Senin, 20 Agustus 2012

RAHASIA SI UNTUNG



Kita semua pasti kenal tokoh si Untung di komik Donal Bebek. Berlawanan dengan Donal yang selalu sial. Si Untung ini dikisahkan untung terus. Ada saja keberuntungan yang selalu menghampiri tokoh bebek yang di Amerika bernama asli Gladstone ini. Betapa enaknya hidup si Untung. Pemalas, tidak pernah bekerja, tapi selalu lebih untung dari Donal. Jika Untung dan Donal berjalan bersama, yang tiba-tiba menemukan sekeping uang dijalan, pastilah itu si Untung. Jika Anda juga ingin selalu beruntung seperti si Untung, dont worry, ternyata beruntung itu ada ilmunya.

Professor Richard Wiseman dari University of Hertfordshire Inggris, mencoba meneliti hal-hal yang membedakan orang2 beruntung dengan yang sial. Wiseman merekrut sekelompok orang yang merasa hidupnya selalu untung, dan sekelompok lain yang hidupnya selalu sial. Memang kesan nya seperti main-main, bagaimana mungkin keberuntungan bisa diteliti. Namun ternyata memang orang yang beruntung bertindak berbeda dengan mereka yang sial.

Misalnya, dalam salah satu penelitian the Luck Project ini, Wiseman memberikan tugas untuk menghitung berapa jumlah foto dalam koran yang dibagikan kepada dua kelompok tadi. Orang2 dari kelompok sial memerlukan waktu rata-rata 2 menit untuk menyelesaikan tugas ini. Sementara mereka dari kelompok si Untung hanya perlu beberapa detik saja! Lho kok bisa?

Ya, karena sebelumnya pada halaman ke dua Wiseman telah meletakkan tulisan yang tidak kecil berbunyi “berhenti menghitung sekarang! ada 43 gambar di koran ini”. Kelompol sial melewatkan tulisan ini ketika asyik menghitung gambar. Bahkan, lebih iseng lagi, di tengah2 koran, Wiseman menaruh pesan lain yang bunyinya: “berhenti menghitung sekarang dan bilang ke peneliti Anda menemukan ini, dan menangkan $250!” Lagi-lagi kelompok sial melewatkan pesan tadi! Memang benar2 sial.

Singkatnya, dari penelitian yang diklaimnya “scientific” ini, Wiseman menemukan 4 faktor yang membedakan mereka yang beruntung dari yang sial:



1. Sikap terhadap peluang.

Orang beruntung ternyata memang lebih terbuka terhadap peluang. Mereka lebih peka terhadap adanya peluang, pandai menciptakan peluang, dan bertindak ketika peluang datang. Bagaimana hal ini dimungkinkan?

Ternyata orang-orang yg beruntung memiliki sikap yang lebih rileks dan terbuka terhadap pengalaman-pengalam an baru. Mereka lebih terbuka terhadap interaksi dengan orang-orang yang baru dikenal, dan menciptakan jaringan-jaringan sosial baru. Orang yang sial lebih tegang sehingga tertutup terhadap kemungkinan- kemungkinan baru.

Sebagai contoh, ketika Barnett Helzberg seorang pemilik toko permata di New York hendak menjual toko permata nya, tanpa disengaja sewaktu berjalan di depan Plaza Hotel, dia mendengar seorang wanita memanggil pria di sebelahnya: “Mr. Buffet!” Hanya kejadian sekilas yang mungkin akan dilewatkan kebanyakan orang yang kurang beruntung. Tapi Helzber berpikir lain. Ia berpikir jika pria di sebelahnya ternyata adalah Warren Buffet, salah seorang investor terbesar di Amerika, maka dia berpeluang menawarkan jaringan toko permata nya. Maka Helzberg segera menyapa pria di sebelahnya, dan betul ternyata dia adalah Warren Buffet. Perkenalan pun terjadi dan Helzberg yang sebelumnya sama sekali tidak mengenal Warren Buffet, berhasil menawarkan bisnisnya secara langsung kepada Buffet, face to face. Setahun kemudian Buffet setuju membeli jaringan toko permata milik Helzberg. Betul-betul beruntung.

2. Menggunakan intuisi dalam membuat keputusan.
Orang yang beruntung ternyata lebih mengandalkan intuisi daripada logika. Keputusan-keputusan penting yang dilakukan oleh orang beruntung ternyata sebagian besar dilakukan atas dasar bisikan “hati nurani” (intuisi) daripada hasil otak-atik angka yang canggih. Angka-angka akan sangat membantu, tapi final decision umumnya dari “gut feeling”. Yang barangkali sulit bagi orang yang sial adalah, bisikan hati nurani tadi akan sulit kita dengar jika otak kita pusing dengan penalaran yang tak berkesudahan. Makanya orang beruntung umumnya memiliki metoda untuk mempertajam intuisi mereka, misalnya melalui meditasi yang teratur. Pada kondisi mental yang tenang, dan pikiran yang jernih, intuisi akan lebih mudah diakses. Dan makin sering digunakan, intuisi kita juga akan semakin tajam.

Banyak teman saya yang bertanya, “mendengarkan intuisi” itu bagaimana? Apakah tiba2 ada suara yang terdengar menyuruh kita melakukan sesuatu? Wah, kalau pengalaman saya tidak seperti itu. Malah kalau tiba2 mendengar suara yg tidak ketahuan sumbernya, bisa2 saya jatuh pingsan.

Karena ini subyektif, mungkin saja ada orang yang beneran denger suara.

