinsip gereja modern adalah antara lain :

1.    Melakukan analisis pasar
2.    memberlakukan prinsip “pembeli adalah raja”

“Pertumbuhan demi kepentigan pertumbuhan itu sendiri yakni : pertumbuhan buatan manusia akan menjadi lonceng kematian rohani” (Richard Neheus). Pola gereja modern meski terselubung oleh gembor-gembor Alkitab sebagai firman Allah sebenarnya tidak mencerminkan Gereja yang Alkitabiah.
Mereka lebih memfokuskan kegiatan Gereja sebagai pusat pengembangan pribadi ketimbang memberitakan dosa  dan penebusan Yesus Kristus.

Khotbah tentang Berkat dan Kesembuhan Ilahi mendapat porsi dominan tanpa disertai pengertian kekeristenan yang sesungguhnya.

Self Confidence yang diajarkan oleh gereja-gereja modern memang mengambil beberapa bagian dari Alkitab, sebagai contoh prinsip name it and claim it diambil dari kejadian 1:18  “ Allah memberkati mereka lalu Allah berfirman kepada mereka beranak cuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap dibumi” 
Markus 11.24 “Karena itu Aku berkata kepadamu apa saja yang kamu minta dan doakan percayalah bahwa kamu telah menerimanya maka hal itu akan diberikan kepadamu”. Dari beberapa ayat tersebut di atas mereka menyimpulkan bahwa semua orang yang datang ke gereja adalah anak Allah yang diberi kuasa oleh Allah untuk  memiliki segala sesuatu yang mereka harapkan asalkan mereka yakin dan percaya hal itu telah terjadi. Sebagai  contoh prinsip yang sangat ngetrend akhir-akhir ini adalah prinsip iman dengan visualisasi. Seorang jemaat mendatangi seorang pendetanya karena doanya untuk memiliki mobil belum terjawab, kemudian pendetanya berkata, “ tempelkanlah sehelai kertas yang melukiskan ciri mobil kijang yang kamu inginkan pada dinding kamar tidurmu, pandanglah lembaran itu sebelum kamu pergi tidur dan pada saat bangun tidur. Kemudian bayangkan bentuk kijangmu, bayangkan dirimu sedang membuka pintu mobil, lalu memutar kunci kontaknya dan merasakan getaran mesin mobil yang dihidupkan. Lalu berucaplah kepada diri sendiri : Puji Tuhan atas mobil kijang ini. Percayalah kamu sudah memilikinya”.

Berita Injil yang seharusnya diterima jemaat secara lengkap seringkali hanya ditangkap sebagian saja. Penerangan pengajaran Theologi kemakmuran yang salah satunya adalah “ name it and claim”  menjadi sangat dilematis.

Apakah hasilnya dapat menjadi kemuliaan Tuhan atau menjadi kesombongan manusia yang menggunakan firman Tuhan ? Apakah orang yang tidak punya miskin dapat kita vonis sebagai orang yang tidak diberkati Tuhan atau orang yang imannya lemah.

Survei mengenai topik khotbah Kebaktian Hari Minggu (Gregory, 1999)[2] :
No.
Topik
Prosentase
1
Keselamatan dan Karya Kristus
2%
2
Doa dan Firman
4%
3
Pujian dan Penyembahan
14 %
4
Karunia Roh Kudus dan manifestasinya
14%
5
Berkat dan Kesembuhan
20%
6
Akhir Zaman
6%
7
Amanat Agung
10%
8
Pemulihan Pribadi dan Karakter
18%
9
Persembahan
2%
10
Ketaatan Kepada Kristus
10%

Statistik membuktikan bahwa topik khotbah di Gereja Kharismatik lebih menekankan kepada berkat dan kesembuhan sedangkan pengajaran - pengajaran dasar mengenal arti keselamatan dan karya Kristus agaknya telah menjadi nomor dua.

Gereja modern seringkali melakukan pelbagai upaya untuk menarik orang untuk menjadi jemaat gerejanya sebanyak mungkin. Ada beberapa upaya yang benar tapi ada pula beberapa upaya yang terlalu berlebihan dan terkesan justru menghilangkan atau mengencerkan Injil itu sendiri. Bab berikut akan menjelaskan tentang keselamatan dan karya kematian Kristus yang sudah mulai usang dan hilang dari pemberitaan khotbah di gereja-gereja.

