Kamis, 22 Januari 2015

Menjumpai Yesus Sejarah

Menjumpai Yesus Sejarah*
 (Tanggapan atas buku Yesus Bagi Orang Non Religius, Karangan John Shelby Spong,
 Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008, halaman 376 + xx)

* Disampaikan dalam acara Bedah Buku yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri (STAKN) Palangka Raya, pada tanggal 27 November 2010 di Gedung Gereja Agape, Jl. Tampung Penyang, Palangka Raya, Kalimantan Tengah.


I.      Pendahuluan

Buku John Shelby Spong, Yesus Bagi Orang Non Religius, dapat digolongkan sebagai “buku pop” tentang Yesus Sejarah.  Bila dibandingkan dengan buku-buku Yesus Sejarah lainnya[1], buku ini memang ringan, renyah dan mudah dibaca. Buku ini, yang semula berjudul Jesus For The Non Religious,  diterjemahkan dengan baik  oleh Dr. Ioanes Rakhmat, seorang pakar Yesus Sejarah di Indonesia.

Secara pribadi, saya mengenal baik “Yan Wong” (nama lain dari penterjemah buku ini).  Ia adalah salah satu dosen terbaik yang telah menyemaikan benih-benih intelektualitas dan kritisisme dalam kehidupan ilmiah saya.  Karena itu, tidak ada kata penolakan dari saya, ketika ditawarkan untuk “membedah” buku yang ia terjemahankan ini. 

Saya sangat sadar bahwa tidak banyak dari pendeta atau teolog GKE yang mengakrabi tema studi Yesus Sejarah (Saya ingat seorang kolega saya pernah gagal menempuh ujian masuk di STT Jakarta karena salah satu bahan ujian adalah tentang Yesus Sejarah).  Hal itu mengharuskan saya untuk memberi apresiasi yang tinggi kepada STAKN Palangka Raya, yang dengan “berani” melakukan kegiatan ilmiah membahas Yesus Sejarah (satu tema yang sensitif dan rawan perdebatan) dengan membedah buku karya John Shelby Spong  ini.

Agar kita semua dapat memahami buku ini dengan baik, hal yang pertama yang akan saya lakukan adalah memperkenalkan sekilas tentang John Shelby Spong dan sekilas tentang studi Yesus Sejarah.  Selanjutnya saya akan mengulas tulisan Spong dan terakhir memberi beberapa tanggapan. 


II.    Sekilas Tentang John Shelby Spong[2]

John Shelby Spong (selanjutnya ditulis Spong) lahir pada 16 Juni 1931 di Charlotte, North Carolina, United States. Ia  bukanlah orang awam. Hingga tanhun 2000, ia adalah  pendeta dan Uskup Gereja Epikospal,  Keuskupan Newark di Newark, New Jersey. Sesuai dengan penuturannya sendiri, ia tumbuh dan besar  di wilayah Kristen yang di Amerika Serikat terkenal dengan sebutan Kawasan Alkitab (Bible Belt) , namun di kawasan Kristen ini pula ia dengan mata telanjang menatap praktik kehidupan yang bertentangan dengan nilai-nilai Kristen antara lain penindasan perbudakan, anti orang asing dan diskriminasi berbasis jenis kelamin, semuaitu dapat dibahasakan sebagai rasisme, antisemitisme, dan seksisme.  Dengan polos ia bertutur tentang lingkungan tempatnya dibesarkan:

“Semua statistik menunjukkan bahwa orang yang pergi ke gereja di kawasan ini lebih tinggi daripada di bagian lain mana pun di negara kami.  Alkitab dibaca dan diajarkan lebih rinci dan sistematik di sana ketimbang di tempat lain mana pun dalam kehidupan bangsa. Agama lebih terang-terangan dipraktikkan di sana.  Akan tetapi, dalam sejarahnya agama di sana menyatakan dirinya baik dalam perilaku marah maupun dalam perilaku kekerasan. Perbudakan adalah suatu penindasan kejam terhadap kemanusiaan orang-orang yang terbelenggu, tetapi orang-orang di Kawasan Alkitab ini membela lembaga jahat ini dengan segala kekuatan mereka, bahkan mereka mengutip Kitab Suci untuk mendukung keberadaan dan praktik perbudakanBudak-budak bukan hanya dipukuli dan dihukum mati tanpa rasa takut akan adanya pembalasan dari penduduk yang membaca Alkitab, tetapi juga tidak diberi pendidikan dan keluarga-keluarga mereka dipecah-pecah berdasarkan kelompok-kelompok budak.  Perilaku ini sesungguhnya menyingkapkan baik kemarahan maupun kekerasan, namun bagian terbesar dari para penindas budak-budak adalah orang-orang Kristen yang saleh beragama” (Spong 2008: 274-275, penekanan dari Marko Mahin).

Latar belakang kehidupan yang demikian, sedikit banyak mempengaruhi sikap Spong terhadap Kekristenan, sehingga mendorong ia mencari  “Yesus Lain”  yaitu Yesus bagi orang-orang non religius.