Tapi kalau pengalaman saya, sesungguhnya intuisi itu sering muncul dalam berbagai bentuk, misalnya:

- Isyarat dari badan. Anda pasti sering mengalami. “Gue kok tiba2 deg-deg an ya, mau dapet rejeki kali”, semacam itu. Badan kita sesungguhnya sering memberi isyarat2 tertentu yang harus Anda maknakan. Misalnya Anda kok tiba2 meriang kalau mau dapet deal gede, ya diwaspadai saja kalau tiba2 meriang lagi.

- Isyarat dari perasaan. Tiba-tiba saja Anda merasakan sesuatu yang lain ketika sedang melihat atau melakukan sesuatu. Ini yang pernah saya alami. Contohnya, waktu saya masih kuliah, saya suka merasa tiba-tiba excited setiap kali melintasi kantor perusahaan tertentu. Beberapa tahun kemudian saya ternyata bekerja di kantor tersebut. Ini masih terjadi untuk beberapa hal lain.

3. Selalu berharap kebaikan akan datang.
Orang yang beruntung ternyata selalu ge-er terhadap kehidupan. Selalu berprasangka baik bahwa kebaikan akan datang kepadanya. Dengan sikap mental yang demikian, mereka lebih tahan terhadap ujian yang menimpa mereka, dan akan lebih positif dalam berinteraksi dengan orang lain. Coba saja Anda lakukan tes sendiri secara sederhana, tanya orang sukses yang Anda kenal, bagaimana prospek bisnis kedepan. Pasti mereka akan menceritakan optimisme dan harapan.

4. Mengubah hal yang buruk menjadi baik.
Orang-orang beruntung sangat pandai menghadapi situasi buruk dan merubahnya menjadi kebaikan. Bagi mereka setiap situasi selalu ada sisi baiknya. Dalam salah satu tes nya Prof Wiseman meminta peserta untuk membayangkan sedang pergi ke bank dan tiba-tiba bank tersebut diserbu kawanan perampok bersenjata. Dan peserta diminta mengutarakan reaksi mereka. Reaksi orang dari kelompok sial umunya adalah: “wah sial bener ada di tengah2 perampokan begitu”. Sementara reaksi orang beruntung, misalnya adalah: “untung saya ada disana, saya bisa menuliskan pengalaman saya untuk media dan dapet duit”. Apapun situasinya orang yg beruntung pokoknya untung terus.

Mereka dengan cepat mampu beradaptasi dengan situasi buruk dan merubahnya menjadi keberuntungan.

Sekolah Keberuntungan.

Bagi mereka yang kurang beruntung, Prof Wiseman bahkan membuka Luck School.
Latihan yang diberikan Wiseman untuk orang2 semacam itu adalah dengan membuat “Luck Diary”, buku harian keberuntungan. Setiap hari, peserta harus mencatat hal-hal positif atau keberuntungan yang terjadi.

Mereka dilarang keras menuliskan kesialan mereka. Awalnya mungkin sulit, tapi begitu mereka bisa menuliskan satu keberuntungan, besok-besoknya akan semakin mudah dan semakin banyak keberuntungan yg mereka tuliskan.

Dan ketika mereka melihat beberapa hari kebelakang Lucky Diary mereka, mereka semakin sadar betapa beruntungnya mereka. Dan sesuai prinsip “law of attraction”, semakin mereka memikirkan betapa mereka beruntung, maka semakin banyak lagi lucky events yang datang pada hidup mereka.

Jadi, sesederhana itu rahasia si Untung. Ternyata semua orang juga bisa beruntung. Termasuk termans semua.

4 Tipe Manusia Hadapi Tekanan Hidup


Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh” (John Gray)

Pembaca, hidup memang tidak lepas dari berbagai tekanan. Lebih-lebih,hidup di alam modern ini yang menyuguhkan beragam risiko. Sampai seorang sosiolog Ulrich Beck menamai jaman kontemporer ini dengan masyarakat risiko (risk society). Alam modern menyuguhkan perubahan cepat dan tak jarang mengagetkan.

Nah, tekanan itu sesungguhnya membentuk watak, karakter, dan sekaligus menentukan bagaimana orang bereaksi di kemudian hari. Pembaca, pada kesempatan ini, saya akan memaparkan empat tipe orang dalam menghadapi berbagai tekanan tersebut. Mari kita bahas satu demi satu tipe manusia dalam menghadapi tekanan hidup ini.

Tipe pertama, tipe kayu rapuh. Sedikit tekanan saja membuat manusia ini patah arang. Orang macam ini kesehariannya kelihatan bagus. Tapi, rapuh sekali di dalam hatinya. Orang ini gampang sekali mengeluh pada
saat kesulitan terjadi.

Sedikit kesulitan menjumpainya, orang ini langsung mengeluh, merasa tak berdaya, menangis, minta dikasihani atau minta bantuan. Orang ini perlu berlatih berpikiran positif dan berani menghadapi kenyataan hidup.

Majalah Time pernah menyajikan topik generasi kepompong (cacoon generation). Time mengambil contoh di Jepang, di mana banyak orang menjadi sangat lembek karena tidak terbiasa menghadapi kesulitan. Menghadapi orang macam ini, kadang kita harus lebih berani tega. Sesekali mereka perlu belajar dilatih menghadapi kesulitan. Posisikan kita sebagai pendamping mereka.

Tipe kedua, tipe lempeng besi. Orang tipe ini biasanya mampu bertahan dalam tekanan pada awalnya. Namun seperti layaknya besi, ketika situasi menekan itu semakin besar dan kompleks, ia mulai bengkok dan
tidak stabil. Demikian juga orang-orang tipe ini. Mereka mampu menghadapi tekanan, tetapi tidak dalam kondisi berlarut-larut.