Prinsip hidup Alkitabiah : “menyangkal diri sendiri dan mengikut Yesus” telah berubah menjadi : “memenuhi keinginan diri sendiri dengan pertolongan Yesus “. Prinsip yang diselewengkan tersebut kadang-kadang tidak tampak menyesatkan bahkan ada ayat-ayat pendukungnya dari Alkitab, hanya saja Injil yang disampaikan tidak lengkap dan dapat menyesatkan jemaat. Sebagai contoh seorang aktivis gereja yang masih kuliah di fakultas hukum benama Sdr. S percaya dan beriman bahwa Tuhan akan memberikan nilai A untuk ujian Tata Negara. Ia berdoa dan menggunakan prinsip Markus 11:24,”…. apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya maka hal itu akan diberikan kepadamu”. Dalam persekutuan-persekutuan ia sering mensharingkan imannya bahwa Tuhan akan memberikan kepadanya nilai A untuk mata kuliah Tata Negara tetapi oleh karena kesibukannya di Gereja ia sering menjadi terlalu lelah untuk belajar, pikirannya terkuras pada kegiatan di Gereja dan ia sukar berkonsentrasi dalam belajar, alhasil ia tidak lulus ujian dan ia sempat kecewa dan malu pada teman-temannya di Persekutuan.

Dalam hal ini siapakah yang salah ? Apakah iman Sdr.S tidak cukup besar ataukah ia salah faham dalam menggunakan prinsip Firman Tuhan ?
Di sinilah letak pengenceran berita Injil seringkali kita menggunakan satu ayat dari Alkitab tanpa disadari pengertian yang benar dari keseluruhan isi Alkitab. Kita juga perlu menyoroti sumber pengajaran yang mengencerkan arti Injil yaitu sekolah-sekolah Alkitab.

Sekolah-sekolah Alkitab telah banyak didirikan baik dari kalangan Injili maupun kharismatik. Tetapi bobot dari kualitas sekolah theologi telah mengalami pergeseran. Banyak anak-anak yang tidak diterima di perguruan tinggi sekuler kemudian masuk sekolah theologi. Seringkali sekolah theologi juga digunakan sebagai tempat menampung anak-anak bermasalah dengan harapan dengan masuk sekolah theologi mereka dapat mengalami pemulihan. Hal inilah yang membuat output hamba-hamba Tuhan yang tidak berkualitas dalam hal pengajaran.

Theologi merupakan salah satu cabang dari ilmu filsafat, oleh karena itu orang yang  masuk ke dalam sekolah theologi semestinya adalah seorang dengan intelektual yang cukup tinggi dan berprestasi. Untuk pemulihan anak-anak bermasalah perlu dibentuk sekolah pengembangan pribadi kristen dan bukan sekolah theologi.


III.           Keselamatan yang tidak jelas


Ketika seseorang masuk dalam  kebaktian gereja kharismatik mungkin ia mengalami sukacita karena musik yang bersemangat, mungkin ia mendapat kesenangan oleh karena khotbah pak pendeta yang menyejukkan hatinya dan memberi pengharapan  di dalam Kristus. Tetapi orang itu juga mendapatkan suka cita yang sama ketika nonton pertunjukkan musik jazz dan ia mendapat ketenangan bahkan kepercayaan diri setelah ia mengikuti program sekolah pengembangan pribadi. Lalu apa bedanya program gereja dengan program sosial lainnya ?

Beberapa orang menjawab di dalam Gereja ada Yesus sedangkan di luar gereja tidak ada Yesus. Benar, Yesus telah menjadi trademark program kekristenan. Kekristenan yang sejati berpusatkan kepada pribadi Yesus dan Karya Keselamatannya tetapi seringkali Gereja telah menyingkirkan prinsip utama tersebut.

Yesus hanya menjadi tokoh yang baik dan patut diteladani sehingga orang yang hadir di Gereja dapat memiliki karakter dan kepribadian yang baik pula. Banyak  orang masuk gedung Gereja tanpa mengalami karya penyelamatan oleh Kristus Yesus mengapa ? Karena mereka hanya sekedar tahu bahwa Yesus itu adalah Anak Allah, Yesus adalah teladan yang baik; tetapi sesungguhnya mereka tidak pernah mengalami kelahiran kembali.

Orang-orang yang sudah lama menjadi anggota Gereja merasa senang dan merasa mengalami perubahan dalam dikap dan cara hidupnya dan ikut mengambil bagian di dalam pelayanan pekerjaan Tuhan tetapi apakah mereka sudah memperoleh kerselamtan kekal ? Belum tentu !!!!