[1] Lihat A. Roy Eckart, Menggali Ulang Yesus Sejarah: Kristologi Masakini, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996; Bdk. Marcus J. Borg, Kali Pertama Jumpa Yesus Kembali, Yesus Sejarah dan Hakikat Iman Kristen Masa Kini,  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000;
[2] Untuk menulis bagian ini saya menggunakan beberapa sumber yang di down load dari internet terutama dari:  http://en.wikipedia.org/wiki/John_Shelby_Spong;
http://churchofhumanism.org/en/content/section/8/30/; http://anglicanecumenicalsociety.wordpress.com/2010/06/10/bishop-spong-and-archbishop-williamss-response/; http://www.johnshelbyspong.com/calendar.aspx;


Spong menjalani pendidikan dasarnya di Charlotte. Ia menyelesaikan Pendidikan Tinggi di University of North Carolina di Chapel Hill pada 1952, and menyandang gelar  Master of Divinity (M.Div)  pada 1955 dari  Episcopal Theological Seminary di  Alexandria, Virginia.  Ia menerima dua gelar  Doktor Kehormatan (Honoris Causa) yaitu dari Episcopal Theological Seminary dan Saint Paul's College.  Sehubungan dengan studi ilmiahnya ia menjelaskan sebagai berikut: "[Saya] membenamkan diri dalam kesarjanaan Bibel kontemporer di tempat-tempat seperti Seminari Teologi Union di New York City, Yale Divinity School, Harvard Divinity School dan universitas bertingkat di Edinburgh, Oxford dan Cambridge."

Selain sebagai dosen tamu di Harvard Divinity School dan ia juga menjadi dosen tamu di berbagai universitas di berbagai belahan dunia.  Dalam setahun, Spong memberikan lebih dari 200 kali kuliah umum di hadapan khalayak umum. 

Sebagai seorang teolog Kristen Liberal, komentator agama dan penulis[1], Spong selalu memperkenalkan dirinya sebagai ikonoklastik, yaitu orang yang suka menyerang ide-ide keagamaan yang sudah mapan.  Spong adalah orang yang secara terbuka mencemooh ide  bahwa “Alkitab sebagai firman Allah yang tanpa salah”.  Spong menolak untuk menerima Alkitab sebagai dokumen harfiah. Spong  menolak hampir semua ceritera supranatural atau kisah-kisah mujizat yang mengelilingi Yesus. Baginya:  no star over Bethlehem (no Bethlehem!), no Magi, no virgin birth, no loaves and fishes, no walking on water, no the rock-hewn grave at the Resurrection.  Tidak ada bintang di atas Betlehem (tidak Betlehem!), tidak ada orang Majus, tidak ada kelahiran perawan, tidak ada roti dan ikan, tidak ada berjalan di atas air, dan tidak ada batu yang digulirkan pada saat kebangkitan.
Dalam buku yang kita bahas ini, pandangannya yang khas itu tampak dalam kalimat-kalimat:

“Saya takkan segan membiarkan pengetahuan akademi Kristen mempreteli satu per satu kisah-kisah Alkitab yang dipahami secara harfiah atau pun berbagai konsep teologis yang ditempatkan pada Yesus orang Nazaret” (hlm. xiii, penekanan dari Marko Mahin).

 “Saya akan berusaha memisahkan Yesus sejarah dari lapisan bahan tafsiran, dari mitologi dan dari klaim ajaib yang berasal dari dunia yang berorientasi adikodrati” (hlm. xiv, penekanan dari M.M)

Beberapa orang Kristen memandangnya sebagai orang yang sesat karena kepercayaan yang radikal. Ia pendukung utama gerakan yang memperjuangkan feminisme dan hak asasi para gay dan lesbian, serta kesetaraan ras baik di dalam gereja maupun di masayarakat luas.  Spong secara aktif mendukung penahbisan gay menjadi imam dan uskup. Dia tidak mengerti mengapa para gay dan lesbian tidak bisa menikah. Jadi ia mendukung pemberkatan nikah sesama jenis bagi para gay dan lesbian. Sehubungan dengan perkawinan sesama jenis kelamin, Spong menyatakan bahwa ia telah memberkati jalan-jalan, hewan-hewan ternak dan hal-hal tidak penting  lainnya  dalam nama gereja selama masa jabatannya sebagai uskup. Kalau hal ituMenurutnya, ilmu pengetahuan telah lama menetapkan bahwa homoseksualitas adalah keadaan yang harus diterima, bukan pilihan pribadi.  Untuk mendukung pendapatnya itu, ia melakukan kritik terhadap teks Bibel yang dinilai diskriminatif terhadap para homoseksual.

Beberapa pandangannya tentang Yesus telah  membuat marah kaum konservatif,  terutama ia tidak percaya  bahwa Yesus adalah Tuhan  per se. Ia mengatakan:

"Kita perlu melihat Yesus bukan sebagai penjajah ilahi dari luar angkasa...tetapi sebagai kehidupan manusia yang begitu benar-benar penuh, ia menjadi saluran melalui dari semua apa yang kita sebut Tuhan dapat mengalir. Dan dia bisa mengalir di dalam kamu dan aku. "

Ia tidak percaya pada sosok Yesus yang tampil [ditampilkan] sebagai seorang wisatawan sorgawi yang datang dari Allah di balik langit melalui suatu kelahiran ajaib dan yang ketika karyanya sudah selesai kembali kepada Allah itu melalui suatu perjalanan kosmik.

Kendatipun menjadi orang pertama yang mentahbiskan gay untuk menjadi pendeta, Spong memiliki istri bernama Christine, lima orang anak dan enam orang cucu.  Ia sekarang tinggal New Jersey.