Tambahan tekanan sedikit saja, membuat mereka menyerah dan putus asa. Untungnya, orang tipe ini masih mau mencoba bertahan sebelum akhirnya menyerah. Tipe lempeng besi memang masih belum terlatih. Tapi, kalau
mau berusaha, orang ini akan mampu membangun kesuksesan dalam hidupnya.

Tipe ketiga, tipe kapas. Tipe ini cukup lentur dalam menghadapi tekanan. Saat tekanan tiba, orang mampu bersikap fleksibel. Cobalah Anda menekan sebongkah kapas. Ia akan mengikuti tekanan yang terjadi.
Ia mampu menyesuaikan saat terjadi tekanan. Tapi, setelah berlalu, dengan cepat ia bisa kembali ke keadaan semula. Ia bisa segera melupakan masa lalu dan mulai kembali ke titik awal untuk memulai lagi.

Tipe keempat, tipe manusia bola pingpong. Inilah tipe yang ideal dan terhebat. Jangan sekali-kali menyuguhkan tekanan pada orang-orang ini karena tekanan justru akan membuat mereka bekerja lebih giat, lebih termotivasi, dan lebih kreatif. Coba perhatikan bola pingpong. Saat ditekan, justru ia memantuk ke atas dengan lebih dahsyat. Saya teringat kisah hidup motivator dunia Anthony Robbins dalam salah satu biografinya.

Untuk memotivasi dirinya, ia sengaja membeli suatu bangunan mewah, sementara uangnya tidak memadai. Tapi, justru tekanan keuangan inilah yang membuat dirinya semakin kreatif dan tertantang mencapai tingkat
finansial yang diharapkannya. Hal ini pernah terjadi dengan seorang kepala regional sales yang performance- nya bagus sekali.

Bangun network

Tetapi, hasilnya ini membuat atasannya tidak suka. Akibatnya, justru dengan sengaja atasannya yang kurang suka kepadanya memindahkannya ke daerah yang lebih parah kondisinya. Tetapi, bukannya mengeluh seperti
rekan sebelumnya di daerah tersebut. Malahan, ia berusaha membangun netwok, mengubah cara kerja, dan membereskan organisasi. Di tahun kedua di daerah tersebut, justru tempatnya berhasil masuk dalam daerah tiga top sales.

Contoh lain adalah novelis dunia Fyodor Mikhailovich Dostoevsky. Pada musim dingin, ia meringkuk di dalam penjara dengan deraan angin dingin, lantai penuh kotoran seinci tebalnya, dan kerja paksa tiap hari. Ia mirip ikan herring dalam kaleng. Namun, Siberia yang beku tidak berhasil membungkam kreativitasnya.

Dari sanalah ia melahirkan karya-karya tulis besar, seperti The Double dan Notes of The Dead. Ia menjadi sastrawan dunia. Hal ini juga dialami Ho Chi Minh. Orang Vietnam yang biasa dipanggil Paman Ho
ini harus meringkuk dalam penjara. Tapi, penjara tidaklah membuat dirinya patah arang. Ia berjuang dengan puisi-puisi yang ia tulis. A Comrade Paper Blanket menjadi buah karya kondangnya.

Nah, pembaca, itu hanya contoh kecil. Yang penting sekarang adalah Anda. Ketika Anda menghadapi kesulitan, seperti apakah diri Anda? Bagaimana reaksi Anda? Tidak menjadi persoalan di mana Anda saat ini.
Tetapi, yang penting bergeraklah dari level tipe kayu rapuh ke tipe selanjutnya. Hingga akhirnya, bangun mental Anda hingga ke level bola pingpong. Saat itulah, kesulitan dan tantangan tidak lagi menjadi
suatu yang mencemaskan untuk Anda. Sekuat itukah mental Anda?



Sumber: http://romantise.blogspot.com/2009/06/4-tipe-manusia-hadapi-tekanan-hidup.html

Rabu, 15 Agustus 2012


Hukum Pygmalion : Hukum Berpikir Positif


Pygmalion adalah seorang pemuda yang berbakat seni memahat. Ia sungguh piawai dalam memahat patung. Karya ukiran tangannya sungguh bagus. Tetapi bukan kecakapannya itu menjadikan ia dikenal dan disenangi teman dan tetangganya.


Pygmalion dikenal sebagai orang yang suka berpikiran positif. Ia memandang segala sesuatu dari sudut yang baik.
  • Apabila lapangan di tengah kota becek, orang-orang mengomel.Tetapi Pygmalion berkata, "Untunglah, lapangan yang lain tidak sebecek ini."
  • Ketika ada seorang pembeli patung ngotot menawar-nawar harga, kawan-kawan Pygmalion berbisik, "Kikir betul orang itu." Tetapi Pygmalion berkata, "Mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk urusan lain yang lebih perlu".
  • Ketika anak-anak mencuri apel dikebunnya, Pygmalion tidak mengumpat. Ia malah merasa iba, "Kasihan,anak-anak itu kurang mendapat pendidikan dan makanan yang cukup di rumahnya."

Itulah pola pandang Pygmalion. Ia tidak melihat suatu keadaan dari segi buruk, melainkan justru dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain; sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik dibalik perbuatan buruk orang lain.