Mengapa belum tentu? Karena manusia  sudah terbuang dari hadirat  Allah dan sangat tidak mungkin menjadi anak Allah hanya dengan rajin kebaktian dan ikut serta dalam pelayanan Gereja. Lalu bagaimana caranya untuk menerima anugerah keselamatan ?

Keselamatan merupakan fondasi / dasar kehidupan orang Kristen sehingga topik tentang keselamatan seharusnya mendapatkan porsi yang dominan di dalam pelayanan pekerjaan Tuhan. Point-point yang biasanya hilang dari khotbah-khotbah Gereja adalah :

·         Semua manusia berdosa dan tidak mungkin datang kepada Allah.
·         Semua usaha manusia adalah sia-sia termasuk rajin kebaktian, rajin pelayanan dan lain-lain.
·         Allah mengasihi manusia dan merelakan AnakNya Yesus Kristus mati di kayu salib untuk menanggung dosa umat manusia.
·         Hanya ada satu jalan yaitu menerima Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat maka seorang akan memperoleh hidup yang kekal.

Mengapa point-point di atas penting ? Ada yang beberapa orang yang sudah menjadi pelayan Tuhan di Gereja  tetapi masih memiliki prinsip “banyak jalan manuju Surga” dan perbuatan baik kita merupakan salah saru syarat untuk datang kepada Allah. Mungkin saja, banyak anggota Gereja yang kelihatannya bertumbuh dan semakin giat melakukan pelayanan di Gereja tetapi belum memiliki keyakinan bahwa hanya dengan menerima Yesus seseorang dapat memperoleh hidup yang kekal. Unsur-unsur dari keselamatan adalah :


  1. Pengkuan bahwa ia adalah orang berdosa dan tidak mungkin datang kepada Allah dengan usahanya sendiri.
  2. Kemauan untuk berobat dan mengikuti jalan Tuhan
  3. Percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan sebab Ia telah mati menanggung dosa manusia.
  4. Mengundang Yesus masuk di dalam hidupnnya.

Ada juga gereja yang hanya mengutamakan tanda dan mujizat serta ibadah yang diisi dengan pengalaman-pengalaman sensasional yang aneh seperti “ tumbang di dalam kuasa roh “. Mereka mensiyalir bahwa banyak orang diselamatkan tanpa mendengar khotbah (Wagner, 1997) .

Bagaimana mungkin orang diselamatkan hanya karena melihat tanda dan mujizat atau mengalami “ tumbang dalam kuasa roh “ sebelum ia mendengar berita Injil ? (Bandingkan dengan praktik-praktik mistik yang juga mendemostrasikan kuasa dan mujizat).


IV. Tradisi Kharismatik


Gereja kharismatik menyatakan diri bahwa mereka selalu mengikuti dinamika Roh Kudus dan tidak pernah terikat oleh tradisi Gereja lama. Pernyataan  yang ekstrim ini mungkin akan menjadi bumerang sebab dengan begitu mungkin justru akan muncul tradisi baru yakni tradisi kharismatik.

Beberapa penyimapangan yang timbul dalam gerakan kharismatik :

Semakin banyak membaca Alkitab seseorang lebih menjadi semakin penuh  kuasa

Ada beberapa pemimpin Gereja kharismatik yang menjadi terlalu ekstrim dengan berasumsi bahwa ketika seseorang makin banyak membaca Alkitab maka orang tersebut akan memiliki “kuasa” yang semakin besar. Kuasa yang dimaksud adalah  kuasa untuk mengusir setan, menyembuhkan penyakit, dan mengadakan mujizat-mujizat.

Pembacaan Alkitab secara kuantitatif tanpa pengertian yang benar menjadikan Aklitab sebagai jimat bahkan menjadi suatu berhala yang digunakan sebagai sarana pemuasan kekuasaan manusia.

Ada seorang teman yang setiap pagi dan sore hari membacakan 2 pasal Alkitab kepada bayinya yang berumur 1 bulan. Ia sudah melakukan hal itu sejak bayinya masih dalam kandungan istrinya. Ia percaya dengan membacakan ayat-ayat Alkitab maka kelak bayinya akan menjadi hamba Tuhan yang penuh kuasa dan melakukan banyak mukizat.

Melakukan hal seperti itu di atas memang kelihatannya sangat rohani tetapi secara prinsip hal itu dapat menyesatkan karena ia telah menggunakan Alkitab sebagai mantra. Penyelewengan - penyelewengan yang terjadi mungkin kelihatannya merupakan hal yang sangat rohani bila hanya dilihat secara sepintas, tetapi kalau kita selidiki prinsip dasar dan motifnya maka kita akan tahu ada penyesatan di dalamnya.