[1] Spong adalah penulis lebih dari dua puluh buku, beberapa karyanya antara lain:
    * 1973 – Honest Prayer
    * 1974 – This Hebrew Lord
    * 1975 – Christpower
    * 1975 – Dialogue: In Search of Jewish-Christian Understanding
    * 1976 – Life Approaches Death: A Dialogue on Ethics in Medicine
    * 1980 – The Easter Moment
    * 1983 – Into the Whirlwind: The Future of the Church
    * 1986 – Beyond Moralism: A Contemporary View of the Ten Commandments (co-authored with Denise G.
                     Haines, Archdeacon)
    * 1987 – Consciousness and Survival: An Interdisciplinary Inquiry into the possibility of Life Beyond
     Biological Death (edited by John S. Spong, introduction by Claiborne Pell)
    * 1988 – Living in Sin? A Bishop Rethinks Human Sexuality
    * 1991 – Rescuing the Bible from Fundamentalism: A Bishop Rethinks the Meaning of Scripture
    * 1992 – Born of a Woman: A Bishop Rethinks the Birth of Jesus
    * 1994 – Resurrection: Myth or Reality? A Bishop's Search for the Origins of Christianity
    * 1996 – Liberating the Gospels: Reading the Bible with Jewish Eyes
    * 1999 – Why Christianity Must Change or Die: A Bishop Speaks to Believers In Exile
    * 2001 – Here I Stand: My Struggle for a Christianity of Integrity, Love and Equality
    * 2002 – A New Christianity for a New World: Why Traditional Faith Is Dying and How a New Faith Is Being
                     Born
    * 2005 – The Sins of Scripture: Exposing the Bible's Texts of Hate to Reveal the God of Love
    * 2007 – Jesus for the Non-Religious
    * 2009 – Eternal Life: A New Vision: Beyond Religion, Beyond Theism, Beyond Heaven and Hell.

Lihat: http://en.wikipedia.org/wiki/John_Shelby_Spong




II.    Sekilas Tentang Yesus Sejarah

Yesus Sejarah adalah upaya penelitian atau penafsiran Alkitab dengan menggunakan metode ilmiah moderen untuk membuat dikotomi antara Yesus Sejarah (The Jesus of History) dan Kristus Iman (The Christ of Faith).  Pemikiran ini didasarkan pada pemahaman dasar bahwa ada dua sosok Yesus yaitu yang pertama Yesus yang betul-betul sosok manusia, yang benar-benar nyata pernah hidup dalam ruang dan waktu tertentu, serta yang kehidupan dan ajarannya bisa dilacak dengan metode-metode ilmiah.  Yang kedua, Yesus yang tidak nyata, yang ada hanya dalam iman atau pengakuan para pengikutnya.  Ia tidak real dan bersifat imajiner, karena itu kehidupannya digambarkan penuh dengan keajaiban, mujizat dan hal-hal suprarasional. Yesus yang kedua ini dilihat sebagai hasil konstruksi atau imajinasi keagamaan para pengikut Yesus atau para rasul.

Upaya penelitian atau 'The Quest' (penyelidikan), telah dilakukan sejak  dua abad yang lalu. Herman S. Reimarus (1694-1768) dalam  bukunya Fragments  yang diterbitkan G. E. Lessings tahun 1774-1778, hingga  William Wrede dengan bukunya  Das Messiasgeheimnis in den Evangelien (1901), telah membahas bahwa ada keterputusan antara The Jesus of History and The Christ of Faith. Mereka mempersoalkan mujizat Yesus yang dikatakannya tidak benar-benar terjadi dan hanya dilihat sebagai mitos saja.

Studi yang menolak mujizat dan  anti-supranatural ini memuncak dalam diri Rudolf Bultmann yang memisahkan Yesus Iman dan Yesus Sejarah yang dikenal dengan istilah entmythologisierung atau demitologisasi.  Oranje (2004: 16-17) menjelaskan bahwa Bultmann melihat bahwa Perjanjian Baru memuat banyak mitos-mitos yang perlu mengalami demitologisasi.  Seperti yang diuraikan Conn (1988: 49-52),  pandangan Bultmann tentang demitologisasi (Demytologizing atau Entmythologisierung)  dapat diringkas sebagai berikut;

  1. Bahwa di dalam Perjanjian Baru, terdapat  Injil Kristen, dan  pandangan orang pada  abad pertama yang bercirikan mitos.  Injil Kristen atau yang kemudian disebutnya sebagai kerugma (inti pemberitaan Injil) hanya dapat dipahami dengan cara melepaskan berita kerugma itu dari kerangka yang bersifat mitos yang tidak selalu berkaitan dengan Kekristenan.
  2. Mitos merupakan cerita yang tidak membedakan fakta dari yang bukan fakta dalam isinya, dan yang berasal dari suatu jaman pra-ilmiah. Tujuan mitos adalah untuk menyatakan pengertian manusia tentang dirinya sendiri, bukan untuk menyajikan gambaran obyektif tentang dunia. Misalnya mitos tentang  dunia  bertingkat tiga, yaitu surga di atas, bumi, dan neraka di bawah bumi. Pandangan dunia yang mitologis seperti ini tidaklah sesuai dengan kenyataan dan bisa dikritik dengan ilmu pengetahuan.  Jadi kenyataan dapat dijadikan sebagai mitos, sebaliknya mitos dapat dijadikan kembali sebagai kenyataan.
  3. Pendekatan yang sama juga dilakukan terhadap Yesus, yaitu pribadi Yesus yang ada dalam sejarah (Yesus Sejarah) diubah menjadi sosok mitos oleh orang-orang Kristen mula-mula.  Karena itu pengenalan historis tentang manusia Yesus tidak relevan lagi untuk iman Kristen, karena yang dihadapkan Perjanjian Baru pada orang Kristen masa kini bukanlah sosok sejarah tetapi sosok mitologis, yaitu pemikiran dari orang-orang yang menciptakan mitos-mitos tersebut untuk mengerti diri sendiri dengan lebih baik. Rasul- rasul dan penulis-penulis Alkitab telah menulis Yesus yang lain, tidak apa adanya, tetapi menuliskan Yesus dari kaca mata iman  mereka.  Jadi apa yang dituliskan di dalam Alkitab, baik itu ucapan, karya serta istilah –istilah yang dipakai  oleh Yesus yang mengacu kepada keAllahan-Nya, sebenarnya hanya merupakan ciptaan atau kreasi para rasul, jadi bukan deskripsi tentang Yesus yang sebenarnya.
  4. Hal itu tidak cocok dengan sesuai lagi bagi manusia moderen abad ke-20, yang percaya kepada teknologi kesehatan dan bukan doa dan mujizat, karena itu untuk mendapatkan tujuan asli, atau tujuan mula-mula dari mitos itu, maka harus penafsir harus menguliti atau mengupasnya dari mitos.  Proses pengupasan atau penyingkapan ini disebut demitologisasi.  Dengan demikian demitologisasi merupakan penafsiran secara eksistensial, yaitu menurut pengertian manusia terhadap keberadaannya sendiri, dan dengan istilah-istilah yang dapat dipahami oleh orang modern sendiri.
Dapat disimpulkan bahwa Bultmann menolak  Yesus Kristus yang disaksikan oleh para penulis Alkitab .  Ia hanya menerima   Yesus Sejarah dan bukan "Kristus yang diimani".