Pada suatu hari Pygmalion mengukir sebuah patung wanita dari kayu yang sangat halus. Patung itu berukuran manusia sungguhan. Ketika sudah rampung, patung itu tampak seperti manusia betul. Wajah patung itu tersenyum manis menawan, tubuhnya elok menarik. Kawan-kawan Pygmalion berkata, "Ah,sebagus-bagusnya patung, itu cuma patung, bukan isterimu." Tetapi Pygmalion memperlakukan patung itu sebagai manusia betul. Berkali-kali patung itu ditatapnya dan dielusnya. Para dewa yang ada di Gunung Olympus memperhatikan dan menghargai sikap Pygmalion, lalu mereka memutuskan untuk memberi anugerah kepada Pygmalion,yaitu mengubah patung itu menjadi manusia betul. Begitulah, Pygmalion hidup berbahagia dengan isterinya itu yang konon adalah wanita tercantik di seluruh negeri Yunani.

Nama Pygmalion dikenang hingga kini untuk mengambarkan dampak pola berpikir yang positif. Kalau kita berpikir positif tentang suatu keadaan atau seseorang, seringkali hasilnya betul-betul menjadi positif.
Misalnya,
  • Jika kita bersikap ramah terhadap seseorang, maka orang itupun akan menjadi ramah terhadap kita.
  • Jika kita memperlakukan anak kita sebagai anak yang cerdas, akhirnya dia betul-betul menjadi cerdas.
  • Jika kita yakin bahwa upaya kita akan berhasil, besar sekali kemungkinan upaya dapat merupakan separuh keberhasilan.

Dampak pola berpikir positif itu disebut dampak Pygmalion. Pikiran kita memang seringkali mempunyai dampak fulfilling prophecy atau ramalan tergenapi, baik positif maupun negatif. Kalau kita menganggap tetangga kita judes sehingga kita tidak mau bergaul dengan dia, maka akhirnya dia betul-betul menjadi judes.
  • Kalau kita mencurigai dan menganggap anak kita tidak jujur,akhirnya ia betul-betul menjadi tidak jujur.
  • Kalau kita sudah putus asa dan merasa tidak sanggup pada awal suatu usaha, besar sekali kemungkinannya kita betul-betul akan gagal.

Pola pikir Pygmalion adalah berpikir, menduga dan berharap hanya yang baik tentang suatu keadaan atau seseorang. Bayangkan, bagaimana besar dampaknya bila kita berpola pikir positif seperti itu. Kita tidak akan berprasangka buruk tentang orang lain. Kita tidak menggunjingkan desas-desus yang jelek tentang orang lain. Kita tidak menduga-duga yang jahat tentang orang lain. Kalau kita berpikir buruk tentang orang lain, selalu ada saja bahan untuk menduga hal-hal yang buruk. Jika ada seorang kawan memberi hadiah kepada kita, jelas itu adalah perbuatan baik. Tetapi jika kita berpikir buruk,kita akan menjadi curiga, "Barangkali ia sedang mencoba membujuk," atau kita mengomel, "Ah, hadiahnya cuma barang murah." Yang rugi dari pola pikir seperti itu adalah diri kita sendiri.Kita menjadi mudah curiga. Kita menjadi tidak bahagia. Sebaliknya, kalau kita berpikir positif,kita akan menikmati hadiah itu dengan rasa gembira dan syukur, "Ia begitu murah hati. Walaupun ia sibuk, ia ingat untuk memberi kepada kita."

Warna hidup memang tergantung dari warna kaca mata yang kita pakai
Kalau kita memakai kaca mata kelabu, segala sesuatu akan tampak kelabu. Hidup menjadi kelabu dan suram. Tetapi kalau kita memakai kaca mata yang terang, segala sesuatu akan tampak cerah. Kaca mata yang berprasangka atau benci akan menjadikan hidup kita penuh rasa curiga dan dendam.Tetapi kaca mata yang damai akan menjadikan hidup kita damai.

Hidup akan menjadi baik kalau kita memandangnya dari segi yang baik. Berpikir baik tentang diri sendiri. Berpikir baik tentang orang lain. Berpikir baik tentang keadaan. Berpikir baik tentang Tuhan.

Dampak berpikir baik seperti itu akan kita rasakan. Keluarga menjadi hangat. Kawan menjadi bisa dipercaya. Tetangga menjadi akrab. Pekerjaan menjadi menyenangkan. Dunia menjadi ramah. Hidup menjadi indah. Seperti Pygmalion, begitulah.

Mencari Tuhan dengan Iman yang Bersahaja
Oleh: Muhamad Heychael

Ramadhan datang, televisi berdandan. Berbeda dengan hari-hari biasanya yang terkesan sekuler, dalam sekejap televisi kebanjiran petuah dan tausiyah. Sederet program bernuansa islami pun dihadirkannya. Televisi seolah mengajak penontonnya untuk berlibur dari kenyatan keseharian yang “tidak religius” dan menggantikannya dengan parade moral dan religiositas. Bila biasanya kita disuguhkan cerita soal pembunuhan, korupsi, dan atau bahkan ibu membuang anaknya, maka pada Ramadhan, itu semua digantikan oleh kemenangan moral, religiositas, dan orang-orang beriman. Kurang lebih begitulah pesan sinema-sinema elektronik khas ramadhan.