 “ Mengundang Hadirat Tuhan dengan Puji-Pujian”


Mazmur  22 : 4 “ Padahal Engkaulah yang kudus, yang bersemayam di atas puji-pujian Israel”. Berdasarkan ayat ini, beberapa orang  berpikir bahwa pujian akan mengundang kehadiran Allah. Ketika kehadiran Tuhan tidak terasa mereka memuji Tuhan dengan lebih kuat dan lebih nyaring agar Allah turun dan menyatakan kuasanya.

Prinsip ini tidak benar sebab kehadiran Tuhan tidak bisa disetir oleh manusia termasuk dengan puji-pujian (bandingkanlah dengan pola imam-imam Beal yang berteriak-teriak dan menoreh-norehkan tubuh mereka sendiri dalam usaha menurunkan kuasa dari dewa mereka).

Bob Sorge mengatakan Mazmur 22 : 4 bermaksud menyatakan bahwa Allah dinobatkan menjadi Raja atas hidup kita saat kita memuji Dia, jadi bukan dengan pujian kita mengundang Allah untuk  turun; sebab Allah Maha Hadir.

Ketika kita memuji Tuhan kita mengakui Kemaha Hadiran Allah sehingga kita merasakan kehadiranNya dalam kasih dan kuasaNYA. Dengan prinsip “ masuklah melalui pintu gerbangnya dengan nyanyai syukur “ berarti hati kita yang dipersiapkan untuk menyadari akan kehadiran Tuhan di tengah-tengah kita.

Mazmur 40 : 4 “Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita. Banyak orang melihatnya akan menjadi takut lalu percaya kepada Tuhan”. Seorang  teman telah menggunakan ayat ini dengan prinsip yang salah, ia selalu menyanyikan nyanyian rohani dengan keras dan nyaring saat ia berjalan di lorong lorong tempat ia bekerja. Ia berharap dengan memuji Tuhan keras-keras maka kuasa Allah akan membuat orang-orang yang mendengarnya menjadi bertobat. Tetapi kenyataannya justru sebaliknya, orang-orang di kantor itu justru mengucilkan dia dan menjadi apriori terhadap kekristenan sebab sesungguhnya nyanyian tersebut justru mengangganggu konsentrasi orang-orang yang bekerja di kantor.

“ Iman Yang Membabi buta”

Istilah “iman yang membabi buta” adalah iman yang timbul secara emosional tanpa pengertian  yang benar. Sebagai contoh : seseorang yang menderia hipertensi  menahun (penyakit tekanan darah tinggi) harus selalu minum obat seumur hidupnya, tetapi ketika ia berjumpa dengan seorang  kharismatik ia ditegur karena keterikatannya terhadap obat. Ia lalu dilayani pelepasan dan didoakan kesembuhan. Dan mulai  saat itu orang tersebut dilarang minum obat dari dokter pribadinya. Apa akibatnya ? Ia mengalami serangan stroke beberapa saat setelah berhenti minum obat. Sekarang apa kita akan mempertanyakan kuasa Tuhan ? Ataukah prinsip yang dipakai salah dan tidak sesuai dengan prinsip Allah ? Jelas iman yang membabi buta bukanlah prinsip yang Alkitabiah melainkan prinsip yang berasal dari kecongkakan manusia.


“ Pekermbangan Gereja Dinilai Dari Kuantitas Anggota bukan Kualitas”

Beberapa Gereja berlomba-lomba untuk mencari pengikut dan sedapat mungkin membuka banyak cabang. Mereka bahkan memasang target yang harus mereka capai dalam kurun waktu tertentu. Kadang-kadang hal ini menimbulkan persaingan yang tidak sehat seperti mengambil jemaat dari anggota gereja lain

Prinsip pengembangan Gereja yang  tak terbatas (MegaChurch) dengan usaha untuk menarik banyak orang menjadi anggotanya membuat gereja berkembang hanya secara kuantitas tetapi kualitas kekristenannya masih dipertanyakan. Pola Gereja Alkitabiah adalah pelayanan orang perorang dimana di dalam kelompok kecil seseorang pemimpin rohani membantu beberapa anggota jemaat untuk bertumbuh tahap demi tahap. Tetapi prinsip Mega Church mengutamakan event-event besar seperti  KKR dan acara-acara yang sensasional tanpa memperhatikan kebutuhan masing-maing anggota satu persatu.  Hanya saja mereka akan merekrut anggota jemaat yang memiliki potensi, baik dalam hal keuangan maupun keahlian, sedangkan anggota yang tidak memiliki potensi tidak mendapat perhatian dan tersisihkan.