Di Amerika Serikat, upaya untuk menggali Yesus Sejarah dilakukan oleh kelompok 'Jesus Seminar' yang bertujuan untuk memperbaharui penyelidikan Yesus Sejarah tepatnya 'ucapan-ucapan Yesus yang otentik.' Laporan lengkap penyelidikan ini dituangkan dalam buku berjudul 'The Search for the Authentic Words of Jesus, The Five Gospels, What Did Jesus Really Say?' (1993).  Mereka mengumpulkan  'ucapan-ucapan yang dianggap dari Yesus' dari kurun waktu 300 tahun baik dari Alkitab maupun dari sumber-sumber kuno yang bisa diakses. Ucapan-ucapan yang berjumlah sekitar 1500 itu, kemudian dikategorikan dalam 4 kategori, yaitu perumpamaan, aforisme, percakapan, dan cerita yang mengandung ucapan Yesus. Ucapan-ucapan lebih pendek dianggap lebih asli karena orang lebih mudah mengingatnya daripada kalimat-kalimat panjang yang mungkin disusun kemudian dan sudah berkembang dan dibumbui. Kedua, kemudian dilakukan pemungutan suara (voting) oleh yang hadir untuk menentukan keaslian ucapan itu. Dalam penentuan keaslian itu tersedia empat pilihan, yaitu yang dianggap ucapan Yesus yang: Asli diberi warna merah, yaitu yang dianggap ucapan Yesus sendiri, Mungkin Asli diberi warna merah muda, yaitu untuk menunjukkan ucapan Yesus yang masih diragukan atau telah mengalami perubahan-perubahan selama proses salinan. Mungkin Tidak Asli diberi warna abu-abu, yaitu ucapan yang tidak diucapkan oleh Yesus tetapi mengandung gagasan Yesus, Tidak Asli diberi warna hitam, yaitu ucapan yang dianggap bukan dari Yesus dan ditulis pengikutnya atau musuhnya.


III.   Dari Yesus Ilahi Menjadi Yesus Insani

Spong mempunyai tujuan khusus yang ingin dicapainya dengan penulisan buku ini yaitu “tumbuhnya satu Kekristenan baru yang berasal dari kematian bentuk-bentuk lama Kekristenan adikodrati masa lampau”.  Meminjam konsep Bonhoeffer tentang “Kekristenan tanpa Agama”,  Spong juga ingin membangun Kekristenan baru yaitu “Kekristenan yang tanpa Yesus Ilahi”. Lebih jauh lagi, ia ingin membangun “Yesus yang terlepas dari agama” (hlm. 166).   Kekristenan baru ini adalah Kekristenan yang telah direformulasi dan mempercayai Yesus Insani yaitu Yesus bagi Orang Non Religius yang inklusif dan melampaui batas-batas agama.  Ia menyebut orang-orang Kristen tradisional, yaitu mereka yang masih percaya dengan Yesus Ilahi, sebagai orang-orang Kristen dalam pembuangan dan ia berkeinginan membawa mereka ke suatu Kekristenan masa depan yang hidup (hlm xv).  Dalam Prolog. ia menggambarkan bagaimana orang-orang Kristen “kehilangan” Yesus dan berharap untuk “bertemu” Yesus kembali (hlm 1-4).

Spong membagi bukunya menjadi 25 Bab, yang kemudian dibagi lagi menjadi tiga bagian utama.  Bagian pertama membahas tentang mitos-mitos yang membungkus Yesus Insani atau Yesus Sejarah.  Bagian kedua membahas asal-usul mitos-mitos itu, bagaimana dibentuk dan dikonstruksi.  Bagian ketiga membahas tentang Yesus Insani atau Yesus Sejarah yang disebutnya sebagai Yesus bagi Orang Non Religius.



a.      Bagian 1 : Memisahkan Yesus Insani dari Mitos

Pada bagian pertama ini, Spong menelanjangi, mengupas atau menguliti  'mitos-mitos pembungkus'  yang mengurung “Yesus Sejarah”. Ia berusaha untuk melakukan demitologisasi yaitu membersihkan potret Yesus dari paham-paham mitologis. Gambaran asli Yesus itu menurutnya tidak kelihatan karena terkurung atau terpenjara oleh “lapisan-lapisan beton” mitos-mitos.  Karena itu diperlukan tindakan “penghancuran”, sebagaimana yang dikatakannya:

“Bukan tujuan saya menghancurkan Yesus; melainkan menghancurkan lapisan-lapisan beton yang terus makin mengeras yang telah mengurungnya.  Pada saat pekerjaan ini selesai dilakukan, kita akan siap bergerak lebih jauh untuk melihat Yesus dengan sudut pandang baru – suatu Yesus untuk orang non religius” (hlm. 16, penekanan dari Marko Mahin)


Karena itu, dalam bagian ini ia  mempertanyakan dan mengkritik banyak pemahaman tradisional yang menurutnya adalah “mitos-mitos” yang telah begitu lama menyelubungi sejarah Yesus. Ia mulai dengan mempertanyakan beberapa hal seputar kelahiran Yesus, bahwa tidak ada bintang di atas Betlehem saat Yesus lahir, bahwa Yesus tidak lahir di Betlehem, dan bahwa Yesus tidak lahir dari seorang perawan. Kemudian ia beranjak ke masalah dua belas orang murid, bahwa  tidak berjumlah 12 orang, tidak ada mukjizat fisik yang dilakukan Yesus, tidak ada orang sakit disembuhkan, tidak ada orang mati disembuhkan. Bahkan prosesi kematian Yesus pun dia sebut hanyalah sebuah liturgi berkedok sejarah.