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh kemenangan. Bulan penuh kemenangan ini diterjemahkan televisi, dengan pertama-tama mengkontraskan yang benar dan salah. Benar dan salah dibuat seterang mungkin, bahkan vulgar, sampai-sampai kita tak butuh nalar untuk menakarnya. Lihat saja dalam berbagai sinetron Ramadhan, tokoh-tokoh protagonis adalah orang-orang yang sangat teguh beriman, sedangkan sebaliknya, pemeran antagonis adalah mereka yang buruk perilakunya dan merupakan simbol dosa serta kemunafikan. Pesan moralnya adalah, kebenaran akan selalu menang atas yang batil. Televisi seolah tidak pernah peduli dengan pertanyaan “apakah yang benar akan selalu tampak benar?” atau “apakah benar dan salah tidak meruang dan mewaktu?”
Demi memenangkan iman yang lurus dan tanpa noda, cerita dibuat naif, ahistoris, dan pada akhirnya hampa konsekuensi sosiologis. Seorang suami pemabuk dan suka berjudi, tanpa alasan yang memadai, bisa memiliki seorang istri yang soleha. Dalam narasi yang demikian, tentu ada banyak pertanyaan yang tersisa: bagaimana seorang istri mau menerima seorang suami yang jauh sama sekali cara hidup dan keyakinan dengan dirinya? Kalaupun mungkin, bagaimana mereka bisa bertahan sebagai pasangan suami istri?

Operasi logika yang demikian menyederhanakan justru akan jauh dari apa yang mungkin diharapkan oleh pembuat sinetron islami, yaitu agar tontonannya menjadi tuntunan. Alih-alih menjadi tuntunan, sinetron dengan paradigma demikian malah berpotensi menjadikan iman sebagai cita-cita tanpa basis realitas. Di sini, iman lebih merupakan harapan yang dititipkan pada sinetron di layar kaca, ketimbang apa yang mungkin dekat dengan keseharian kita. Jika ini yang terjadi, agama berhenti menjadi sebatas fantasi.  

Dengan berkedok atribut Islam, televisi memacu mesin hasrat penontonnya untuk “menjadi” Islam, dengan cara mengkonsumsi sederet simbol hasil komodifikasi. Itu jugalah yang menjadi kebanyakan “iman” sinetron islami. Islam didefinisikan tidak lebih dari jilbab, ustaz yang soleh luar biasa, baju koko, kurma, tausiyah, dan petuah. Alhasil, Islam adalah pakaian tanpa badan.
Pada struktur diskursif televisi yang demikian, sulit menemukan pelajaran yang justru dibutuhkan masyarakat. Namun, di tengah padang pasir sekalipun, tentu selalu ada oase. Di tengah kepungan tayangan yang seolah-olah “islami”, masih ada yang memberi kita harapan, bahwa beriman dalam keseharian itu memungkinkan.

Bagi saya, oase itu adalah sinetron Para Pencari Tuhan (PPT). Bila kebanyakan sinetron menampilkan parade keimanan tanpa noda—seolah beriman tidak mungkin menjerumuskan kita pada suatu “panggung” di mana iman menjadi sekadar berakting—PPTjustru memperkenalkan modus keberimanan yang bersahaja dan jujur. Iman bukanlah kemewahan untuk menolak dunia, namun sebaliknya, ia tumbuh dan hidup dalam upaya meresponsnya.

Baca selengkapnya di >> www.remotivi.or.id

Selasa, 14 Agustus 2012



TIGA KALENG COCA COLA 




Ada 3 kaleng coca cola, ketiga kaleng tersebut diproduksi di pabrik yang sama. Ketika tiba harinya, sebuah truk datang ke pabrik, mengangkut kaleng-kaleng coca cola dan menuju ke tempat yang berbeda untuk pendistribusian.

Pemberhentian pertama adalah supermaket lokal. Kaleng coca cola pertama di turunkan disini. Kaleng itu dipajang di rak bersama dengan kaleng coca cola lainnya dan diberi harga Rp. 4.000.

Pemberhentian kedua adalah pusat perbelanjaan besar. Di sana , kaleng kedua diturunkan. Kaleng tersebut ditempatkan di dalam kulkas supaya dingin dan dijual dengan harga Rp. 7.500.

Pemberhentian terakhir adalah hotel bintang 5 yang sangat mewah. Kaleng coca cola ketiga diturunkan di sana. Kaleng ini tidak ditempatkan di rak atau di dalam kulkas. Kaleng ini hanya akan dikeluarkan jika ada pesanan dari pelanggan. Dan ketika ada yang pesan, kaleng ini dikeluarkan bersama dengan gelas kristal berisi batu es. Semua disajikan di atas baki dan pelayan hotel akan membuka kaleng coca cola itu, menuangkannya ke dalam gelas dan dengan sopan menyajikannya ke pelanggan. Harganya Rp. 60.000.

Sekarang, pertanyaannya adalah :

Mengapa ketiga kaleng coca cola tersebut memiliki harga yang berbeda padahal diproduksi dari pabrik yang sama, diantar dengan truk yang sama dan bahkan mereka memiliki rasa yang sama.

Lingkungan Anda mencerminkan harga Anda.

Lingkungan berbicara tentang RELATIONSHIP.

Apabila Anda berada dilingkungan yang bisa mengeluarkan terbaik dari diri Anda, maka Anda akan menjadi cemerlang. Tapi bila Anda berada dilingkungan yang meng-kerdil- kan diri Anda, maka Anda akan menjadi kerdil.!!....Lingkungan anda, adalah ANDA.

(Orang yang sama, bakat yang sama, kemampuan yang sama) + lingkungan yang berbeda = NILAI YANG BERBEDA..!!


TUKANG CUKUR DAN TUHAN

Seorang lelaki datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya. Si tukang cukur mulai memotong rambutnya dan mulailah mereka terlibat pembicaraan yang hangat.

Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan. Si tukang cukur bilang,"Saya tidak percaya Tuhan itu ada".
"Kenapa kamu berkata begitu ???" timpal si lelaki.
"Begini, coba Anda perhatikan di depan sana, di jalanan… untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada.

Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada, mengapa ada  yang sakit??, mengapa anak terlantar??. Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi."

Si lelaki itu diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat. Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan lelaki itu  pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.

Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, gimbal, kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat. Lelaki balik ke tempat tukang cukur dan berkata,
"Kamu tahu, sebenarnya TUKANG CUKUR itu TIDAK ADA."
Si tukang cukur tidak terima," Kamu kok bisa bilang begitu ??. Bukankah Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!"
"Tidak!" elak si lelaki itu.
"Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana", si lelaki  menambahkan.
"Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!", sanggah si tukang cukur.
"Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya", jawab si tukang cukur membela diri.
"Cocok!" kata si lelaki menyetujui. Sama dengan Tuhan, TUHAN ITU JUGA ADA !

Tapi apa yang terjadi… orang-orang TIDAK MAU Kembali kepada-NYA, dan TIDAK MAU MENCARI-NYA. Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini."

Teologi Agama-Agama
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebashttp://id.wikipedia.org/wiki/Teologi_Agama-agama

Teologi Agama-agama (dalam bahasa Inggris Theology of Religions, dalam bahasa Latin Theologia Religionum) adalah cabang dari ilmu teologi yang membahas bagaimana kekeristenan memberi respons teologis terhadap kenyataan adanya pluralitas agama di luar dirinya.[1] Fokus studi teologi agama-agama adalah bagaimana umat Kristen memandang dan menilai agama-agama lain, serta bagaimana hubungan yang positif antar-agama dimungkinkan melalui teologi yang dikonstruksi.[1] Salah satu pionir di dalam teologi agama-agama adalah teolog Inggris yang bernama Alan Race.[2]

Perbedaan Teologi Agama-Agama dengan Studi Agama-Agama

Teologi agama-agama merupakan bidang ilmu yang berbeda dengan studi agama-agama pada umumnya. Untuk menggambarkan perbedaan tersebut dengan lebih jelas, maka kita perlu membandingkan fokusnya masing-masing.

Teologi Agama-Agama dan Sosiologi Agama

Studi sosiologi agama-agama merupakan studi tentang hubungan-hubungan antara agama dan masyarakat serta bentuk-bentuk hubungan yang terjadi.[3] Hal-hal yang menjadi perhatian dari studi ini adalah bagaimana kepercayaan-kepercayaan agama tertentu memengaruhi suatu masyarakat, atau bagaimana kepercayaan agama tertentu memengaruhi pola hubungan dengan umat beragama lain.[3] Dalam bidang ini, yang menjadi obyek penelitian adalah aspek manusiawi (imanen), yang mana aspek Ilahi (transendensi) diwujudkan di dalam perilaku manusia sehari-hari.[4] Akan tetapi, hal-hal yang transenden tidak terlalu diperhatikan atau dikesampingkan di dalam studi ini.[4]
Teologi agama-agama juga mempelajari aspek manusiawi dan aspek Ilahi di dalam agama-agama.[1] Akan tetapi, teologi agama-agama justru lebih tertarik untuk mempelajari aspek Ilahi yang memengaruhi perilaku sehari-hari, dalam hal ini antara umat Kristen terhadap umat beragama yang lain.[1]

Teologi Agama-Agama dan Filsafat Agama

Filsafat agama merupakan refleksi filosofis mengenai agama dengan menggunakan metode filsafat secara sistematis dalam menganalisis isi pokok suatu agama, seperti konsep Tuhan, Yang Suci, keselamatan, ibadah, kurban, doa, dan sebagainya.[3][5] Filsafat agama berupaya mencari pembenaran rasional dari gerakan agama tertentu, serta memberi penilaian terhadapnya sehingga bersifat normatif.[3] Teologi agama-agama juga memberikan penilaian seperti filsafat, tetapi di dalam terang iman Kristen yang berupaya menilai agama-agama yang lain, bukan berdasarkan rasionalitas seperti filsafat agama melainkan penyataan Allah.[3]

Teologi Agama-Agama Fenomenologi Agama

Fenomenologi agama adalah bidang studi yang berupaya melihat kepelbagaian agama secara fenomenologis.[3] Fenomenologis artinya bagaimana pemeluk agama-agama berbicara tentang apa yang mereka yakini dan percayai sejauh dapat diamati (fenomena).[3] Di sini, penilaian oleh pengamat dihindari dan keunikan tiap agama berusaha dipertahankan.[3] Gejala-gejala yang diperbandingkan hanya untuk memperdalam pengertian dari gejala-gejala religius yang dipelajari.[3] Di dalam teologi agama-agama, penilaian terhadap agama lain dari perspektif kekristenan tidak dapat dihindarkan.[1] Akan tetapi, semangat yang mendasarinya bukan semangat konfrontatif, melainkan justru bagaimana umat Kristen dan umat beragama lainnya dapat hidup bersama secara harmonis di dalam konteks kemajemukan agama.[1]

Metode
Di dalam teologi agama-agama, seseorang harus mulai dengan pemahaman yang setia sekaligus kritis terhadap tradisi Kristen sendiri, lalu berupaya melihat agama yang lain di dalam terang iman Kristen.[6] Pemahaman tersebut dapat tercapai melalui metode yang dapat dipertanggungjawabkan, seperti metode empiris, historis-kritis, filologis, fenomenologis, dan lain-lain.[6] Metode-metode tersebut dipakai untuk melihat tradisi Kristen dengan lebih kritis maupun realitas kemajemukan agama, serta mendialogkan keduanya sehingga tercapai perspektif tertentu dalam memandang agama-agama lain.[1]