“ Iatrogenic Mental Disorder”

Iatrogenic mental disorder adalah gangguan mental yang disebabkan oleh karena penanganan kasus yang salah.
Pelayanan konseling di gereja kharismatik kebanyakan tidak menggunakan prinsip-prinsip konseling yang benar tetapi mereka hanya mengandalkan keberanian untuk mengharapkan mujizat dan pengusiran roh jahat semata. Hal tersebut seringkali justru mengakibatkan yang disebut latrogenic mental disorder pada orang yang dilayani.

Sebagai contoh seorang remaja laki-laki datang  kepada Bapak Pendeta sehubungan  dengan kebiasaan masturbasi / onani yang sulit dihilangkan. Bapak pendeta membacakan firman kemudian mendoakan anak remaja tersebut serta mengusir roh percabulan yang mungkin ada pada diri anak remaja tersebut.

Beberapa minggu kemudian anak remaja itu datang kepada Bapak Pendeta dengan masalah yang sama. Bapak Pendeta berkata kalau kamu punya iman dan percaya kepada Yesus maka kamu tidak akan melakukan dosa itu lagi. Lalu Bapak pendeta membacakan Ibrani 10 : 26 “Sebab jika kita sengaja berbuat  dosa sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu”.  Anak remaja itu kemudian sehari-harinya hanya diam di kamar, kadang-kadang berteriak dan menjerit. Ia begitu ketakutan karena Tuhan tidak akan mengampuni dirinya lagi dan akan mencampakkan dirinya ke neraka. Ia mengalami gangguan jiwa dan harus dirawat di rumah sakit jiwa.




“ Manipulasi Pengajaran dan Karuni Roh “

Model pengajaran yang seringkali kita jumpai di Gereja Kharismatik adalah model satu arah. Jemaat hanya disuapi terus menerus sampai kenyang rohani tetapi pada dasarnya mereka tidak bisa menggali sendiri kebenaran-kebenaran dalam Alkitab.

Dengan kata lain jemaat hanya melakukan fungsi 4 D (datang, duduk, dengar, duit) dan akhirnya mengalami degerenasi rohani. Model pengajaran seperti ini akan memudahkan masuknya penyesatan-penyesatan yang tersamar. Sebagai contoh ada pengajaran yang mengatakan bahwa keselamatan harus kita pertahankan dengan perbuatan baik kita; bila kita jatuh dalam dosa lagi maka keselamatan kekal itu tidak akan menjadi bagian dari diri kita lagi. Pengajaran ini tampaknya baik padahal menyesatkan sebab di situ dikatakan bahwa keselamatan kekal bukan lagi anugerah Allah semata yang diberikan secara cuma-cuma melainkan merupakan  hasil jerih payah manusia untuk hidup saleh. Dengan kata lain keselamatan yang ada pada diri seseorang bisa hilang atau timbul tergantung dari perbuatan orang tesebut .
Hal ini melecehkan anugerah keselamatan yang begitu besar dari pengorbanan Yesus Kristus sendiri, seolah-olah pengorbanan Kristus saja tidak sanggup menyelamatkan manusia dari kegelapan.

Kebaktian khatrismatik juga diwarnai dengan adanya nubuatan-nubuatan yang membuat jemaat terpesona. Nubuatan (prophecy) adalah karunia untuk mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi. Karunia ini Tuhan berikan untuk membangun jemaatnya supaya semakin kuat dan bertumbuh. Kita harus berhati-hati dalam melakukan praktek karunia ini. Memang  hal itu dapat terjadi oleh dorongan Roh Kudus tetapi bisa juga oleh dorongan diri sendiri. Bagaimana membedakannya ? Sulit perbedaannya sangat tipis dan tidak bisa dilihat oleh orang lain.

Trend Kharismatik membuat para hamba Tuhan terdorong untuk bernubuat pada setiap acara kebaktian (bernubuat disini tidak sama dengan berkhotbah melainkan secara supranatural dapat mengetahui apa yang akan terjadi dan apa yang telah terjadi oleh bisikan Roh Allah). Sebagai contoh seorang hamba Tuhan berbicara dalam kebaktian,” Saya mendengar dengan jelas Tuhan berbicara bahwa beberapa di antara saudara ada yang mempunyai sakit maag, silakan saudara berdiri dan maju kedepan”. Kita tidak dapat memberi penilaian apakah hamba Tuhan itu memang mendengar suara Tuhan atau hanya sekedar kata-kata manipulasi untuk mempesona jemaat.