Pada bagian ini saya tidak mengulas semua yang dibahas dan dikritik Spong, namun saya hanya mengambil salah satu contoh yaitu mengenai hal-hal seputar kelahiran Yesus.
  1. Tempat kelahiran:  Bukan Betlehem tetapi  Nazareth.  Dalam injil tertua yaitu Injil Markus tidak ada petunjuk bahwa Yesus di lahirkan di Betlehem, baru pada injil yang kemudianatius dan Lukas yang menginformasian tempat kelahiran Yesus.   Di buat di Betlehem karena Betlehem adalah kota tempat kelahiran raja Daud.  Jadi disebut lahir di Betlehem sebagai alat legitimasi diri Yesus.  Spong menulis, “Jika sejarah adalah agenda utama kita, pada hari Natal kita harus bernyanyi “Hai kota mungil Nazaret”, sebab kota inilah yang kuat kemungkinannya sebagai tempat di mana orang yang dikenal sebagai Yesus dari Nazaret dilahirkan” (hlm. 25).
  2. Tidak ada Bintang Betlehem: tidak ada bintang yang mengembara atau berpindah-pindah tempat untuk menuntun orang majus, karena setiap bintang memiliki lintasan yang sudah tetap dan kalau ia berpindah-pindah seperti yang digambarkan dalam PB itu berarti ada kekacauan dalam konstelasi alam semesta.
  3. Tidak ada orang Majus: Ceritera ini ide dasarnya terdapat di kitab Yesaya 60: 2-6 yang dikenakan pada Yesus untuk mendukung ide tentang Bintang Betlehem.
  4. Tidak ada sensus penduduk: untuk apa dilakukan kalau hanya untuk mengetahui siapa saja keturunan raja Daud, mengingat pemerintah pada waktu itu tidak mengeluarkan akta kelahiran,perkawinan dan kematian.
  5.  Tidak ada kelahiran dari seorang perawan: Jika Yesus adalah sesosok manusia pria yang hidup dalam dunia kuno, maka pasti dia memiliki bukan saja seorang bunda insani, tetapi juga seorang ayah insani.

 Spong mempertanyakan semua hal itu, “Ada apa dengan Yesus ini, sehingga membuat orang merasa perlu menyelimuti kelahirannya dengan asal-usulnya dari Betlehem dan dengan tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban?” (hlm. 28).  Dalam Bab 3 ia berupaya membuktikan bahwa hal “Orangtua Yesus” merupakan “Kisah Gabungan Fiktif”.  Ia  berupaya membeberkan kisah orang tua Yesus dari sudut pandang Matius, Markus, Lukas dan sumber tertulis yang dinamakan Q (Jerman Quelle—sumber).   Dari penelusuran yang dilakukan Spong menyatakan,  “Saya tidak percaya bahwa orang bernama Yusuf ini, yang menjadi ayah insani yang melindungi Yesus, pernah hidup. Teks-teks yang kita teliti di atas mendukung pernyataan saya ini. Yusuf dari awal sampai akhir adalah sosok mitologis ciptaan murni penulis yang kita sebut Markus.” (hal. 40).  “Saya tidak berpikir ada orang yang mengetahui siapa ayah Yesus, termasuk para penulis Perjanjian Baru. Markus tidak pernah mengatakannya. Matius dan Lukas mengatakan bahwa Roh Kudus adalah ayah Yesus sebenarnya. Injil Yohanes, yang sering disebut Injil Keempat, menyingkirkan kisah kelahiran ajaib Yesus, tetapi merujuk pada Yesus sebabagai anak Yusuf pada dua kesempatan (Yohanes 1:45; 6:42).  Menurut Spong alasan mengapa Yusuf tetap menjadi sosok tidak jelas sepanjang sejarah Kristen, karena ia memang merupakan karakter sastrawi sejak dari awalnya, diciptakan dari mitologi interpretatif yang berkembang.


b.      Bagian 2 : Gambaran Asli Yesus
                              
Bagian kedua memaparkan proses munculnya mitologisasi atau masuknya mitos-mitos ke dalam Perjanjian Baru.  Pada bagian ini, Spong mengajak pembacanya masuk ke dalam periode sejarah lisan Kristen yaitu kurun waktu sebelum ingatan tentang Yesus atau kata-katanya dituliskan.  Spong mengajak pembaca melihat Yesus dalam konteks asli Yahudi.  Dengan cara ini Spong memperlihatkan bagaimana pada waktu injil-injil ditulis, Yesus ditafsir oleh dan dipahami melalui Kitab Suci Yahudi.  Gambar-gambar mesianik Yahudi diterapkan kepadanya dan kehidupannya diceriterakan, disusun oleh tahun liturgis yang diikuti di sinagoge.  Tahun liturgis ini kini diakui sebagai prinsip

Pada bagian ini ia memperlihatkan Yesus Mitologis atau Yesus Ilahi dibuat setelah Yesus meninggal. Rekayasa tersebut dilakukan oleh para penulis Injil, namun karena dilakukan  tidak konsisten satu sama lain, hal itu memberi petunjuk tentang hal yang sebenarnya terjadi (Contohnya tentang Mujizat Lima Roti dan Dua Ikan).