Referensi

Th. Sumartana. 2007. "Theologia Religionum". Di dalam Meretas Jalan Teologi Agama-Agama di Indonesia. Tim Balitbang PGI (Eds.). Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Markham. 2004. "Christianity and Other Religion". In The Blackwell Companion to Modern Theology. Gareth Jones (Ed.).Malden, MA: Blackwell Publishing.
Mariasusai Dhavamony. 1995. Fenomenologi Agama. Yogyakarta: Kanisius.
Michael S. Northcott. 2002. 'Pendekatan Sosiologis'. Di dalam Aneka Pendekatan Studi Agama. Peter Connely (ed.) Yogyakarta: LKIS.
Rob Fisher. 2002. "Pendekatan Filosofis".Di dalam Aneka Pendekatan Studi Agama. Peter Connely (ed.) Yogyakarta: LKIS.
B.J. Banawiratma. 2007. "Mengembangkan Teologi Agama-Agama".Di dalam Meretas Jalan Teologi Agama-Agama di Indonesia. Tim Balitbang PGI (Eds.). Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Minggu, 15 April 2012


Belajar dari Tukang Ledeng

SAYA bekerja di tempat baru sejak 14 Mei 2008 lalu. Dihitung sampai sekarang, tiga bulan pun belum genap. Selama waktu itu saya rutin menyimak ceramah Jumat pagi. Sulit untuk berkelit dari ritual mingguan tersebut. HRD dengan senang hati memanggil setiap pegawai agar berkumpul di ruang meeting. Padahal, siang hari juga harus menyimak khutbah Jumat. Alamak, tiap dua pekan juga ternyata ada Jitu alias Pengajian Sabtu. Dan, sehabis salat zuhur dan ashar akan mendapat menu sajian hadits Shahih Bukhari. Kadang saya muak dengan semua itu. Sejak dulu saya tidak pernah suka dengan verbalisme. Seperti kata Nelson Mandela, “Talk is cheap.”
Namun, dari sederet daftar ceramah akhirnya saya menemukan satu kisah yang sungguh sangat menarik. Inspiring banget! Yang pasti, kisah ini datang bukan dari sang ustadz di masjid Darussalam milik perusahaan, melainkan dari seorang pegawai baru. Ceritanya juga tidak berkisar pada surga dan neraka atau baik dan buruk. Bukan juga menyoal Islam dan lantas menyudutkan agama lain. Kisahnya adalah ajaran universal tentang kehidupan. Saya tidak tahu dia mengutip dari mana. Begini ceritanya:
Suatu hari bos Mercedez Benz di Jerman mempunyai masalah dengan kran air di rumahnya. Mr. Benz khawatir anaknya terpeleset jatuh. Atas rekomendasi seorang temannya, Mr. Benz menelepon seorang tukang ledeng untuk memperbaiki kran miliknya. Karena sibuk, si tukang ledeng menyampaikan maaf karena baru bisa datang dua hari kemudian. Si bos bersedia. Tukang ledeng pun menyampaikan terima kasih karena Benz mau menunggu. Dia sama sekali tidak tahu bahwa si penelpon adalah bos pemilik perusahaan mobil terbesar di Jerman.
Dua hari kemudian, tukang ledeng datang ke rumah Mr. Benz. Setelah ngoprekselama beberapa waktu, kran pun selesai diperbaiki. Tukang ledeng lantas memanggil tuan rumah dan mempersilakannya untuk mencoba kran. Benz pun puas. Tukang ledeng pulang setelah menerima pembayaran atas jasanya. Beberapa hari kemudian, tukang ledeng menelepon Mr. Benz untuk menanyakan apakah ada keluhan dengan servisnya. Mr. Benz pun kagum dengan cara kerja si tukang ledeng.
Dua pekan kemudian, si tukang ledeng kembali menghubungi Mr. Benz untuk menanyakan apakah kran yang diperbaiki sudah benar-benar beres atau masih timbul masalah. Mr. Benz menjawab di telepon bahwa kran di rumahnya sudah benar-benar beres dan mengucapkan terima kasih atas pelayanan pak tukang ledeng.
Beberapa bulan kemudian, Mr. Benz menelepon tukang ledeng tadi. Tukangledeng diajak bergabung di perusahaan raksasa Mercedes Benz. Tukang ledeng itu namanya Christopher L. Jr. Saat ini, Christopher menduduki jabatan General Manager Customer Satisfaction and Public Relation di Mercedez Benz!
Kala itu saya lupa ceramah si ustadz. Juga tentang pesan Martin Luther King Jr., “Jadilah tukang sapu jalanan layaknya Michael Angelo melukis atau Shakespeare menulis puisi, sehingga segenap penghuni bumi akan tertegun lalu berujar, ‘Wahai inilah tukang sapu jalan yang melakukan tugasnya dengan baik.’”
Saya juga lupa kisah wartawan muda Barry Bradley dalam Vademekum Wartawantentang vitalitas. Ya, vitalitas adalah syarat utama wartawan tangguh, yaitu mengerjakan yang biasa-biasa saja dengan cara yang luar biasa. Saat itu, saya hanya ingat Christopher L. Jr, si tukang ledeng.(*)

Tata Cara dan Tips Sederhana Menulis Esai dan Makalah untuk Mahasiswa, Pelajar, dan Guru

Menulis Esai - Essay
Menulis Esai - Essay

Menulis sebuah Makalah / Esai / essai / essaymembutuhkan ketrampilan tertentu untuk dapat merangkai kata-kata yang menjembatani pikirannya, sehingga pada saatnya seseorang akan menjadi terbiasa dan merasa mudah dengan kegiatan menulis ( makalah, esai, karangan, dll ).