Seperti contoh di atas bisa saja seolah-olah hamba Tuhan tersebut mendapat wahyu dari Tuhan yaitu ada beberapa jemaat yang sakit maag padahal  statistik memang membuktikan 60% penduduk dunia mengidap penyakit maag. Jadi di manapun anda berada 60% orang yang pernah anda jumpai mengidap sakit maag. Hal itu hampir sama seperti mengatakan,” Tuhan berbicara kepada saya bahwa esok pagi matahari akan terbit dari sebelah timur”.

Lebih konyol lagi kalau ada pembicara yang berkata, “Tuhan memberitahu saya bahwa banyak diantara saudara yang sedang mempunyai masalah dan berusaha memecahkannya”. Ya jelas 100% penduduk dunia punya masalah sedangkan 100% penghuni kuburan tidak punya masalah. Kata-kata “Tuhan berbicara kepada saya….” dapat menjadi kata-kata manipulatif yang hanya sekedar untuk menarik perhatian jemaat dan menebar kharisma sang pembicara.

Anggota jemaat kharismatik sendiri seringkali menggunakan karunia nubuatan dan penglihatan dalam sebuah persekutuan kelompok kecil. Hal ini ada sisi baiknya karena dapat  membangun jemaat tetapi ada sisi buruknya yang dapat menghancurkan jemaat bila nubuatan atau pengelihatan itu hanya sekedar usaha manipultif manusia. Seringkali kata-kata nubuatan yang dikeluarkan seseorang merupakan luapan kepahitannya terhadap saudara seimannya di dalam persekutuan tersebut atau mungkin sebagai upaya agar dianggap rohani dan berkharisma.

Jadi karunia nubuat itu sangat mudah dimanipulasi dan akibatnya akan membahayakan hamba Tuhan yang mempraktekkan model pelayanan tersebut karena ia akan jatuh di dalam dosa kesombongan . Memang pelayanan model ini akan mempunyai daya tarik tersendiri dan membuat jemaat terkagum-kagum terutama pada pengkhotbahnya.


Prinsip “berikan kailnya jangan ikannya “ harus juga berlaku di dalam kekristenan. Jemaat harus bisa menggali sendiri kebenaran Alkitab dan tidak begitu saja menerima setiap pengajaran yang disampaikan hamba Tuhan tanpa menyelidikinya terlebih dahulu.


V. Kesimpulan

A.   Kesimpulan

Kegerakan Kharismatik  membawa angin segar bagi bagi kekristenan sebab kegerakan ini menjangkau banyak jiwa untuk datang kepada Kristus. Kegerakan yang dinamis membuat anggota jemaat turut ambil bagian dalam  pelayanan pekerjaan Tuhan, tidak seperti dahulu yang boleh mengajarkan firman Tuhan hanyalah para hamba Tuhan

Namun demikian tidak jarang pula terjadi penyimpangan-penyimpangan yang timbul dari kegerakan ini antara lain “ pengenceran berita Injil”, pergeseran sistem nilai Alkitab, dan doktrin keselamatan yang tidak jelas, juga kebiasaan - kebiasaan kharismatik yang kurang sehat.


B.   Saran

Terutama ditujukan kepada pemimpin atau gembala Gereja Kharismatik :

·         Melakukan koreksi terhadap pengajaran-pengajaran yang diberikan kepada jemaat supaya tidak ada penyimpangan-penyimpangan.
·         Mengajar jemaat untuk dapat menyelidiki sendiri kebenaran Alkitab sehingga tidak mudah disesatkan
·         Lebih mengutamakan pemberitaan karya keselamatan Kristus; tidak hanya khotbah tentang berkat dan kesembuhan terus menerus.
·         Lebih mengutamakan pelayanan kelompok kecil (pelayanan perorangan) dari pada menyelenggarakan event-event besar yang sensasional.
·         Lebih mengutamakan pertumbuhan jemaat tidak hanya secara kuantitatif tapi juga secara kualitatif dari pada sekedar pelebaran organisasi dan cabang-cabangnya.



[1] Data subjektif dari beberapa anggota gereja kharismatik yang diambil secara non random.
[2] Data subjektif dari khotbah beberapa gereja kharismatik yang diambil secara non random.