Yang utama dalam bagian dua ini adalah Spong menunjukkan  mengapa para penulis Injil merasa perlu merekayasa sejarah dalam penulisan Injil. Mengapa mereka perlu menciptakan beberapa mitos seputar keberadaan Yesus di dunia. Hal itu dilakukan untuk memperlihatkan betapa luar biasanya dan pentingnya Yesus sebagai manusia yang mempengaruhi kehidupan masyarakat Yahudi pada saat itu, sehingga semua ramalan kitab suci di masa lalu dirasa perlu digenapi dan dan semua simbol dan mitos dirasa perlu diciptakan di dalam diri Yesus. Ia harus dipararelkan dengan tokoh-tokoh yang ada dalam sejarah dan kepercayaan masyarakat Yahudi dimana ia hidup, misalnya dengan tokoh Musa yang kelahirannya sangat dramatis, pembuat mujizat dan sanggup memberi makan para pengikutnya.


c.       Bagian 3 : Yesus bagi Orang Non Religius

Setelah melakukan demitologisasi pada bagian ketiga ini Spong menunjukkan “gambaran asli Yesus
“  yaitu  “Yesus bagi Orang Non-Religius”  yaitu Yesus yang humanis, toleran, serta serba-inklusif, tanpa embel-embel rumusan dogma abstrak-hellenis.  Namun sebelum masuk ke tahap itu, ia terlebih dahulu memaparkan bahwa “Yesus bagi Orang Non Religius” itu adalah Yesus yang dahulu sungguh hidup  sebagai figur atau sosok orang Yahudi, bukan sosok mitos atau legenda ciptaan (Bab 19).  

Setelah melalui proses demitologisasi yaitu menguliti lapisan-lapisan tafsiran yang pernah dikenakan kepada Yesus, maka Spong menolak bahwa Yesus adalah tokoh fiksi atau tokoh legenda  (h. 248).  Baginya, Yesus dulu sungguh hidup. Ia adalah seorang tokoh atau figur sejarah yang sungguh-sungguh pernah hidup di suatu tempat dan  di suatu zaman tertentu.  Nazareth di Galile adalah  kampung halamannya dan ia mulai  hidup di bumi ini  antara tahun-tahun terakhir Tarikh Masehi dan berakhir dalam pertigaan pertama dari abad pertama zaman itu (h.247).

Dalam Bab 20, dengan mengikuti pola Bonhoeffer, Spong melakukan pemisahan antara Kekristenan dan agama. Baginya agama adalah upaya manusia supaya aman dan bukanlah upaya manusia mencari kebenaran (hlm. 266).  Karena merupakan suatu upaya pencarian keamanan maka “Allah” dalam agama pun sengaja dikonstruksi untuk melegitimasi agama itu sendiri.   Allah yang dikonstruksi atau diciptakan oleh manusia ini oleh Spong disebut sebagai Allah Teistik. Proses penciptaan “Allah Teistik” disebutnya sebagai Teisme yaitu “definisi yang dibuat manusia mengenai siapa Allah” (hlm. 268).  Jadi, ada perbedaan besar antara Allah pada dirinya sendiri dan teisme.  Dengan pernyataan ini Spong hendak menegaskan bahwa teisme Kristen telah menciptakan Allah Teistik  ataun Yesus Teistik, dan itu sebenarnya bukalah Yesus yang sesungguhnya.

Dalam Bab 21, Spong menyatakan bahwa untuk mencari “Yesus bagi Orang Non Religius” langkah yang harus dilakukan adalah “Yesus dipisahkan sampai ke akar-akarnya dari teisme” (hlm. 270).   Dalam bab ini Spong juga memperlihatkan bagaimana teisme itu bisa menjadi sumber kemarahan religius.  Karena ada pemahaman tertentu tentang Allah maka orang dapat membenci orang lain, menganiaya dan menindas orang lain. Ketika Allah dipahami sebagai Allah suku (A tribal God) maka Allah selalu menjadi pemberi legitimasi terhadap prasangka dan bahkan konflik dengan mereka yang dianggap memiliki label berbeda. Allah pun dipersempit menjadi Allah penyelamat suku atau kelompok tertentu.Dengan demikian, Allah suku adalah Allah ciptaan manusia yang berpikiran sempit karena itu Allah pun didefinisikan secara sempit.

Karena itu dalam bab-bab selanjutnya Spong menawarkan pemahaman Allah secara luas, tentang Yesus yang tidak menindas yaitu:  Yesus yang merobohkan semua batasan kesukuan, ras, agama, dan prasangka. Yesus yang mendobrak semua kekakuan agama dan tradisi orang Yahudi pada saat Ia hidup.  Baginya Yesus adalah “Penghancur Batas Kesukuan” (Bab 22), “Penghancur Prasangka dan Sterotip” (Bab 23), “Penghancur Batas Keagamaan” (Bab 24).  Untuk menjadi Yesus yang demikian memang tidak diperlukan mujizat atau hal-hal yang supranatural