 

Ada saat dimana Anda mendapat tugas untuk membuat makalah atau esai namun begitu kesulitan karena belum pernah melakukan sebelumnya. Mungkin sudah pernah tetapi bukan benar-benar berasal dari diri sendiri seperti hasil kopi artikel lain atau hasil kerja kelompok. Sehingga ada perasaan belum puas. Inilah modal awalnya, dan mulailah berlatih menulis! Namun, bila Anda sudah merasa puas karena merasa mudah melakukannya, meski Anda sendiri tahu bahwa hanya ada 500 kata yang berasal dari Anda sendiri pada makalah 13 halaman A4 yang telah Anda kumpulkan.  artikel bagaimana cara menulis esai dan makalah


Bagaimana Mengawali Menulis Makalah
Ada hal-hal yang mungkin bisa menjadi pedoman untuk penulis pemula. Karena kebiasaan menulis adalah sebuah proses. Mulailah membiasakan diri menulis apa saja tanpa memperdulikan topiknya. Ide bisa berasal darimana saja yang melintas dalam otak Anda. Fokus saja pada pembiasaan diri merefleksikan apa yang melintas dalam otak menjadi kata-kata dalam tulisan. Hasilnya mungkin bermacam-macam, lucu, campur aduk, dll. Pada fase ini, sedikit tips yang membantu adalah sering berdekatan dengan Kamus Bahasa Indonesia, Koran, Buku bacaan, karena seringkali yang melintas dalam otak munculnya masih dalam bahasa Ibu pertama (bahasa daerah ) Anda.


Hasil pembiasaan menulis pada fase pertama ini adalah. Pertama; tentu saja semakin banyaknya bahan dan referensi, karena Anda sering membaca. Kedua, setidaknya Anda sudah punya ketrampilan dasar mengolah ide dan pikiran menjadi kata-kata. Ketiga, hal ini telah membantu Anda untuk dapat menulis dengan cepat.


Sudah puas dengan tulisan mondar-mandir, tidak berujung tidak berpangkal? Kumpulkan saja dalam sebuah buku corat-coret, karena suatu saat mungkin Anda akan membutuhkannya disaat Anda membutuhkan ide-ide tambahan. Pembiasaan diri pada fase pertama tadi bisa Anda lakukan kapan saja dan tetap membantu meski Anda sudah menjadi penulis profesional.


Kumpulkan Bahan dan Bersiaplah Menulis Makalah atau Esai  
Inti dari semua tulisan adalah topik atau tema. Jadi, yang pertamakali harus Anda tentukan adalah TOPIK. Bangun dan definisikan topik yang akan dibahas dalam makalah. Sebaiknya topik disusun paling banyak satu atau dua kalimat. Topik bisa berupa apa saja yang menarik Anda untuk menyusun makalah atau esai. Bila topik tersebut sudah ditentukan, karena tugas dari guru atau dosen misalnya, Anda sudah mendapatkan poin ini, tinggal menentukan langkah selanjutnya.


Menulis makalah atau esai akan menjadi lebih fokus dan sesuai target, bila Anda memahami pembaca tulisan Anda. Karena itu menentukan siapakah pembaca dari tulisan ini adalah hal kedua yang perlu diperhatikan. Menentukan karakter pembaca terlebih dahulu, dapat membantu Anda memilih alur dan gaya bahasa yang akan digunakan. Ingatlah terus menerus siapa yang akan membaca tulisan ini sampai proses penulisan selesai.


Pembaca makalah Anda bisa jadi orang-orang dalam umur tertentu, seperti kawula muda, bapak-ibu rumah tangga, manula. Bisa juga karena tugas, seperti guru, dosen, teman sekelas, mahasiswa. Untuk memastikannya, kembalilah ke topik semula, untuk apa makalah ini disusun, presentasi kelas, presentasi perusahaan baru, presentasi produk baru, penjelasan sesuatu kepada masyarakat, atau apapun sesuai dengan topik yang ada. Menulis esai, tata cara menulis esai, anda sendiri tentang topik teknologi, cara menulis esai agama, tips membuat esai ilmiah, 

1. Merencanakan kurun waktu penulisan
2. Mengumpulkan bahan-bahan dan referensi
3. Menyusun Sistematika Penulisan
4. Bagaimana Menulis Judul Makalah
5. Bagaimana Menulis Paragraf Pertama
6. Bagaimana Menyusun dan Menulis Isi Makalah
7. Bagaimana Membuat Kesimpulan
8. Saatnya Review Keseluruhan Makalah
9. Saatnya Mengumpulkan dan Presentasi Makalah



AIR

Air bersifat mengalah, namun selalu tidak pernah kalah...
Air mematikan api dan membersihkan kotoran...
Kalau merasa sekiranya akan dikalahkan,
air meloloskan diri dalam bentuk uap dan kembali mengembun...
Air merapuhkan besi sehingga hancur menjadi abu...
Bilamana bertemu batu karang, dia akan berbelok 
untuk kemudian meneruskan perjalanannya kembali...
Air membuat jernih udara sehingga angin menjadi mati ...
Air memberikan jalan pada hambatan dengan segala kerendahan hati,
karena dia sadar bahwa tak ada satu kekuatan apapun
yang dapat mencegah perjalanannya menuju lautan...
Air menang dengan mengalah,
dia tak pernah menyerang namun selalu menang pada akhir  perjuangannya