III.              IV.  Penutup: Kritik dan Tanggapan

Tulisan Spong sebenarnya tidaklah begitu “menghebohkan”, apalagi sampai “mengguncangkan iman”. Bagi mahasiswa teologi,  yang telah belajar “teologi kontemporer” dan telah belajar tentang berbagai macam metode menafsirkan Alkitab, atau berbagai macam pendekatan terhadap Alkitab, apa yang telah dilakukan Spong bukanlah hal baru.  Dapat dikatakan tidak ada teori baru yang ditemukan oleh Spong.
Tulisan Spong berharga karena ia telah mengkritik gaya hidup Kekristenan yang cenderung seremonial, sok sibuk dan sok penting mengurus Allah, yang sebenarnya sangat maha kuasa dan tidak perlu diurus apalagi dibela oleh manusia.  Sebagai seorang Kristen progresif,  Spong tidak mau repot dengan tindakan “mengurus Allah” tersebut.  Ia ingin agar sosok Yesus menjadi saluran transendensi, sosok manusia yang menyatu dengan sumber hidup, pengungkap sumber cinta, suatu makhluk baru yang membuat gamblang Landasan Semua Keberadaan [The Ground of All Being]. Ia adalah suatu kehadiran Ilahi, bukan suatu manusia-ilahi mitologis; suatu manusia yang lengkap, yang menjadi kehidupan yang melaluinya kuasa sepenuhnya dari realitas keilahian Tuhan dapat muncul dalam sejarah manusia.
Namun kita juga harus waspada dengan pendekatan Spong yang “membangun yang baru dengan menghancurkan yang lama”.  Proses penghancuran itu memang dapat menyakiti perasaan keagamaan kita, bahkan dapat mendatangkan krisis kepercayaan terhadap agama. 

Saya setuju dengan figur Yesus Sejarah yang digambarkan Spong, dan figur Yesus begitulah yang saya imani, saya ajarkan di kelas teologi  dan saya khotbahkan di mimbar gereja.  Tetapi hal itu saya dapati dengan mempelajari Alkitab secara kritis sama seperti Spong, tetapi tanpa harus seperti Spong yaitu .......menghina mujizat, dan melihat Alkitab bukan sebagai Firman Allah.





Daftar Pustaka

Borg, Marcus J. 2000.  Kali Pertama Jumpa Yesus Kembali, Yesus Sejarah dan Hakikat Iman Kristen Masa Kini, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000;
Eckart. A. Roy . 1996.  Menggali Ulang Yesus Sejarah: Kristologi Masakini, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996
Conn, Harvie M. 1988  Teologia Kontemporer. Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara.
Oranje, L. 2004.  Sejarah Ringkas Theologia Abad XX. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Minggu, 11 Januari 2015

ADAT KAWIN DAN KAWIN ADAT (Bagian 1)


ADAT KAWIN DAN KAWIN ADAT:
HUBUNGAN INJIL  DAN ADAT
DALAM KONTEKS PELAKSANAAN  RITUAL DAN UPACARA PERKAWINAN
DI KALANGAN MASYARAKAT DAYAK NGAJU 
ANGGOTA GEREJA KALIMANTAN EVANGELIS

Oleh: MARKO MAHIN



A.    Hubungan Positif : Hanya Adat Kawin

Dalam beberapa literatur yang terakses diperlihatkan bahwa para pendeta Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) pada masa kini cukup positif memandang adat dan hukum adat Dayak sehubungan dengan pelaksanaan upacara perkawinan  Hermogenes Ugang (1983) memperlihatkan bahwa  kekristenan berkesinambungan dengan adat Dayak Ngaju, bahkan adat sama luhurnya, pararel atau “punya martabat yang sama” dengan kekristenan. Karena itu maka orang Dayak Kristen menggunakan keduanya yaitu baik adat dan hukum  adat serta kekristenan dalam pelaksanaan upacara perkawinan.  Mereka mengambil-alih beberapa unsur-unsur Kaharingan untuk membenah keluhuran Kristen, yaitu memanfaatkannya atau menggunakannya dalam hidup kekristenannya. Mereka menelusuri jalur-jalur adat leluhur suku untuk dialihkan kepada atau diisi dengan iman Kristen (1983: 78-84).


J.J. Songan (1992) dalam Disertasi Doktoralnya yang berjudul Cohesive Aspects Of Ngaju Dayak Marital Tradition, menyatakan bahwa:
  1. Ide perkawinan suku Dayak Ngaju mengacu kepada pandangan tentang manusia yang berorientasi pada sesama.
  2.  Ide perkawinan suku Dayak Ngaju mengarahkan modernisasi ke tema kebersamaan.
  3. Ide perkawinan suku Dayak Ngaju mengubah sikap egosentris ke sikap agape, dalam artian teologis.
  4.  Ide perkawinan suku Dayak Ngaju mengutamakan perwujudan bentuk kehidupan yang ditebus ilahi dalam artian teologis.
  5.  Ide perkawinan Ngaju mengobarkan hakikat gotong-royong. 

 Ia juga mengungkapkan satu istilah tentang hubungan antara pemenuhan hukum adat dan kekristenan yaitu “hatuli” yang artinya suatu tindakan menyatukan diri dan didasari pada sikap saling pengertian satu sama lainnya. Menurutnya nilai hatuli senafas dengan sikap kristiani  yang terdapat dalam Filipi 2:1-4 tentang kenosis atau pengosongan diri.  Ia mengatakan bahwa kebudayaan suku Dayak Ngaju dapat menjadi alat tumpuan kasih kristiani serta sumber kristiani untuk  mendapatkan kasih Allah.  Karena itu ia mendorong agar  gereja memulihkan hubungan serta mencari titik kontak dengan aspek-aspek kebudayaan adat Dayak Ngaju yang dapat diberi arti secara Kristiani (1990:350).


Sementara Fridolin Ukur (1960: 128) melaporkan bahwa sebenarnya Gereja Kalimantan Evangelis telah mengambil alih beberapa segi adat nikah yang dianggap baik dan tidak bertentangan dengan kepercayaan Kristen.  Menurutnya segi adat yang telah diterima oleh gereja.  Penerimaan itu tampak pada upacara perkawinan orang Dayak yang telah beragama Kristen yaitu sebelum dilangsungkan upacara peneguhan dan pemberkatan nikah di gedung Gereja atau di gedung lainya, maka perkawinan itu harus lebih dahulu disahkan di hadapan hukum yang dalam hal ini di depan adat, dimana ditandatangani suatu Surat Perjanjian Perkawinan di depan orang lain dan saksi-saksi, serta dihadiri dan disaksikan pula oleh kepala kampung atau kepala adat dan surat ini diyakini sah sebagai surat perkawinan Burgerlijke Stand (BS).

Apa yang dipaparkan oleh ketiga orang di atas, semakin diperkuat oleh  tulisan terbaru  dari Januaria Simpan (2011) dengan judul Pemenuhan Hukum Adat Perkawinan di Kalangan Warga GKE Yerusalem Resort Palangka Raya,  Kalimantan Tengah.  Skripsi ini, yang dipertahankan di STT-GKE Banjarmasin, memaparkan bagaimana warga jemaat GKE melihat bahwa:
  1. Pemenuhan hukum adat perkawinan itu tidak mengganggu iman Kristennya.
  2. Alkitab atau ajaran Kristen tidak bertentangan dengan adat.
  3. Menjadi Kristen bukan berarti tidak lagi memenuhi hukum adat.
  4. Pemenuhan hukum adat perkawinan adalah bagian dari praktik iman.
  5. Pemenuhan hukum adat ini adalah sebagai sesuatu yang bersifat positif dan tidak mengganggu kepercayaan.
  6. Petuah atau nasehat dari orang tuah (papeteh) dan tampung tawar merupakan salah satu nilai adat yang bisa diakomodasi dan dianggap sebagai doa serta penguat iman. 
  7. Pemenuhan hukum adat perkawinan itu positif, kerena melamar atau menikahi bukan seperti membeli hewan, tetapi mengambil dari tangan orang tuanya.  Hal itu sebagai tanda bahwa seorang laki-laki menghargai orang tua yang telah membesarkannya dan juga menjadi nilai perkawinan itu sendiri, serta menandakan bahwa perempuannya tidak ternilai. 



Juga dilaporkan bahwa beberapa anggota jemaat menolak penggunaan darah dan acara hasaki hapalas, manawur, dan menginjak telur dalam upacara perkawinan. Bahkan ditemukan ada warga jemaat yang tidak melaksanakan prosesi pemenuhan hukum adat perkawinan secara penuh. yang dikenal Palaku atau jalan hadat diserahkan begitu saja kemudian berangkat  ke gereja dan catatan sipil saja. Hal itu dilakukan dengan alasan bahwa prosesi itu tidak mutlak, hanya pilihan, bukan keharusan.  Namun pada sisi lain,  ada juga warga jemaat yang jemaat menganggap bahwa pemenuhan hukum adat, pemberkatan nikah dan catatan sipil itu sama pentingnya dan memiliki fungsi masing-masing, namun semuanya itu tidak ada hubungannya atau tidak saling bersentuhan.  Baik pemenuhan hukum adat maupun catatan sipil dilihat bisa saja dilaksanakan satu per satu, namun dianggap sama sekali tidak akan mengganggu iman Kristen mereka.

Pelaksanaan pemenuhan hukum adat perkawinan selalu diiringi dengan kebaktian atau ibadah yang disebut dengan ibadah pengucapan syukur. Bagi warga jemaat ibadah itu adalah bentuk pengakuan gereja akan adat dan identitas suku. Dengan adanya ibadah maka  gereja berkontribusi turut menghidupkan identitas suku.

Sebagai kesimpulan Januaria Simpan (2011: 87) menyatakan  bahwa orang-orang Dayak Kristen masa kini telah cerdas dalam memilih dan menyeleksi mana yang perlu diadopsi dari adat dan mana yang harus ditinggalkan.  Mereka bukan menjalankan paham sinkritisme, melainkan lebih melaksanakan adat yang bertujuan untuk menunjukan identitas dan jati dirinya sebagai orang Dayak Ngaju.  Dalam pelaksanaan perkawinan itu, pada dasarnya jemaat lebih mengutamakan kekristenan, dimana disetiap akhir acara-acara adat akan selalu ditutup dengan acara kebaktian ucapan syukur.

Mungkin ada pertanyaan apakah dampak dari pengambil-alihan, memilih dan menyeleksi yang dilakukan oleh warga GKE itu?  Adalah bijak untuk membaca hasil penelitian dengan judul Kaharingan: Perjuangan Masyarakat Adat Dayak Ngaju di Kabupaten Kotawaringin Timur, Dahulu dan Sekarang yang dilakukan oleh Damardjati Kun Marjanto (2011:113-114) sbb.:



Pengaruh agama Kristen terhadap penganut agama Kaharingan sangat kuat sehingga pada waktu lalu banyak penganut Kaharingan yang berpindah ke agama Kristen karena dalam praktik-praktik ritual keagamaan Kristen banyak mengadopsi ritual-ritual Kaharingan sehingga seolah-olah agama Kristen tidak jauh berbeda dengan agama Kaharingan, misalnya dalam ritual atau upacara perkawinan pada agama Kristen, mereka mengadopsi ritual Haluang Hapelek dan mengikuti Pelek Rujin Pengwin atau aturan-aturan perkawinan Nyai Idas Bulan Lisan Tingang yang  merupakan nama seorang Bidadari yang merupakan bagian dari cerita  yang ada di Kitab Panaturan. Menurut agama Kristen, hal itu merupakan upacara adat perkawinan, namun bagi para tokoh  Kaharingan yang faham tentang Kitab Panaturan, upacara Haluang  Hapelek tersebut bukan upacara adat namun upacara agama Kaharingan.